Cinta-news.com – Masyarakat yang menghuni kawasan Pulau Tonduk di wilayah Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ternyata harus terus-menerus mengelus dada lantaran mesti berhadapan langsung dengan fenomena krisis air bersih menahun yang melanda pemukiman mereka sepanjang tahun tanpa henti.
Alhasil, ketiadaan sumber air jernih sama sekali di seluruh penjuru pulau memaksa warga lokal rela merogoh kocek cukup dalam demi memborong pasokan air dari daratan tetangga, yakni Pulau Raas, dengan patokan harga berkisar antara sepuluh ribu hingga dua belas ribu rupiah untuk setiap satu jeriken berkapasitas 25 liter.
Selanjutnya, Camat Raas bernama Achmad Fikri turut membeberkan kenyataan pahit bahwa derita krisis air di Pulau Tonduk ini sejatinya bukan cuma menyapa saat musim kemarau tiba, melainkan sudah menjelma menjadi nasib kelam yang menjerat kehidupan warga selama bertahun-tahun akibat kondisi alam yang amat ekstrem.
“Nyatanya kalau kita bicara soal persoalan kekeringan di sini, keadaannya memang berlangsung sepanjang tahun dan dirasakan sepanjang hari oleh warga Tonduk, lantaran stok air bersih memang tidak ada sama sekali di sana, sehingga proses mengangkut air harus dilakukan langsung dari daratan Pulau Raas,” kata Fikri saat memberikan keterangan secara tepercaya di Sumenep pada hari Sabtu.
Fakta Hasil Riset Kementerian: Cadangan Air Nihil dan Rasanya Asin!
Lebih lanjut, Fikri menegaskan bahwa serangkaian riset ilmiah mendalam yang pernah diterjunkan oleh tim kementerian teknis menunjukkan betapa sulitnya menjangkau potensi sumber air tanah di pulau terisolir tersebut, lantaran jikalau petugas berhasil menemukan titik air, kualitasnya justru cenderung terasa sangat asin serta sama sekali tak layak konsumsi.
“Bahkan kementerian terkait sudah pernah menurunkan tim ahli untuk meneliti area pulau ini dan membuktikan cadangan air bersih memang nihil, lalu jikalau ada titik air, lokasinya berada di kedalaman yang sangat ekstrem di atas 200 meter, ditambah lagi rasa airnya asin banget sampai tak layak diminum, walau ada sumur pun rasanya tetap asin,” paparnya menguraikan fakta lapangan dari hasil kajian tersebut.
Dampaknya, kondisi serba sulit ini menyedot anggaran rumah tangga warga setiap hari karena masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain memborong air bersih sekaligus menanggung ongkos perahu motor penyeberangan yang mengangkut jeriken-jeriken tersebut dari pulau tetangga.
“Oleh karena itu, warga terpaksa memborong air saban hari ke daratan Pulau Raas seharga 10 ribu sampai 12 ribu rupiah per jeriken 25 liter, di mana nominal tersebut sudah mencakup total biaya beli air di darat sekaligus ongkos angkut perahu penyeberangan untuk membawa jeriken air itu,” ungkap Fikri merinci beban pengeluaran harian masyarakat.
Dikenal Sebagai ‘Pulau Putri’, Kerap Ditinggal Suami Melaut Berbulan-bulan
Di samping itu, secara geografis Pulau Tonduk membentang indah di sisi timur Pulau Raas, di mana pulau kecil berukuran panjang sekitar 7 kilometer serta lebar 2 kilometer ini dikenal luas oleh publik dengan julukan Pulau Putri lantaran mayoritas populasi penduduknya didominasi oleh kaum perempuan.
Lantas, dari total populasi yang diperkirakan mencapai 4.000 hingga 5.000 jiwa tersebut, mayoritas kaum pria justru memilih mengarungi lautan lepas sebagai nelayan tangguh yang harus rela meninggalkan kampung halaman dan berlayar di tengah samudera selama berbulan-bulan demi mengais rezeki.
Sementara itu, para perempuan yang bertahan menjaga pulau giat membanting tulang mencari rumput laut, memanen teripang di pesisir, serta mengolah kerajinan tangan berbahan dasar kerang guna menopang serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga mereka di tengah segala keterbatasan.
Langkah Darurat Pemerintah: Baznas dan BPBD Turun Tangan!
Melihat keprihatinan yang berlangsung berkepanjangan ini, pihak pemerintah kecamatan akhirnya bergerak sigap menjalin koordinasi intensif bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) guna menghadirkan solusi darurat demi memenuhi hajat air bersih warga.
“Mengingat ancaman kekeringan makin menggentingkan dan warga sangat membutuhkan pasokan air bersih, kemarin kami langsung melangkah ke BPBD Sumenep untuk berkoordinasi bersama Baznas, alhamdulillah bantuan logistik air akan segera disalurkan ke lokasi,” kata Fikri membagikan kabar optimis tersebut.
Sesuai skenario penanganan, pihak Baznas bakal siap menanggung seluruh pendanaan pengadaan pasokan air bersih, sedangkan BPBD bertugas menyiapkan serangkaian peralatan serta sarana pendukung distribusi, kendati proses pengangkutan via laut masih menyajikan tantangan tersendiri mengingat kapasitas muat kapal penyeberangan yang amat terbatas.
“Nantinya pasokan air bersih bakal didanai oleh Baznas dan seluruh peralatannya disiapkan oleh BPBD, insya Allah bantuan kemanusiaan ini dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat,” terang Fikri mengonfirmasi kesiapan aksi tanggap darurat tersebut.
“Meskipun pasokan air bersih siap dibantu, proses pengangkutan dari daratan utama tentu tidak semudah yang dibayangkan karena petugas mesti mempertimbangkan daya angkut kapal yang memiliki batas tonase muatan cukup terbatas,” tambah Fikri merinci kendala logistik laut yang membayangi penyaluran air.
Guna mengatasi kerumitan logistik penyeberangan tersebut, tim penanggulangan lantas menyusun skema alternatif dengan menyedot pasokan air langsung dari Desa Brakas yang terletak di Pulau Raas, di mana seluruh skema biaya pembelian airnya bakal ditanggung sepenuhnya oleh pihak Baznas.
“Oleh sebab itu, titik pengambilan pasokan air bakal dipusatkan dari daratan Pulau Raas, tepatnya di Desa Brakas, lalu seluruh komponen biaya pembelian airnya bakal ditanggung penuh oleh Baznas,” jelas Fikri memaparkan rincian teknis pembagian bantuan.
Kendati demikian, Fikri menambahkan kabar terbaru bahwa krisis air rupanya mulai merembet dan mengancam sebagian penduduk di Desa Brakas sendiri, sehingga pihak kecamatan berinisiatif mengamankan pasokan air tambahan dari wilayah Alas Malang serta Poteran yang cadangan air tanahnya dinilai masih sangat memadai.
“Apalagi saat ini beberapa titik di Pulau Raas seperti Desa Brakas pun mulai mengalami kekurangan air bersih, alhasil nantinya kami bakal menyedot pasokan dari Alas Malang dan Poteran sebagai lokasi terdekat yang sumber airnya masih sangat kuat serta mampu menyuplai kebutuhan warga,” pungkas Fikri mengakhiri pembicaraannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











