Cinta-news.com – Dunia perjalanan wisata Indonesia dikejutkan dengan kabar mengejutkan! Seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Madiun, Jawa Timur, diduga kuat melarikan diri di tengah-tengah tur rombongan di Korea Selatan beberapa waktu lalu. Aksi nekat ini mencoreng nama baik agensi travel dan mengancam nasib ratusan calon peserta tur lainnya di masa depan!

Femas Yani Arianto, demikian nama WNI yang kini menjadi buronan ini, dengan sengaja memisahkan diri dari rombongan wisata sejak hari pertama kedatangannya di Negeri Ginseng. Yang lebih memprihatinkan, pemuda asal Madiun ini kini sudah overstay atau melewati batas izin tinggalnya! Visanya tercatat habis pada sekitar Minggu (12/7/2026) atau Senin (13/7/2026), dan hingga kini keberadaannya masih misterius.
Pihak agensi perjalanan yang membawa rombongan tersebut sudah melakukan upaya maksimal untuk melacak keberadaan Femas. Bahkan, keluarga besar Femas di kampung halaman pun sudah didatangi dan dimintai keterangan. Namun, yang terjadi justru semakin mencurigakan! Simak kronologi lengkapnya berikut ini yang akan membuat Anda geleng-geleng kepala.
Detik-detik Mencurigakan: Peserta Tur Mulai Mencuatkan Tanda-tanda Aneh
Hari Pertama Langsung Membangkang!
Pemilik agensi travel Berani Backpacker, Dhani, mengungkapkan bahwa sebenarnya pihaknya sudah menerapkan prosedur mitigasi dan screening super ketat sejak proses pendaftaran dimulai pada Jumat (17/7/2026). “Kami tidak pernah main-main dengan keamanan dan kredibilitas peserta tur,” tegas Dhani dengan nada kesal.
Seluruh proses pendaftaran, lanjut Dhani, sudah dilakukan berdasarkan standar operasional prosedur yang sangat ketat. Namun, ada satu hal yang membuat tim agensi mulai was-was ketika mengetahui bahwa Femas mendaftar secara langsung di kantor agensi di Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar sebulan sebelum keberangkatan. Padahal, peserta tur pada umumnya lebih memilih mendaftar secara online!
Meski terbilang janggal, pihak agensi tidak langsung menaruh kecurigaan berlebihan karena Femas dengan percaya diri menandatangani surat persetujuan perjalanan yang memuat poin-poin penting, termasuk larangan melarikan diri dan ancaman pelaporan hukum. “Kami pikir dia peserta yang kooperatif,” ujar Dhani.
Namun, semua keraguan itu sirna ketika memasuki hari pertama di Korea Selatan! Femas mulai menunjukkan perilaku yang sangat mencurigakan. “Pada hari pertama perjalanan, sekitar malam hari, peserta atas nama Femas tiba-tiba memisahkan diri dari rombongan tanpa permisi dan tanpa pemberitahuan sedikit pun kepada Tour Leader maupun Tour Guide,” ungkap Dhani dengan nada kecewa.
Yang lebih aneh lagi, saat sesi foto bersama di berbagai destinasi wisata, Femas selalu memilih berdiri di barisan paling belakang! “Ini sangat tidak lazim untuk peserta tur pada umumnya yang justru antusias tampil di depan,” tambah Dhani.
Upaya Pencarian Nekat di Negeri Orang
Tim Lapangan Bergerak Cepat!
Begitu menyadari ada yang tidak beres, tim lapangan Berani Backpacker di Korea Selatan langsung bergerak cepat bagaikan tim SWAT! Tour Leader yang bertanggung jawab atas rombongan itu berulang kali mencoba menghubungi Femas melalui panggilan telepon dan pesan singkat secara intensif. “Kami bombadir dia dengan panggilan dan pesan, memintanya segera kembali ke rombongan,” jelas Dhani.
Namun, yang terjadi sungguh mengejutkan! Femas sama sekali tidak memberikan respons terhadap semua upaya komunikasi tersebut! Bagai ditelan bumi, pemuda asal Madiun itu seakan hilang tanpa jejak di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Korea Selatan.
“Karena peserta tetap tidak memberikan respons dan tidak kembali ke rombongan, Tour Guide terpaksa melakukan pelaporan kepada instansi pemerintah dan imigrasi setempat sebagai bentuk pemberitahuan resmi mengenai peserta yang meninggalkan rombongan,” papar Dhani dengan wajah muram.
Laporan resmi ini kemudian menjadi bukti otentik bahwa Femas memang telah meninggalkan rombongan secara sepihak dan tanpa ijin. “Kami tidak mau dituduh sembunyi-sembunyi atau menutupi kasus ini, makanya kami laporkan langsung ke otoritas setempat,” tambah Dhani.
Bahkan, pihak agensi perjalanan juga berupaya keras membuat laporan ke kepolisian setempat di Korea Selatan. Sayangnya, kepolisian setempat belum bisa menerima laporan tersebut karena terbentur prosedur hukum wilayah mereka yang cukup rumit.
Fakta Mencengangkan dari Keluarga!
Ibu Kandung Jadi Sponsor Utama, Ternyata Menyimpan Banyak Rahasia!
Di sisi lain, tim Berani Backpacker di Indonesia tidak tinggal diam! Mereka langsung bergerak cepat mendatangi rumah ibu kandung Femas di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sang ibu ternyata merupakan sosok penjamin atau sponsor utama dalam dokumen perjalanan Femas.
Namun, yang terjadi justru mengundang banyak pertanyaan! Saat berbincang dengan keluarga Femas, tim lapangan menemukan berbagai kejanggalan yang sangat mencolok! “Keluarga Femas terkesan berusaha menutup-nutupi informasi mengenai keberadaan dan rencana anaknya,” ungkap Dhani dengan nada curiga.
Awalnya, sang ibu mengaku tidak tahu apa-apa tentang tindakan anaknya. Bahkan, dengan nada dramatis, ia menyebut Femas sebagai anak tidak berbakti yang bertindak semena-mena terhadap ibunya sendiri! “Dia bilang anaknya durhaka dan tidak pernah memberi kabar,” jelas Dhani.
Namun, setelah berdialog cukup lama, tim agensi travel berhasil menggali banyak fakta yang sangat bertentangan dengan pernyataan awal sang ibu! “Kami menemukan bukti bahwa sang ibu mencetak sendiri rekening koran di bank lengkap dengan cap resmi,” beber Dhani. Ini artinya, sang ibu dengan sengaja memanipulasi dokumen keuangan untuk kepentingan visa anaknya!
Yang lebih mencengangkan lagi, sang ibu juga mengakui bahwa dirinya menandatangani surat sponsor secara sadar, meskipun mengaku tidak membaca isinya! “Ini tindakan yang sangat ceroboh dan tidak bertanggung jawab sebagai penjamin,” tegas Dhani.
Bukti Penghilangan Barang Bukti!
Chat dan Telepon Dihapus Habis-habisan!
Fakta lain yang semakin menguatkan kecurigaan tim agensi adalah ditemukannya bukti bahwa semua chat dan riwayat telepon dengan Femas di gawai keluarga telah dihapus secara sengaja! “Mereka beralasan karena emosi dan kecewa dengan tindakan Femas,” kata Dhani. Namun, tim agensi menilai alasan ini sangat tidak masuk akal dan justru menunjukkan upaya penghilangan barang bukti!
Tak hanya itu, keluarga Femas juga terbukti berbohong mengenai latar belakang pendidikan Femas yang ternyata pernah belajar bahasa Korea di Lembaga Pelatihan Kerja khusus Korea! “Awalnya mereka menyembunyikan fakta ini, tapi akhirnya kami temukan bukti otentiknya,” tambah Dhani.
Fakta lain yang membuat tim agensi geleng-geleng kepala adalah pengakuan keluarga bahwa Femas sudah satu bulan tidak pulang ke rumah sebelum berangkat. Namun, berdasarkan keterangan tetangga, Femas masih terlihat shalat Jumat di kampung pada Jumat (26/6/2026)! “Ini hanya beberapa hari sebelum keberangkatan tur, artinya keluarga berbohong tentang keberadaan Femas,” tegas Dhani.
Dampak Mengerikan: Denda Rp 125 Juta dan Nasib Ratusan Peserta Terancam!
Laporan Polisi Dilayangkan ke Ibu Kandung!
Melihat berbagai kejanggalan dan dugaan kebohongan yang dilakukan keluarga Femas, pihak Berani Backpacker tidak tinggal diam! Mereka dengan tegas melaporkan sang ibu ke pihak kepolisian di Indonesia atas dugaan menjadi penjamin yang tidak bertanggung jawab.
“Kami melaporkan penjamin atau pemberi sponsor kepada pihak berwenang kepolisian karena terbukti sebagai penjamin dan berusaha menutup-nutupi data anak serta runtutan masalah memisahkan diri dari rombongan trip Korea atas nama Femas Yani Arianto,” ujar Dhani dengan nada tegas, Jumat (17/7/2026).
Pihak agensi travel mengaku sangat dirugikan oleh tindakan tidak bertanggung jawab dari Femas dan keluarganya. “Kami merasa dikhianati dan dipermainkan,” keluh Dhani.
Yang lebih parah lagi, tindakan satu orang ini tidak hanya merusak sistem kerja agensi travel mereka, tetapi juga mengancam nasib ratusan calon peserta tur lain di masa depan! “Kami travel dikenakan denda Rp 125 juta! Kami yang harus mempertanggungjawabkan ke pihak Korea. Kami yang harus menghadapi risiko denda,” jelas Dhani dengan nada frustrasi.
“Dan yang paling menyedihkan, peserta lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa ikut terkena dampaknya! Mereka tidak bersalah tapi harus menanggung akibat ulah satu orang,” tutup Dhani dengan nada prihatin.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.












Có rất nhiều lựa chọn thú vị xn88 win TONY07-20