Cinta-news.com – Tragedi mengerikan baru saja mengguncang perbatasan Sudan dan Mesir pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam insiden kelam ini, ledakan dahsyat dari udara mendadak menyapu pertambangan emas tradisional dan merenggut 72 nyawa pekerja tak berdosa dalam hitungan detik.
Gempuran udara membabi buta tersebut menghancurkan pertambangan emas Jabal al-Uqaydat. Terlebih lagi, lokasi penggalian maut ini terisolasi di sudut pegunungan yang lama menjadi ajang sengketa panas kedua negara.
Melihat pembantaian brutal ini, kelompok HAM Sudan, Emergency Lawyers, langsung menunjuk hidung Angkatan Udara Mesir sebagai biang kerok utama. Pasalnya, lembaga pemantau tersebut meyakini jet tempur Kairo sengaja menjatuhkan peledak ke arah penambang lokal.
Meskipun tuduhan berat dilayangkan, laporan AFP pada Minggu, 11 Oktober 2026 malam menegaskan bahwasanya klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Ditambah lagi, pihak pemerintah Mesir sendiri masih memilih bungkam tanpa merilis tanggapan resmi.
Melalui keterangan tertulisnya, Emergency Lawyers membeberkan fakta bahwasanya pemboman mendadak itu langsung menewaskan 72 penambang sipil. Alhasil, tim relawan di lapangan sampai detik ini masih harus bekerja ekstra keras demi memvalidasi data pasti seluruh korban tewas.
Jeritan Penambang yang Lolos dari Cengkeraman Maut
Di tengah kepulan debu membubung tinggi, dua pekerja tambang yang lolos maut menceritakan kembali betapa mencekamnya situasi saat gempuran udara pertama menghantam lokasi kerja mereka.
Saksi hidup, Abdelaziz Youssef, mengingat sangat jelas detik-detik saat pesawat jet tempur mendadak muncul di angkasa sekitar pukul 08.00 pagi. Tanpa peringatan, burung besi pembunuh itu langsung melepaskan lima kali gempuran bom membabi buta.
Dengan nada bergetar, Youssef menceritakan bahwa jet tempur melakukan manuver serangan sebanyak lima kali hingga meluluhlantakkan lokasi tambang. Akibatnya, banyak rekan sesama penambang langsung tewas seketika dengan kondisi mengenaskan.
Melihat kawannya tewas seketika, Youssef bersama beberapa penambang lain nekat berlari kencang memanjat tebing pegunungan terjal. Sebab, mereka dicekam rasa takut kalau pesawat misterius itu berputar balik menjatuhkan bom susulan.
Sementara itu, penyintas lain bernama Sharaf Ali membongkar fakta bahwa ada ribuan pekerja sipil yang sedang mengadu nasib mencari rezeki di kawasan pertambangan tersebut ketika pemboman meledak.
Maka dari itu, situasi lokasi tambang langsung berubah menjadi kegentingan masal di mana ribuan orang lari berhamburan menyelamatkan nyawa. Kebanyakan pekerja nekat menerobos medan gurun ganas menuju Pasar Al-Ansary di sebelah selatan Segitiga Halayeb.
Ali menjelaskan bahwa gempuran udara dahsyat tersebut memicu kepanikan luar biasa hingga membuat ribuan penambang terpencar ke berbagai penjuru. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti jumlah pasti korban tewas.
Bahkan, sewaktu melarikan diri dari kejaran maut di tengah gempuran bom, kedua saksi mata tersebut mengaku sempat menyaksikan sendiri pemandangan mengerikan berupa deretan jasad manusia bergelimpangan tak bernyawa di atas tanah gurun.
Mengingat lokasi pertambangan emas tersebut sangat jauh dari pusat kota maupun fasilitas medis, kedua penyintas menyimpan kekhawatiran mendalam bahwasanya masih banyak jasad kawan mereka terkubur di bawah tumpukan reruntuhan.
Bukan Insiden Pertama! Jejak Kelam Serangan Udara Sepanjang 2026
Setelah ditelusuri, tragedi berdarah di Jabal al-Uqaydat ini bukanlah peristiwa pertama, melainkan aksi gempuran udara mematikan kedua yang menghantam area pertambangan emas tersebut sepanjang tahun 2026.
Merunut peristiwa Juni lalu, aksi gempuran udara serupa yang juga mengarah pada militer Mesir sempat menelan korban jiwa hingga merenggut 23 nyawa pekerja di lokasi penggalian emas ilegal tersebut.
Biarpun jajaran militer Mesir tidak pernah memberikan pengakuan terbuka, namun mereka secara tegas memamerkan bahwa pihak keamanan telah menjalankan operasi pembersihan skala besar guna memberantas aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah perbatasan.
Langkah operasi militer masif tersebut alhasil berujung pada penangkapan 223 orang pelaku penambangan liar, yang mana 136 orang di antaranya ternyata merupakan warga negara asing penyusup ilegal.
Di saat bersamaan, pemerintah Mesir menyatakan bahwa seluruh rangkaian operasi keamanan mereka murni bertujuan menyapu bersih jalur penyelundupan senjata api rahasia serta menertibkan bisnis pertambangan haram di garis perbatasan.
Akan tetapi, dalih keamanan Kairo tersebut langsung dibantah keras oleh Emergency Lawyers yang menegaskan bahwa lokasi gempuran bom terbaru ini murni berada di dalam kedaulatan wilayah Sudan.
Lebih jauh lagi, kelompok advokasi HAM ini membongkar bahwa gempuran udara berulang di perbatasan kaya emas ini mencerminkan ambisi terselubung otoritas Mesir untuk memperluas serta memperkuat pengaruh kekuasaan atas sumber daya alam Sudan.
Segitiga Halayeb: Sengketa Panas Pertaruhan Harta dan Nyawa
Pada hakikatnya, eskalasi ketegangan berdarah ini berakar dari sengketa geopolitik berkepanjangan atas kepemilikan kawasan Segitiga Halayeb, sebuah wilayah pegunungan kaya mineral yang terus diperebutkan secara sengit oleh Sudan dan Mesir.
Kawasan pegunungan liar yang membentang luas hingga ratusan kilometer tersebut bertransformasi menjadi koridor berbahaya, tempat berlangsungnya peredaran emas ilegal, transaksi penyelundupan barang haram, hingga jaringan perdagangan manusia.
Dari sudut pandang strategis, Mesir senantiasa memandang perang saudara di Sudan sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas keamanan nasional mereka, terlebih karena kedua negara berbagi garis batas darat sepanjang 1.200 kilometer.
Maka tidak mengherankan apabila Kairo tetap memilih pasang badan sebagai sekutu politik-militer terpenting bagi pemimpin militer Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, dalam perang terbuka melawan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Terlebih lagi, Perang Saudara Sudan yang meletus sejak April 2023 lalu hingga kini telah menelan lebih dari 200.000 korban jiwa dan memicu krisis kemanusiaan terburuk.
Kondisi ekonomi hancur lebur memaksa rakyat sipil menggantungkan nasib pada aktivitas tambang emas ilegal berisiko mati, di mana komoditas emas itu sendiri kini menjadi pundi-pundi pendanaan utama bagi kedua belah pihak yang bertikai.
Di tengah pusaran konflik dan krisis yang terus memanas, pemerintah Mesir secara berkesinambungan terus menggencarkan langkah pembersihan di garis perbatasan, mulai dari operasi militer kilat hingga eksekusi kebijakan deportasi massal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











