MAGETAN, Cinta-news.com – Pemandangan mengejutkan kini terjadi di Pasar Sayur Magetan, Jawa Timur. Bayangkan, minyak goreng subsidi andalan rakyat kecil, MinyaKita, mendadak langka bagaikan ditelan bumi! Para pedagang pun kelimpungan karena kondisi ini semakin parah dari hari ke hari.
Di saat stok minyak murah rakyat menghilang, ironisnya harga minyak goreng non-subsidi justru melambung tinggi bak roket. Akibatnya, para pedagang dan pelaku usaha kecil terpaksa jungkir balik beradaptasi agar usaha mereka tidak kolaps di tengah badai kenaikan harga.
Stok Menipis, Pedagang Sembako Mengeluh Pahit
Coba bayangkan kegalauan Purwaningsih, seorang pedagang sembako di Pasar Sayur Magetan. Ia dengan jujur mengakui bahwa stok MinyaKita di lapaknya nyaris tak pernah tersedia dalam jumlah yang cukup. Tragis, bukan?
Dengan nada kesal, ia menjelaskan bahwa sebenarnya distribusi dari pemerintah tetap berjalan, tetapi jumlahnya sangat terbatas—mirip seperti memberikan setetes air di tengah padang pasir. “Dapat dari pemerintah ya murah, harganya cuma Rp 15.700 per liter. Tapi sedikit sekali,” ujar Purwaningsih dengan wajah kecewa, Selasa (5/5/2026). “Kadang seminggu sekali ada, kadang sampai dua minggu baru datang,” tambahnya sambil menghela napas panjang.
Lebih parah lagi, pemerintah juga membatasi pembelian minyak subsidi tersebut sesuai jatah yang telah ditentukan. Pedagang tidak bisa mengambil dalam jumlah banyak meskipun mereka sangat membutuhkan. Karena pembatasan ini, stok cepat habis dalam sekejap mata. Akhirnya, para pedagang terpaksa mencari pasokan dari luar dengan harga yang jauh lebih mahal. “Kalau ada hanya diberi satu karton atau dua karton,” jelasnya.
Lantas, bagaimana solusi yang ditempuh Purwaningsih? Ia terpaksa membeli minyak dari distributor luar meskipun harganya selangit. “Kalau ambil dari luar ya sudah mahal, sudah Rp 240.000 satu karton isi 12,” keluhnya. “Dulu saya jualnya Rp 18.000, sekarang terpaksa saya jual sudah Rp 21.000. Itupun barangnya tetap tidak ada,” pungkasnya dengan nada putus asa.
Minyak Subsidi Nyaris Punah, Pedagang Beralih ke Non-Subsidi
Nasib serupa juga dialami oleh Putri Purwanti, pedagang minyak goreng lainnya di Pasar Sayur Magetan. Ia mengabarkan kabar buruk bahwa MinyaKita nyaris menghilang total dari lapaknya dalam beberapa waktu terakhir. Konsumen pun kebingungan mencari minyak murah untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena kelangkaan parah ini, Putri terpaksa beralih menjual minyak non-subsidi. Namun, masalah belum berakhir—harga minyak non-subsidi terus merangkak naik dengan gila-gilaan, terutama setelah perayaan Lebaran berlalu. “Semua minyak naik sekitar Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per liter,” ungkap Putri dengan ekspresi gelisah.
Ia memberikan contoh nyata: “Sunco yang sebelumnya Rp 21.000, sekarang melonjak menjadi Rp 23.000.” Anehnya, meskipun MinyaKita sangat sulit didapatkan, warga tetap mencarinya karena harganya yang murah. Namun, Putri mencoba menawarkan alternatif. “Seperti minyak goreng Fortune, beda Rp 1.000 tapi lebih baik kualitasnya. Tidak cepat keruh dan lebih awet untuk menggoreng,” jelasnya mencoba membujuk calon pembeli.
Pedagang Onde-Onde Mini Terpaksa Naikkan Harga, Pelanggan Mulai Berkurang!
Dampak kelangkaan MinyaKita dan lonjakan harga minyak goreng langsung menghantam keras pelaku usaha kecil. Wawan, pedagang onde-onde mini yang biasa berjualan di Jalan A Yani Magetan, mengaku gigit jari dan terpaksa menaikkan harga jual produknya. Ia tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan usahanya.
Wawan sudah berpikir keras untuk mengurangi ukuran onde-onde, tetapi ia sadar itu mustahil dilakukan. “Kalau diperkecil lagi tidak mungkin,” tegasnya. “Ukuran onde-onde saya sudah kecil dari awal justru untuk menekan biaya produksi.” Jadi, apa solusi satu-satunya? “Ya menaikkan harga,” jawabnya singkat.
Dulu, konsumen bisa menikmati lima biji onde-onde hanya dengan Rp 2.000. Sekarang, mereka harus merogoh kocek lebih dalam. “Sekarang satu biji Rp 500,” ungkap Wawan dengan nada getir. Ia menjelaskan bahwa keputusan menaikkan harga ini bukan hanya karena minyak goreng yang mahal. Harga plastik pembungkus juga ikut naik dan memperparah keadaan.
Wawan mengaku sudah pasrah karena tidak bisa lagi mengandalkan minyak subsidi yang langka. “MinyaKita susah didapat,” keluhnya. “Jadi, saya pakai minyak yang ada di pasaran, meskipun harganya lebih mahal,” pungkasnya dengan ekspresi lelah.
Strategi Bertahan: Memperkecil Ukuran, Bukan Menambah Harga!
Sementara Wawan memilih menaikkan harga, Wahyuni mengambil jalur berbeda. Pedagang gorengan yang menjual bakwan, tahu goreng, dan tempe goreng ini mengaku takut kehilangan pelanggan jika berani menaikkan harga jual. Ia memilih strategi yang lebih aman untuk tetap bertahan di tengah badai.
Dengan ekspresi khawatir, Wahyuni menjelaskan alasannya. “Kalau harga dinaikkan, takut tidak ada yang beli,” ujarnya jujur. “Sekarang saja pembeli sudah mulai berkurang,” tambahnya sembari menatap lapaknya yang sepi. Ia lebih memilih mengurangi porsi daripada mengusir pelanggan setianya dengan harga yang lebih tinggi.
Menurut pengakuan Wahyuni, kenaikan harga minyak goreng berdampak langsung dan brutal pada biaya produksi hariannya. Setiap kali menggoreng, ia harus berpikir dua kali karena minyak cepat habis dan mahal. Namun, ia tetap berusaha mati-matian mempertahankan harga lama agar dagangannya tetap diminati masyarakat.
Lantas, apa trik licik yang ia gunakan? “Terpaksa ukuran yang dikecilkan, biar harga tetap sama,” pungkas Wahyuni dengan nada pasrah namun penuh perjuangan. Ia lebih memilih mengurangi ukuran bakwan dan tahu gorengnya daripada membuat pelanggan kabar karena harga naik. Sebuah pilihan sulit yang mencerminkan kerasnya kehidupan pedagang kecil di tengah kelangkaan MinyaKita.
Kisah para pedagang di Magetan ini menjadi cermin pahit bagaimana kebijakan distribusi minyak subsidi yang kacau berdampak nyata pada perekonomian masyarakat kecil. Mereka terus berjuang dengan segala cara—naikkan harga atau perkecil ukuran—hanya agar bisa tetap bertahan menyambung hidup.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
