Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Media Negara Tetangga Soroti Sikap Indonesia Soal Bantuan Pemadaman Karhutla

JAKARTA, Cinta-news.com — Publik Asia Tenggara mendadak dibuat heboh oleh langkah berani yang diambil oleh pemerintah Indonesia saat ini. Pasalnya, berbagai media berita ternama di kawasan ASEAN mendadak kompak menyoroti sikap resmi pemerintah Republik Indonesia yang terkesan mengulur waktu dan belum juga menyambut uluran tangan bantuan internasional. Padahal, dua negara tetangga terdekat, yakni Malaysia dan Singapura, sudah secara terbuka menyatakan kesiapan penuh mereka untuk menerjunkan bala bantuan demi memadamkan krisis kebakaran hutan dan lahan yang kian membara di berbagai pelosok nusantara.

Selanjutnya, setidaknya ada tiga raksasa media asing ternama, yaitu Scoop Malaysia, Channel News Asia asal Singapura, serta New Straits Times dari Malaysia, yang secara serentak membongkar fakta bahwa seluruh paket bantuan darurat dari negara sahabat ternyata masih tertahan di balik meja birokrasi.

Namun demikian, pihak pemerintah Indonesia dengan sangat percaya diri melontarkan alasan yang cukup mengejutkan publik internasional. Sebab, para pejabat di Jakarta menegaskan bahwa armada penanggulangan dalam negeri sejauh ini masih amat sanggup mengatasi amukan si jago merah menggunakan sumber daya lokal, sehingga Indonesia merasa sama sekali belum perlu menaikkan eskalasi krisis ini menjadi status bencana nasional.

Scoop Malaysia Bongkar Alasan Status Bencana Nasional yang Bikin Melongo

Melalui artikel beritanya yang sangat menyita perhatian dengan tajuk “‘Not a national disaster’: Indonesia holds back foreign offers to fight fires, haze”, media Scoop Malaysia secara tajam menguliti pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman. Lebih lanjut, portal tersebut membeberkan alasan utama mengapa Indonesia belum mau memanggil pasokan bantuan udara luar negeri, yakni karena pemerintah pusat belum meresmikan musibah karhutla hebat ini sebagai sebuah krisis bencana skala nasional.

Bahkan, Dudung secara gamblang menyatakan bahwa jajaran pemerintah Indonesia masih menyimpan keyakinan yang sangat kokoh untuk melumpuhkan kobaran api dengan mengandalkan seluruh potensi internal. Di samping itu, beliau menepis anggapan bahwa Indonesia hanya sekadar gengsi menolak pertolongan, melainkan memaparkan fakta logis tentang kerumitan teknis di medan tempur lapangan, mulai dari masalah kerumitan rantai distribusi bahan bakar armada pengebom air hingga hambatan logistik darat yang sangat menantang.

Selain itu, laporan Scoop secara rinci menambahkan bahwa Dudung sebenarnya menjamin pintu bantuan dari Malaysia akan langsung terbuka lebar sekiranya eskalasi kondisi memaksa Indonesia menetapkan keadaan darurat bencana nasional.

Tak cuma itu, media tersebut juga langsung memperlihatkan dampak mengerikan dari asap karhutla yang mulai meracuni langit Malaysia. Faktanya, hingga Senin malam (19/10/2026) jam delapan waktu setempat, sebanyak 27 wilayah di Malaysia mendadak mencatat Indeks Pencemaran Udara pada level yang amat tidak sehat antara angka 101 sampai 200, di mana kawasan padat seperti Johor, Melaka, Selangor, Negeri Sembilan, hingga ibu kota Kuala Lumpur menjadi korban terparah.

Lebih mengejutkan lagi, lonjakan titik panas di bumi Indonesia tercatat meroket sangat dahsyat hingga lebih dari empat kali lipat hanya dalam hitungan jam. Di mana pada hari Minggu (18/10/2026), jumlah titik panas melesat fantastis mencapai angka 1.104 titik bila kita bandingkan dengan deretan angka di hari sebelumnya.

Ternyata, wilayah Pulau Kalimantan menjadi penyumbang titik api paling membara lantaran terkepung amukan karhutla dalam kurun waktu yang jauh lebih lama. Maka dari itu, kawasan Kalimantan Tengah beserta Kalimantan Barat kini resmi menyandang status sebagai dua dari enam wilayah prioritas utama penanganan darurat, sejajar dengan wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, serta Riau.

Oleh sebab itu, Scoop membongkar fakta bahwa racun asap di sekeliling Kalimantan Tengah kini sudah menembus level sangat tidak sehat hingga mencapai zona berbahaya bagi paru-paru warga. Sementara di area tetangganya, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, kondisi udaranya juga terus merosot tajam memasuki kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

New Straits Times Kupas Habis Tawaran Mewah Malaysia yang Terbengkalai

Sementara itu, media kenamaan New Straits Times ikut memanaskan suasana lewat pemberitaan berjudul “Indonesia puts offers from Malaysia, others to combat forest fires on hold”. Melalui ulasan tersebut, mereka menegaskan betapa gigit jarinya negara-negara tetangga yang tawarannya terpaksa terhenti di ruang tunggu akibat belum adanya stempel bencana nasional dari Jakarta.

Padahal, media New Straits Times menggarisbawahi betapa seriusnya pemerintah Malaysia yang telah menyiapkan armada tempur udara terbaik mereka untuk menerobos kabut asap Indonesia.

Bahkan, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, secara gamblang membeberkan paket bantuan super lengkap berupa satu unit pesawat pemadam Bombardier CL-415MP, tiga helikopter tempur air, serta 50 personel pemadam terlatih, yang siap meluncur detik itu juga begitu izin resmi Indonesia diterbitkan.

Rupanya, tawaran fantastis ini sudah terlontar langsung sejak pertemuan empat mata antara Ahmad Zahid dan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada 18 September lalu. Menurut ulasan New Straits Times, Presiden Prabowo sejatinya menyambut hangat janji bantuan tersebut waktu itu.

Selanjutnya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada hari Minggu kembali menegaskan komitmen pantang menyerah negaranya untuk membantu Indonesia keluar dari krisis asap.

Oleh karena itu, Anwar secara aktif mendorong pembentukan机制 kerja sama khusus di tingkat ASEAN agar seluruh negara anggota bisa berkoordinasi dengan sangat cepat dalam memadamkan ancaman kabut asap lintas batas ini.

Namun demikian, New Straits Times kembali mengutip penegasan dari Menko Polkam Dudung Abdurachman yang tetap kukuh menyatakan bahwa Indonesia masih sangat sanggup menyelesaikan amuk api ini dengan kekuatan dalam negeri sendiri.

CNA Buka Suara Soal Perbedaan Statement Pejabat Indonesia

Di sisi lain, media ternama Singapura, CNA, lewat rilis beritanya “Indonesia holds off on foreign help to fight forest fires, says it can manage on its own”, justru menyoroti adanya kejanggalan berupa simpang siur pernyataan di lingkaran pejabat tinggi Indonesia. Pasalnya, bantuan internasional tampak digantung, padahal Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir sebelumnya sempat mengklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto sudah memberi lampu hijau.

Bahkan, CNA mengutip ucapan Arrmanatha pada 15 Oktober yang menegaskan bahwa sang Presiden telah memberi restu penuh, bahkan tim teknis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana disebut-sebut sedang mematangkan eksekusi bantuan di lapangan.

Akan tetapi, situasi mendadak berbalik arah ketika Dudung memberikan konfirmasi terbaru pada Senin (19/10/2026) pasca-rapat menteri di Jakarta, di mana beliau secara tegas menyatakan bantuan asing baru boleh masuk kalau status bencana nasional resmi ditetapkan.

Meski begitu, CNA juga mengungkapkan fakta bahwa pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam, melainkan telah mengerahkan pasukan raksasa sebanyak 60.000 personel di enam provinsi rawan demi memadamkan titik api secara mandiri.

Sementara itu dari sudut pandang Singapura, CNA mengutip pernyataan Menteri Senior K Shanmugam yang mengapresiasi dan menyambut baik sinyal persetujuan dari Presiden Prabowo.

Bahkan, Shanmugam yang memegang posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Keamanan Nasional menekankan bahwa Singapura selalu siap pasang badan untuk menyokong langkah pemadaman Indonesia.

Selain itu, Shanmugam mengacungi jempol beberapa gebrakan tegas pemerintahan Prabowo, mulai dari perombakan pimpinan lembaga penanggulangan bencana, larangan keras pembakaran lahan gambut, hingga strategi pencegahan karhutla jangka panjang.

Akhirnya, CNA menutup laporannya dengan mengutip komitmen Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong yang berjanji akan terus bergandengan tangan bersama Indonesia dan mitra ASEAN demi menuntaskan krisis kabut asap ini sampai tuntas.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *