JAKARTA, Cinta-news.com – Peringatan keras untuk kita semua! Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali ambruk. Bahkan, rupiah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dollar AS. Ini kali pertama dalam sejarah, lho!
Berdasarkan data Investing yang kami himpun, pada pukul 06.45 WIB, rupiah menyentuh level terlemahnya, yakni Rp 18.015 per dollar AS. Artinya, mata uang kita melemah sekitar 90 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di angka Rp 17.925.
Baca Juga: Morgan Stanley Tambah 179 Juta Saham AMRT di Tengah Gejolak Rupiah
Sementara itu, data dari Google Finance juga menunjukkan hal serupa. Rupiah sempat menyentuh Rp 18.022 per dollar AS semalam. Bayangkan, baru kali ini kita mengalami kejadian seperti ini. Pelemahan ini mencatatkan rekor terburuk rupaih sepanjang masa!
Namun, kabar sedikit meredanya datang seiring berjalannya waktu. perlahan-lahan kembali turun ke level Rp 17.900 per dollar AS. Meski begitu, kita belum bisa bernapas lega.
Pada perdagangan sebelumnya, tepatnya Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS. Dengan penurunan kali ini, rupiah tertekan hingga 127,5 poin atau 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya. Waduh, kok bisa separah ini?
Ancaman dari Timur Tengah: Biang Kerok Utama Melemahnya Rupiah
Siapa yang tak kenal Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures? Beliau sudah memprediksi sebelumnya bahwa bakal jeblok ke Rp 18.000 per dollar AS pada pekan ini. Prediksinya tepat, sayangnya bukan kabar baik.
Baca Juga: Pembunuhan WN Korsel di Tambun Selatan: Dalangnya Eks Caleg, Eksekutor Dibayar 139 Juta
Ariston menjelaskan, pergerakan rupiah sangat bergantung pada situasi geopolitik global. Selama Timur Tengah masih memanas, rupiah tetap berada dalam zona bahaya. “Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. Pelemahan ini bisa semakin parah jika masalah Iran-AS tidak kunjung selesai,” ujar Ariston dengan tegas, Rabu lalu.
Jadi, jangan salahkan kebijakan dalam negeri dulu. Konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran menjadi pemicu utama. Investor global panik. Mereka berlomba-lomba mengamankan asetnya. Akibatnya, dollar AS diburu habis sebagai aset aman alias safe haven. Otomatis, nilai dollar AS pun melambung tinggi.
Selain memperkuat dollar AS, konflik ini juga memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Ini kabar buruk kedua bagi Indonesia. Mengapa? Karena kita masih mengandalkan impor energi yang dibayar menggunakan dollar AS. Saat harga minyak naik, beban impor kita ikut membengkak.
Baca Juga: Remaja 17 Tahun di Bogor Gunakan Mercy dan Fortuner Pinjaman untuk Tipu Puluhan SPBU
Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent melonjak 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barel.
Ariston pun menambahkan, “Kenaikan harga minyak ini mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi. Ini semakin membebani perekonomian Indonesia.” Jadi, efeknya bakal terasa di kantong kita semua, dari harga BBM hingga kebutuhan pokok.
Kapan Rupiah Bisa Berbalik Menguat?
Lalu, apakah ada harapan? Menurut Ariston, rupiah bisa kembali perkasa asalkan konflik di Timur Tengah segera mereda. “Kuncinya ada pada perdamaian antara AS dan Iran. Itulah yang bisa memicu pelemahan dollar AS,” tegasnya.
Setelah kondisi global membaik, barulah pemerintah bisa fokus membereskan sentimen negatif dari kebijakan ekonomi domestik. Artinya, saat ini kita masih harus bersabar dan waspada. Tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir selama ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung.
Baca Juga: Rita Widyasari hingga Japto Diperiksa KPK Terkait Gratifikasi Perusahaan Batu Bara
Jadi, jangan kaget jika dalam beberapa hari ke depan kita masih akan mendengar kabar fluktuasi rupiah yang liar. Yang bisa kita lakukan adalah tetap tenang, tidak panik membeli dollar, dan mendukung kebijakan pemerintah yang pro-rakyat.
Satu hal yang pasti, peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya ekonomi kita terhadap gejolak global. Saatnya kita lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada impor energi. Namun, untuk saat ini, bersiaplah menghadapi dampaknya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
