MAGETAN, Cinta-news.com – Akhirnya angin segar menerpa para peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan! Setelah aksi demo yang menggemparkan beberapa waktu lalu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Bulog langsung tancap gas menyalurkan jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyaluran ini menjadi jawaban atas pahitnya keluhan peternak yang gulung tikung akibat harga telur anjlok drastis sementara pakan melambung tinggi.
Pemerakhirnya Hadir di Tengah Badai! Jagung Murah Rp5.000-an Siap Meringankan Beban Peternak
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. “Kami hadir melalui program SPHP agar bisa sedikit meringankan beban para peternak yang sedang terpuruk,” ujarnya penuh semangat saat ditemui di Bulog Magetan, Sabtu (9/5/2026). Lalu, ia merinci bahwa jagung SPHP ini disalurkan melalui Bulog dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. “Peternak maksimal hanya membayar Rp5.500 per kilogram. Saya tegaskan, tidak boleh lebih dari itu!” tambahnya.
Lalu, siapa prioritas utama program kejutan ini? Maino tidak lupa menjelaskan bahwa penyaluran jagung SPHP diprioritaskan bagi peternak mandiri skala mikro, kecil, dan menengah. Kelompok inilah yang paling babak belur menghadapi tekanan harga telur yang terus merosot dan biaya pakan yang masih membumbung tinggi.
Magetan: Perdana di Jatim! Kenapa Daerah Ini Layak Dapat Jatah Istimewa?
Mengapa Magetan dipilih sebagai daerah perdana penyaluran jagung SPHP di Jawa Timur? Jawabannya mencengangkan! Maino mengungkapkan bahwa Magetan merupakan salah satu sentra produksi telur terbesar nasional. Bayangkan, produksi telur di Magetan mencapai sekitar 80 ribu ton per hari! Sebagian besar telur-telur itu bahkan dipasarkan ke luar daerah. “Karena itulah, kami memulai dari sini,” imbuhnya.
Ia pun membandingkan harga jagung di pasaran. “Sekarang, harga jagung di tingkat peternak masih berkisar Rp6.500 sampai Rp6.600 per kilogram. Karena itu, pemerintah segera menyalurkan cadangan jagung pemerintah kepada peternak,” jelas Maino. Langkah ini diharapkan bisa memangkas biaya produksi secara signifikan.
Tak Cuma Jagung Murah! Ini Solusi Jangka Panjang agar Harga Telur Kembali Normal
Pemerintah tidak berhenti di situ. Maino menjelaskan bahwa selain menyalurkan jagung murah, pihaknya juga sedang mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi anjloknya harga telur. Salah satu jurus andalannya? Mendorong penyerapan telur melalui program makan bergizi gratis dan dapur SPPG! “Kami akan mengupayakan agar dapur-dapur tersebut bisa membeli telur langsung dari peternak lokal,” tegasnya.
Bahkan, kerja sama antar daerah pun mulai digaungkan. “Kami juga mendorong kemitraan lintas wilayah. Daerah produsen seperti Magetan nantinya bisa memasok telur ke daerah yang masih kekurangan stok, seperti Maluku dan Papua,” ungkap Maino penuh optimisme. Dengan begitu, harga telur diharapkan segera stabil dan peternak tidak terus-menerus merugi.
Stok Aman sampai 8.200 Ton! Bulog Siap Layani Setiap Saat, Termasuk Akhir Pekan
Sementara itu, Pimpinan Cabang Perum Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, memberikan kabar yang tidak kalah menggembirakan. Ia memastikan bahwa stok jagung pemerintah dalam kondisi aman. “Untuk penyaluran jagung SPHP, Bulog Ponorogo memiliki stok sekitar 8.200 ton,” tuturnya dengan percaya diri.
Lalu, berapa kuota yang disiapkan untuk Magetan? Budiwan merinci bahwa ada lima koperasi yang akan menerima penyaluran. “Total kuotanya mencapai sekitar 7.700 ton,” jelasnya. Jumlah yang sangat besar! Budiwan pun menjamin pelayanan pengambilan jagung tetap buka lebar. “Kami siap melayani pengambilan jagung, baik hari kerja maupun Sabtu dan Minggu,” tambahnya sigap. Pesan ini disampaikan untuk memastikan tidak ada peternak yang terlambat mendapatkan bantuan.
Suara Peternak: “Kami Terbantu, Tapi Jangan Setengah-setengah!”
Dari sisi penerima manfaat, suara pun mulai mengemuka. Surohman, perwakilan peternak Magetan, mengakui bahwa bantuan jagung SPHP cukup membantu di tengah kondisi sulit saat ini. “Kami lega ada intervensi pemerintah,” katanya. Namun, ia tidak lupa menyampaikan catatan kritis. “Peternak tetap berharap pemerintah segera menstabilkan harga telur yang terus mengalami penurunan,” ujarnya mewakili rekan-rekannya.
Ia menggambarkan situasi yang masih mencekik. “Harga pakan tinggi, sementara harga telur masih rendah. Akibatnya, banyak peternak mengalami tekanan usaha yang luar biasa. Kami berharap ada solusi agar harga telur kembali stabil,” pintanya.
Aksi Demo Berbuah Hasil! Ingat, Peternak Sempat Turun ke Jalan
Sebagai latar belakang yang tidak boleh dilupakan, puluhan peternak ayam petelur di Magetan sempat menggelar aksi protes keras. Mereka meluapkan kemarahan atas merosotnya harga telur di tingkat peternak yang ketika itu hanya berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram. Kondisi itu dinilai sangat tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meroket, terutama harga jagung sebagai bahan utama pakan ternak. Demo itulah yang akhirnya memaksa pemerintah bergerak cepat.
Kini, dengan mulai mengalirnya jagung SPHP, mereka berharap penderitaan mereka segera berakhir. Langkah Bapanas dan Bulog patut diapresiasi, tetapi pekerjaan rumah besar masih menanti: menstabilkan harga telur agar nasib tidak semakin terpuruk.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











