Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Ultimatum Trump ke Iran: Buka Selat Hormuz 2 Hari atau Diserang, Teheran Siap Balas

WASHINGTON DC, Cinta-news.com – Dunia kembali dibuat terkesima oleh gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di tengah panasnya konflik Timur Tengah yang sudah memasuki pekan ketiga, pria berusia 79 tahun itu melontarkan ancaman yang benar-benar membuat publik internasional bergidik. Lewat unggahan di platform Truth Social-nya, Trump secara frontal mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia hanya memberi waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Jika tidak, kata dia, Amerika Serikat siap melancarkan serangan besar-besaran yang akan meluluhlantakkan infrastruktur energi Iran.

Hitung Mundur Perang: Ancaman Nuklir Gaya Trump

Keputusan yang diambil pada Sabtu (21/3/2026) ini langsung menjadi pusat perhatian global. Trump tidak main-main dalam menyampaikan ancamannya. Ia menegaskan dengan tegas bahwa AS tidak hanya akan menyerang, tetapi juga menghancurkan berbagai pembangkit listrik milik Iran, dimulai dari fasilitas yang terbesar. Batas waktu yang ditetapkan pun sangat ketat, yaitu hingga Senin pukul 23.44 GMT atau Selasa pukul 06.44 WIB. Semua mata kini tertuju pada hitungan jam yang terus berdetak menuju tenggat waktu tersebut.

Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah karena ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer di Iran. Namun, di saat yang bersamaan, Selat Hormuz justru masih tertutup. Situasi di lapangan pun semakin memanas karena ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan sedang bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Artinya, di satu sisi ada sinyal penghentian konflik, tetapi di sisi lain ada eskalasi kekuatan militer yang nyata.

Respons Nekat Teheran: Siap Hantam Infrastruktur AS

Menanggapi ancaman Trump yang terang-terangan itu, Iran langsung menunjukkan sikap yang tidak kalah keras. Pihak militer Iran dengan cepat merespons melalui kantor berita Fars. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa jika AS berani menyentuh infrastruktur energi mereka, Iran tidak akan tinggal diam. Sebaliknya, mereka mengancam akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi milik Amerika Serikat serta sekutu-sekutunya yang berada di kawasan. Respons ini jelas menunjukkan bahwa konflik ini sangat berpotensi melebar ke berbagai sektor vital lainnya.

Meski ketegangan memuncak, menariknya Iran justru membantah tuduhan bahwa mereka menutup Selat Hormuz secara total. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan sigap memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa pembatasan yang dilakukan hanya berlaku bagi kapal-kapal yang berasal dari negara-negara yang terlibat langsung dalam serangan ke Iran. Sisanya, menurut Araghchi, tetap dipersilakan melintas.

“Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka,” ujar Araghchi dengan tegas seperti dikutip dari kantor berita AFP. Ia bahkan memberikan contoh konkret dengan menyatakan bahwa Iran bersedia membantu kapal-kapal Jepang untuk melintasi Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Araghchi dalam wawancara telepon dengan Kyodo News pada Jumat (20/3/2026). Bagi Jepang, pernyataan ini jelas merupakan kabar yang cukup melegakan mengingat ketergantungan mereka yang sangat besar terhadap jalur laut tersebut.

Jepang di Antara Dua Kutub: Cadangan Minyak Mulai Dilepas

Jepang sendiri memang berada dalam posisi yang sangat rentan. Sebagai negara ekonomi terbesar keempat di dunia, Negeri Sakura tercatat sebagai importir minyak mentah terbesar kelima. Fakta mengejutkannya adalah sekitar 95 persen impor minyak Jepang berasal dari Timur Tengah, dan dari jumlah tersebut, kurang lebih 70 persen di antaranya harus melewati Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap gangguan di jalur ini akan langsung berimbas pada stabilitas energi Jepang.

Melihat tekanan yang terus meningkat terhadap pasokan energi, Pemerintah Jepang pun akhirnya mengambil langkah antisipatif. Pada Senin (16/3/2026), Tokyo mulai melepaskan cadangan minyak strategis mereka yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Langkah ini mereka ambil untuk mengantisipasi potensi krisis yang lebih parah. Mengingat Jepang memiliki cadangan minyak yang setara dengan kebutuhan konsumsi domestik selama 254 hari, keputusan ini setidaknya memberikan ruang napas bagi perekonomian mereka di tengah ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version