Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Polda Kaltim Usut Dugaan Intimidasi Ajudan Gubernur, Sanksi Penarikan Menanti

Cinta-news.com – Berita panas mengejutkan publik Samarinda setelah pihak Polda Kalimantan Timur bergerak cepat menggandeng Satuan Brimob Polda Kaltim bersama Bidang Profesi dan Pengamanan buat mengusut tuntas dugaan aksi intimidasi liar yang menyeret nama Brigadir Polisi Satu ART, sosok ajudan kepercayaan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.

Lebih lanjut, Briptu ART diduga kuat nekat melancarkan aksi intimidasi fisik maupun verbal yang sangat tidak terpuji kepada sejumlah aktivis mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Samarinda pasca menggelar demonstrasi pada Senin sore kemarin.

Alhasil, kalau pemeriksaan Propam berhasil membuktikan adanya pelanggaran prosedur pengawalan pejabat publik, Briptu ART terancam menghadapi sanksi super berat berupa penarikan mendadak kembali ke markas kesatuan asalnya tanpa ampun.

Polda Kaltim Pasang Badan: Tegaskan Polisi Tidak Boleh Arogan

Menanggapi gejolak publik yang kian membara ini, Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi mengonfirmasi bahwa jajarannya emang lagi gencar membangun koordinasi lintas divisi bareng Bidang Propam Polda Kaltim demi membongkar fakta sebenarnya di lapangan.

“Kami lagi terus berkoordinasi intensif bareng kesatuannya serta Bidang Propam, lantas bakal langsung kami tindak tegas tanpa ada yang ditutup-tutupi,” ungkap Tedy saat menggelar keterangan pers resmi di Mapolda Kaltim pada Selasa pagi.

Selain itu, Tedy menegaskan kalau kelakuan arogan Briptu ART jelas-jelas menampar wajah institusi serta bertolak belakang dari instruksi tegas Bapak Kapolri yang ingin jajaran kepolisian merangkul hangat warga masyarakat lewat jargon anyar Polri Bersama Masyarakat.

“Anggota polisi nggak boleh sama sekali bersikap arogan kepada warga, nggak boleh bohong, dan wajib hukumnya menjunjung tinggi nilai keadilan di lapangan,” seru Tedy dengan nada sangat tegas.

Mengenai nasib karier Briptu ART ke depan, pihak Polda Kaltim mengaku masih menanti hasil akhir proses penyidikan internal yang lagi berjalan ketat di kesatuan asal Brimob tempat sang ajudan bernaung.

“Selanjutnya kita tinggal menunggu hasil pemeriksaan resmi dari kesatuannya, lalu bisa aja dia langsung ditarik dari posisi ajudan karena tindakannya jelas-jelas menabrak arahan Bapak Kapolri,” lanjut Tedy secara blak-blakan.

Awal Mula Bentrok: Bermula dari Unjuk Rasa Karhutla

Mula-mula, insiden memanas ini meletus tepat setelah para aktivis GMNI Samarinda merampungkan aksi unjuk rasa menuntut penuntasan masalah kebakaran hutan dan lahan yang terus mengepul parah di Kalimantan Timur pada Senin sore lalu.

Lantas, suasana damai mendadak berubah menjadi tegang di sekitar area Masjid Nurul Mu’minin, tepat di dalam lingkungan Kompleks Kantor Gubernur Kaltim saat massa mahasiswa bermaksud membubarkan diri secara tertib.

Tepat pada momen itulah, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mendadak tiba di lokasi halaman masjid buat menunaikan ibadah salat magrib dengan mendapat pengawalan ketat dua orang ajudan pribadinya.

Menurut kesaksian jujur dari aktivis GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati, rombongan massa mahasiswa sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh agenda aksi demonstrasi sejak jam enam sore WITA secara aman dan damai.

Kemudian, puluhan mahasiswa tersebut cuma melipir santai kembali ke titik kumpul massa sembari menunggu kumandang azan magrib reda sebelum akhirnya beranjak pulang ke rumah masing-masing.

Namun, kedatangan mendadak sang gubernur langsung memicu riak kekecewaan dari para mahasiswa yang sebelumnya merasa diabaikan lantaran Rudy Mas’ud sama sekali nggak mau menemui massa saat demo berlangsung panas di siang hari.

“Kami anak-anak GMNI sebenarnya nggak ada bikin ulah macam-macam, kami cuma duduk-duduk santai aja di situ karena emang udah siap-siap mau balik ke sekretariat,” beber Rossa menceritakan suasana awal.

Lebih jauh, Rossa mengaku cuma menggunakan HP pribadinya buat mengabadikan momen kedatangan sang pejabat, tanpa ada sedikit pun niat atau aksi massa buat menghadang langkah gubernur menuju pintu Masjid Nurul Mu’minin.

Kesaksian Korban: Dari Celetukan Protes Berujung Kontak Fisik

Akan tetapi, situasi berubah mengejutkan tatkala Rudy Mas’ud malah mendatangi posisi Rossa secara langsung usai mendengar lontaran pertanyaan bernada protes mengenai alasan ketidakhadirannya saat demonstrasi tadi.

“Padahal aku cuma sekadar celetuk nanya kenapa tadi siang nggak sudi menemui massa aksi, tapi eh dia malah langsung menghampiri kami cuma buat menjawab celetukan itu,” tutur Rossa dengan nada heran.

Akibatnya, gesekan panas malah meletus tepat setelah sang gubernur berjalan melewatinya, di mana salah satu ajudan pengawal mendadak melakukan tindakan kasar terhadap ponsel yang lagi dipegang Rossa buat merekam video.

“Padahal posisi tangan aku nggak menyentuh fisik siapa pun, bahkan aku sama sekali nggak ada menodongkan HP ke arah wajah Rudy Mas’ud,” seru Rossa membela diri atas perlakuan represif tersebut.

Mencekamnya situasi tak berhenti di situ, kader GMNI Samarinda lainnya bernama Ridwan membeberkan kalau emosi massa di lokasi langsung membakar suasana akibat menyaksikan perlakuan kasar ajudan tersebut.

Tak cuma itu, Ridwan menegaskan kalau ledakan protes spontan saat itu nggak cuma datang dari dirinya aja, melainkan meletus dari puluhan pasang mata mahasiswa lain yang menyaksikan kekerasan fisik di pelataran masjid tersebut.

Malah, Ridwan mengalami langsung tindakan intimidasi fisik saat salah seorang ajudan mendadak berlari menghampirinya dari jarak yang terbilang cukup jauh di area parkir masjid.

“Bukannya bicara baik-baik, dia malah langsung lari mendekati aku dari jauh, terus tiba-tiba langsung mem-body fisik aku dengan keras,” tegas Ridwan menutup kesaksiannya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *