MAMUJU, Cinta-news.com – Badai krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, rupanya kini benar-benar membawa dampak sangat serius bagi keberlangsungan roda ekonomi warga pesisir. Di samping itu, kelangkaan pasokan BBM ini dengan cepat melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat yang mengandalkan kekayaan laut demi bertahan hidup.
Oleh karena itu, sebanyak 50 armada kapal nelayan lokal terpaksa tak dapat melaut dan hanya bersandar pasrah di area pelabuhan akibat kehabisan pasokan solar selama satu pekan belakangan. Akibatnya, dermaga yang biasanya ramai oleh aktivitas ekonomi kini berubah menjadi kawasan mati yang dipenuhi deretan kapal tanpa kepastian operasional.
Selain merugikan pemilik armada, kondisi kritis ini tentu saja langsung berimbas buruk pada mata pencaharian harian ratusan anak buah kapal (ABK). Oleh sebab itu, para buruh laut ini mendadak kehilangan mata pencaharian utama untuk menafkahi keluarga mereka di rumah.
Selanjutnya, jika kita mengalkulasi setiap kapal yang memuat hingga 11 orang pekerja, maka diperkirakan ada sekitar 500 sampai 600 nelayan kini resmi tidak memiliki penghasilan harian. Malahan, tingkat kecemasan keluarga pesisir semakin meroket seiring dengan menipisnya tabungan simpanan mereka untuk membeli bahan pokok.
Seminggu Terjebak Tanpa BBM, Lautan Mamuju Mendadak Sepi Nyaris Tanpa Aktivitas!
Di sisi lain, Ketua Nelayan Mamuju, Andi Busman Anwar, mengungkapkan bahwa kelangkaan solar ini terjadi secara merata dan menghantam para nelayan, terutama mereka yang mendiami kawasan Lembang dan sekitarnya. Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa fenomena krisis BBM ini merupakan musibah terparah yang pernah menimpa wilayah operasional mereka.
“Sebab, kami sudah satu minggu tidak bisa melaut murni akibat ketiadaan solar di pasaran. Dampak buruk kelangkaan ini terjadi secara menyeluruh, tidak cuma merugikan satu atau dua perahu saja, tetapi mematikan hampir 50 armada kapal di kawasan Lembang,” tutur Andi saat memberikan keterangan langsung pada Selasa (13/10/2026).
Putus Asa Tak Bisa Melaut, Nelayan Beralih Urus Perahu Hingga Nekat Pulang Kampung
Melihat ketidakpastian yang berlarut-larut ini, sebagian nelayan lantas mengalihkan rutinitas harian mereka di darat, contohnya dengan membersihkan serta merawat lambung perahu tangkap. Langkah ini mereka lakukan semata-mata demi mengisi waktu luang agar armada perahu tetap terawat selama masa tunggu pasokan bahan bakar.
Namun demikian, tidak sedikit pula nelayan yang akhirnya mengambil keputusan nekat untuk pulang ke kampung halaman masing-masing lantaran frustrasi akibat ketidakpastian pasokan BBM. Oleh sebab itu, banyak pekerja perikanan yang memilih pergi meninggalkan pelabuhan demi menekan tingginya biaya hidup harian di rantau.
“Oleh karena itu, daripada para anggota terus menunggu jadwal kapal tanpa ada kepastian gara-gara solar langka, sebagian besar nelayan kami bahkan sudah memilih pulang ke kampung halaman saja,” imbuh Andi memberikan gambaran keputusasaan para nelayan.
Padahal, jika kita cermati secara mendalam, sektor perikanan merupakan salah satu penopang utama dan penggerak roda perekonomian terbesar bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Mamuju maupun Provinsi Sulawesi Barat secara menyeluruh. Akibatnya, kemacetan di sektor ini berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi daerah.
Surat Rekomendasi Resmi Tak Mempan di SPBU, Nelayan Malah Diusir Halus!
Lebih jauh lagi, Andi menjelaskan bahwa para nelayan sebenarnya telah mengantongi lembaran surat rekomendasi resmi untuk pembelian solar yang dikeluarkan langsung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Secara teoritis, dokumen resmi ini seharusnya menjamin kemudahan akses mereka dalam mendapatkan alokasi bahan bakar subsidi.
Akan tetapi, lembaran rekomendasi dinas tersebut nyatanya sering kali tak berguna saat mereka mencoba membeli solar di SPBU atau SPBN mitra yang ditunjuk. Malahan, usaha mereka menukarkan surat resmi tersebut kerap berakhir sia-sia tanpa hasil di lapangan.
Dalam hal ini, pihak pengelola SPBU beralasan bahwa kuota pasokan BBM yang dialokasikan dari Pertamina memang tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh skala kebutuhan armada nelayan. Oleh karena itu, pengelola SPBU lebih memilih membatasi kuota penyaluran guna mengamankan konsumsi sektor darat.
“Sayangnya, surat rekomendasi yang dikoordinasikan oleh dinas tersebut ternyata tidak berlaku saat kami bawa ke Pertamina, sehingga kami tidak dilayani dengan alasan kapasitas kuota mereka tidak mencukupi,” terang Andi saat membeberkan fakta lapangan.
Sejalan dengan hal tersebut, satu unit kapal nelayan dengan kapasitas mesin sekitar 190 WK pada dasarnya membutuhkan sedikitnya 150 liter solar bersih hanya untuk melakoni sekali trip pelayaran. Oleh sebab itu, ritme kerja melaut nelayan sangat bergantung pada ketersediaan stok BBM cair berskala besar setiap harinya.
Jika diakumulasikan secara cermat, alokasi sebesar 2 ton solar per tiga bulan berdasarkan kuota surat rekomendasi dinas sejatinya masih sangat kurang, terlebih lagi saat ini musim tangkapan ikan sedang berada di puncak tertinggi. Akibatnya, nelayan terpaksa menjerit di tengah potensi rezeki laut yang melimpah.
“Alhamdulillah, volume tangkapan ikan sebenarnya sedang sangat bagus, sehingga otomatis frekuensi melaut dan kebutuhan solar kami semakin meningkat pesat. Namun sayangnya, ketika kami ke SPBU, kami justru sering tidak kebagian,” tambah Andi dengan nada penuh penyesalan.
Lantaran terdesak situasi, beberapa nelayan akhirnya terpaksa membeli solar dari pihak ketiga atau tengkulak dengan harga jauh lebih tinggi demi tetap bisa melaut, kendati langkah nekat tersebut secara perlahan menggerus pendapatan bersih rumah tangga mereka.
Meskipun demikian, para nelayan menegaskan bahwa mereka sejatinya tidak pernah mempermasalahkan standar patokan harga resmi dari pemerintah, asalkan pasokan BBM di lapangan dipastikan selalu tersedia secara lancar dan kontinyu.
Jeritan Nelayan Menggema: Desak Pemda dan Pertamina Tambah Kuota dan Bangun SPBN Baru!
Guna merespons benang kusut ini, para nelayan secara tegas mendesak Pemerintah Daerah bersama Pertamina untuk segera mengambil tindakan konkret, termasuk menambah jatah kuota pasokan BBM dan mendirikan SPBN baru di kawasan operasional utama nelayan.
“Oleh karena itu, harapan besar kami kepada pemerintah, tolong fasilitasi para nelayan ini secara nyata agar kami tidak terus-menerus menganggur. Kami memohon kerja samanya dengan pihak SPBU mitra untuk mendesak penambahan kuota dari Pertamina,” tegas Andi melayangkan desakan keras.
Selain itu, beliau juga sangat berharap pemerintah dapat membangun infrastruktur SPBN khusus nelayan di masa mendatang agar kendala kelangkaan pasokan BBM tidak terus berulang dan melumpuhkan kehidupan warga pesisir secara tragis.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











