WONOSOBO, Cinta-news.com – Momen tenang warga mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika si jago merah mendadak mengamuk hebat di kawasan hutan Gunung Sumbing. Secara mengejutkan, peristiwa membara ini melahap lereng pegunungan yang masuk dalam wilayah administratif Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Selain itu, insiden kebakaran yang bikin geger ini pertama kali terdeteksi mengganas sejak Senin sore (19/10/2026). Alhasil, kabar mencekam tersebut langsung menyebar cepat dan mengejutkan warga sekitar hingga para pecinta alam di seluruh Nusantara.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendro Kustanto, memberikan konfirmasi mengejutkan terkait titik amukan si jago merah. Menurut beliau, amukan api yang sangat dahsyat tersebut melahap vegetasi di ketinggian ekstrem antara 2.500 hingga 2.709 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bahkan, hingga malam hari melanda kawasan tersebut, tim penyelamat belum berhasil mengendalikan lidah-lidah api yang terus menjalar liar.
Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Tim Penyelamat

Lebih lanjut, tantangan yang dihadapi oleh tim lapangan benar-benar luar biasa berat dan memicu ketegangan tinggi. Di satu sisi, kemiringan medan pegunungan yang sangat curam menghambat pergerakan pasukan penjinak api secara signifikan. Di sisi lain, hembusan angin kencang yang bertiup tajam justru makin menyiram minyak ke dalam kobaran api. Oleh sebab itu, kondisi kegelapan malam yang amat pekat akhirnya memaksa petugas untuk membatasi operasi pemadaman demi menghindari bahaya fatal.
“Memang benar sekali Mas, sejak tadi malam personel kita sudah mengerahkan segenap tenaga untuk memadamkan api secara manual, namun sayangnya usaha tersebut belum membuahkan hasil manis. Akibatnya, kita harus menyusun strategi baru dan melanjutkan aksi penanganan penuh pada hari ini,” tegas Sumekto saat memberikan keterangan resmi pada Selasa pagi (20/10/2026).
Oleh karena itu, jajaran BPBD Kabupaten Wonosobo tidak tinggal diam dan langsung menggandeng tim gabungan lintas instansi untuk mengendalikan situasi kritis ini. Bahkan, para petugas pemberani ini langsung nekat menerobos medan berbahaya demi melakukan upaya pemadaman manual secara intensif. Langkah nekat tersebut mereka ambil agar titik-titik api utama tidak terus merambat membakar vegetasi lindung di sekitarnya.
Saksi Mata Ungkap Asal Mula Kepulan Asap
Di samping itu, kronologi awal terkuaknya bencana hebat ini ternyata menyimpan cerita yang tidak kalah mendebarkan. Berdasarkan penuturan Sumekto Hendro Kustanto, informasi awal mengenai kepulan asap misterius tersebut sebenarnya pertama kali dilaporkan oleh seorang porter pendakian yang sangat berpengalaman. Sang porter melihat titik api saat melintasi jalur pendakian Gajah Mungkur di Desa Lamuk pada hari Senin kira-kira pukul 15.00 WIB.
Hingga saat ini, pihak berwenang memang belum bisa memastikan seberapa luas areal hutan asri yang telah melayang dilahap si jago merah. Kendati demikian, berdasarkan pemetaan awal lokasi bencana, pusat kobaran api tersebut terkonfirmasi berada tepat di petak 29. Wilayah tersebut secara teknis masuk dalam pengawasan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kleseman, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonosobo, di bawah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara.
“Kami menghadapi situasi yang amat sulit karena kondisi alam sama sekali tidak memungkinkan petugas untuk menggempar api di tengah kegelapan malam. Akibatnya, lidah api justru makin mengganas serta terus meluas karena dorongan angin yang bertiup sangat kencang,” tambah Sumekto dengan nada penuh kewaspadaan.
Selanjutnya, hingga dokumen laporan resmi ini tersusun rapi, estimasi mengenai total area hutan yang hangus masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Namun demikian, para petugas penyelamat dengan tegas mengambil sikap profesional untuk mengedepankan keselamatan jiwa personel serta para pendaki yang masih berada di kawasan pegunungan. Sementara itu, tim komando terus menyiapkan skenario pemadaman susulan yang jauh lebih terukur dan efektif.
Untungnya, kabar menenangkan datang dari BPBD Kabupaten Wonosobo yang mengonfirmasi bahwa insiden mengerikan ini sama sekali tidak menelan korban jiwa maupun korban luka-luka hingga Senin malam. Akan tetapi, para pemangku kepentingan tetap bersiap siaga tinggi lantaran amukan api berpotensi kian tidak terkendali dari waktu ke waktu.
Tak heran jika faktor cuaca ekstrem menjadi musuh utama yang amat menyulitkan langkah para relawan di lapangan. Terlebih lagi, hembusan angin yang sangat kencang di atas puncak gunung terus membuat arah lidah api berubah-ubah secara mendadak. Alhasil, proses isolasi kebakaran di wilayah ketinggian tersebut membutuhkan perhitungan matematis dan taktik super matang.
“Kobaran api sampai detik ini masih berlangsung mengganas dan terus meluas ke mana-mana. Oleh sebab itu, seluruh tim gabungan hari ini menyisir lapangan secara serentak, lalu kami pasti akan menyajikan pembaruan data hasil penanganan secepatnya,” janji Sumekto saat menutup pembicaraan.
Sinergi dan Apel Siaga Demi Padamkan Kobaran Api di Gunung Sumbing
Di lain pihak, asal-usul timbulnya percikan api pertama hingga kini masih menyisakan teka-teki besar yang terus diselidiki. Namun, berdasarkan data prakiraan cuaca akurat dari BMKG pada pukul 19.00 WIB, kondisi atmosfer di Gunung Sumbing berada pada suhu dingin sekitar 19 derajat Celsius dengan cuaca cerah berawan. Lebih mendebarkan lagi, BMKG merekam kecepatan angin yang berembus dari arah selatan mencapai angka lumayan fantastis, yakni 18,5 kilometer per jam!
Menyikapi situasi darurat ini, BPBD Kabupaten Wonosobo bersama seluruh jajaran terkait langsung mengeksekusi rencana aksi pemadaman susulan pada Selasa (20/10/2026). Bahkan, rangkaian operasi berskala besar ini mengawali kegiatannya dengan menggelar apel siaga pada pukul 07.00 WIB pagi. Langkah selanjutnya, komandan lapangan membagi personel ke dalam beberapa konsolidasi tim khusus agar pembagian tugas berjalan lebih presisi.
Tak tanggung-tanggung, aksi penanggulangan bencana kebakaran ini melibatkan sinergi raksasa dari berbagai elemen bangsa. Di antaranya mencakup personel BPBD Kabupaten Wonosobo, prajurit TNI, anggota Polri, pejabat Kecamatan Kalikajar, Perangkat Desa Lamuk, jajaran Perhutani, konsorsium pengelola basecamp pendakian, serta ratusan relawan gabungan yang sangat tangguh.
“Seluruh tim gabungan sepakat untuk terus menggenjot operasi pengendalian kebakaran hutan ini sampai tuntas. Tentunya, kami selalu menempatkan kalkulasi kondisi medan dan keselamatan nyawa personel sebagai prioritas tertinggi di atas segalanya,” pungkas Sumekto mengakhiri keterangannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











