BLORA, Cinta-news.com – Suasana Alun-alun Blora, Jawa Tengah, mendadak berubah jadi lautan truk raksasa pada Kamis (2/4/2026). Para petani tebu yang selama ini terpinggirkan akhirnya angkat suara! Tak main-main, mereka menerjunkan 193 truk dan 3 jonder dalam aksi damai yang mengguncang publik.
Bayangkan, deretan truk-truk besar itu berdiri gagah sambil dihiasi tanaman tebu segar dan spanduk-spanduk penuh semangat perlawanan. Di badan kendaraan, tulisan-tulisan keras terpampang jelas: ‘Pak Presiden Prabowo Bantu Kami Rakyat Kecil, Agar Pabrik GMM Bulog Giling Tahun Ini’. Tak hanya itu, spanduk lain juga berteriak lantang: ‘APTRI & Petani Tebu Blora Tagih Janji Bulog, PT GMM Bulog Harus Giling 2026, Rombak Manajemen. Jika Bulog Tidak Sanggup, Lepas/Jual!’ Tak ketinggalan, seruan menyentuh hati: ‘Pak Prabowo, dengar suara rakyat kecil’.
Aksi dahsyat ini dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Selama satu setengah jam, Alun-alun Blora bagaikan panggung protes rakyat yang tertindas. Namun, semua berlangsung damai dan akhirnya berangsur selesai pada pukul 12.00 WIB. Lantas, apa sebenarnya yang memicu kemarahan para petani ini?
Tuntutan Mengguncang Jakarta: Presiden dan Dirut Bulog Jadi Sasaran!
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto, dengan tegas menyampaikan isi hati para petani. Menurutnya, aksi damai ini secara khusus ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran direksi Bulog.
“Tuntutan petani tebu di Kabupaten Blora yang pertama kami tujukan kepada Pak Dirut Pusat, Dirut Bulog, dan juga kepada Pak Presiden. Kami memohon beliau bisa menolong tuntutan petani ini,” ujar Sunoto dengan nada penuh harap saat ditemui wartawan di tengah hiruk-pikuk aksi.
Para petani tidak main-main. Mereka menuntut adanya pembenahan atau renovasi total terhadap Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) agar bisa kembali bergemuruh beroperasi pada tahun 2026. Jika tidak, ada ultimatum tegas!
“Manakala Pak Dirut Bulog tidak sanggup atau tidak siap mengoperasionalkan atau bertanggung jawab tentang jalannya PG GMM, maka harus diikhlaskan untuk dipindahalihkan. Lepaskan atau jual kepada pihak lain, baik itu swasta, PTPN, atau SGN!” tegas Sunoto disambut sorak setuju para petani.
Dengan lantang ia menambahkan, “Itu tuntutan dari semua petani. Yang jelas, hanya Pak Dirut Bulog pusat dan Pak Presiden yang bisa menjawab tuntutan ini. Siapapun yang dituntut, saya rasa tidak bisa menyelesaikan masalah selama bukan Pak Dirut dan Pak Presiden.”
Kerusakan Mesin Bukan Satu-satunya Masalah!
Menurut penelusuran, kerusakan mesin giling atau boiler di pabrik ternyata tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola lapangan. Sunoto dengan sinis menyoroti bahwa jajaran direksi Bulog punya andil besar dalam kebuntuhan ini.
“Jangan cari kambing hitam! Ini soal nyawa petani!” seru salah satu demonstran yang enggan disebutkan namanya. Para petani merasa dikhianati setelah sekian lama menanti janji manis yang tak kunjung terealisasi.
Bulog Akhirnya Buka Suara! Janji Manis atau Hanya Basi?
Menanggapi aksi 193 truk yang menggemparkan Blora, Perum Bulog akhirnya angkat bicara. Dengan nada kalem namun penuh komitmen, mereka menegaskan akan mendukung kesejahteraan petani tebu di Kabupaten Blora.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (2/4/2026), menyampaikan bahwa pihaknya siap berperan sebagai fasilitator. Bulog berjanji akan menjembatani kebutuhan petani dengan kapasitas industri gula nasional.
“Kami berkomitmen hadir di tengah petani, termasuk di Blora. Hasil panen tebu mereka akan kami pastikan tersalurkan dengan baik ke pabrik gula milik PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang tersebar di wilayah Jawa Tengah,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani.
Komitmen ini, menurut Bulog, disampaikan sebagai respons konstruktif atas dinamika di lapangan. Pihaknya mengaku memandang aksi para petani sebagai bagian dari perhatian bersama untuk memperbaiki tata niaga tebu dan gula nasional. “Kami dengar suara kalian!” tegas Bulog dalam pernyataannya.
Strategi Jitu Bulog: Penyaluran ke Pabrik Lain, Bukan PG GMM?
Menariknya, alih-alih berjanji memperbaiki PG GMM, Bulog justru mengambil langkah strategis: membantu penyaluran hasil panen tebu masyarakat ke pabrik gula milik PT SGN yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Tengah. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya memperkuat ekosistem pangan nasional sekaligus memastikan hasil panen petani terserap optimal.
Dengan langkah tersebut, Bulog berharap dapat meredam berbagai persepsi negatif yang berkembang. “Kehadiran negara harus nyata dalam menjaga stabilitas sektor pangan dan kesejahteraan petani,” demikian pernyataan resmi Bulog.
Namun, pertanyaan besarnya: Apakah ini solusi atau sekadar plester luka? Para petani masih was-was. Mereka ingin PG GMM hidup kembali, bukan sekadar “ditalangin” ke pabrik lain. Apalagi biaya transportasi dan logistik tentu akan membebani kantong petani yang sudah tipis.
Kesimpulan: Pertarungan Belum Usai!
Aksi 193 truk di Alun-alun Blora telah usai, tetapi gelora perlawanan petani tebu masih membara. Kini bola panas berada di tangan Presiden Prabowo dan Dirut Bulog. Akankah PG GMM kembali bergemuruh di tahun 2026? Atau justru akan dilego ke swasta seperti tuntutan keras para petani?
Satu yang pasti: Rakyat kecil tidak akan tinggal diam. Mereka punya 193 truk dan ribuan semangat yang siap kembali mengguncang istana jika janji-janji manis itu kembali dikhianati.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
