PANDEGLANG, Cinta-news.com – Sebuah kabar mengejutkan tiba-tiba mengguncang publik ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengonfirmasi aksi pencurian nekat delapan unit baterai akumulator (aki) di Stasiun Pemantau LV93 Gunung Anak Krakatau. Padahal, peristiwa konyol sekaligus membahayakan ini justru terjadi tepat setelah gunung api aktif tersebut baru saja memuntahkan erupsinya pada pertengahan September 2026. Malah, kejadian nekat ini makin memperpanjang daftar hitam kasus pencurian perangkat kebencanaan di Indonesia yang kian marak selama beberapa tahun terakhir.
Kendati demikian, PVMBG langsung menenangkan warga dengan memastikan bahwa sistem pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap beroperasi secara optimal melalui mekanisme cadangan yang canggih.
Lantas, Bagaimana Awal Mulanya Tim Ahli Bikin Elus Dada Mendeteksi Gangguan Fatal Ini?
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa sistem pemantauan digital milik mereka sebenarnya telah memancarkan sinyal anomali sejak awal.
Menurut penjelasan resmi Rita, sistem digital mereka mendeteksi adanya kerusakan transmisi data secara mendadak pada 16 September 2026 tepat pukul 19.36 WIB. Memang, kerusakan teknis tersebut meletus seketika setelah stasiun pemantau menerima hantaman hebat dari lontaran material vulkanik membara serta gumukan abu tebal erupsi Gunung Anak Krakatau. Akibatnya, hantaman material alam tersebut langsung memutus total jalur komunikasi data, sehingga PVMBG wajib mengerahkan tim teknis untuk melakukan pemeriksaan darurat secara langsung di medan berbahaya tersebut.
Namun, Kapan Sebenarnya Aksi Kejahatan Pencurian Aki Ini Benar-Benar Terendus oleh Petugas?
Misteri hilangnya aki tersebut baru terungkap secara gamblang saat tim ahli PVMBG menembus medan berbahaya demi melakukan perbaikan fisik di lokasi kawah.
Saat petugas teknis berhasil menginjakkan kaki di kawasan kawah pada 27 September 2026, mereka mendapati kenyataan pahit bahwa delapan unit aki vital sebagai jantung daya utama stasiun telah raib dari boks penutupnya. Para ahli memperkirakan bahwa komplotan pencuri melancarkan aksi nekatnya dalam rentang waktu abu-abu antara 16 hingga 27 September 2026, yaitu ketika stasiun sedang lumpuh total akibat amukan erupsi.
“Sebab pada 27 September 2026 kami mendapati 8 unit aki di Stasiun LV93 telah hilang, tim kami langsung bergerak cepat mengganti aki baru sekaligus menghidupkan kembali seismometer dan kamera CCTV yang sempat terdampak erupsi, sehingga detik ini stasiun pemantau sudah kembali beroperasi normal,” tegas Rita Susilawati pada Senin (28/9/2026).
Lalu, Apakah Ulah Jahat Para Pencuri Ini Langsung Membahayakan Keselamatan Warga Sekitar?
Secara tegas, PVMBG menjamin bahwa aksi sabotase dan pencurian ini tidak sedikit pun mengancam keselamatan masyarakat secara langsung.
Pasalnya, para ahli geologi di Indonesia memang telah merancang seluruh sistem pemantauan gunung api dengan skema keamanan berlapis atau sistem redundansi (backup station) yang sangat tangguh.
Lebih lanjut, Rita memaparkan bahwa Stasiun Tanjung yang bertengger kokoh di kawasan Pulau Gunung Anak Krakatau tetap berdiri mengawal keselamatan warga sebagai stasiun cadangan yang terus merekam seluruh gelombang aktivitas seismik tanpa henti. Berkat kehadiran sistem redundansi yang adaptif ini, para pengamat gunung api tetap berhasil mengantongi data pemantauan secara presisi meskipun salah satu stasiun utama sedang mengalami musibah gangguan.
Selain itu, PVMBG juga membeberkan alasan ilmiah mengapa mereka sengaja tidak memagari stasiun pemantau dengan kawat duri atau pagar besi tebal. Hal ini lantaran lingkungan ekstrem Gunung Anak Krakatau memancarkan konsentrasi gas sulfur yang sangat tinggi sehingga dengan cepat mengerosi dan merusak material logam seperti besi.
Bahkan dalam hitungan bulan, karat sulfur bisa menghancurkan pagar besi hingga tidak lagi efektif menghalau penyusup, sehingga PVMBG lebih memilih menerapkan strategi pengamanan alternatif yang jauh lebih adaptif, di antaranya:
- Mengerahkan boks penyimpanan khusus berteknologi anti-korosi demi melindungi komponen listrik sensitif di dalamnya.
- Memasang jaringan kamera pengawas CCTV internal untuk memantau pergerakan di sekitar area stasiun secara real-time.
- Menancapkan papan peringatan tegas mengenai ancaman sanksi pidana berat bagi siapa saja yang nekat melakukan tindakan vandalisme.
Akan tetapi, PVMBG mengakui bahwa benteng pengamanan tersebut memang masih menyimpan celah rawan, khususnya saat cuaca buruk dan kondisi erupsi membuat lokasi stasiun makin mustahil untuk dijangkau oleh pengawasan langsung manusia.
Sayangnya, ulah vandalisme yang mempertaruhkan nyawa banyak orang ini ternyata bukan peristiwa pertama di Tanah Air. Sepanjang rentang tahun 2025 hingga 2026 saja, tercatat sederet aksi pencurian serupa pernah menghantam stasiun pemantau gunung api lainnya, seperti:
- Aksi pencurian alat di Gunung Semeru pada April 2026.
- Kasus pembobolan sarana pemantau di Gunung Gamalama pada Maret 2026.
- Pencurian perangkat vital di Gunung Kelud pada September 2025.
- Penjarahan alat pemantauan di Gunung Papandayan pada Juni 2025.
“Oleh karena itu, kasus pencurian ini harus menjadi alarm keras dan perhatian bersama seluruh pihak, sebab masyarakat sejatinya bisa ikut berkontribusi aktif menjaga keberlangsungan alat-alat ini agar tidak rusak atau dicuri, mengingat perangkat pemantau ini merupakan garda terdepan dan sistem pertahanan utama kita dalam menyelamatkan ribuan nyawa dari ancaman bahaya erupsi gunung api,” pungkas Rita penuh harap.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











