Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Mulai 1 April 2026, Malaysia Batasi Pembelian BBM RON 95 bagi Pengguna Kartu Asing

KUALA LUMPUR, Cinta-news.com – Pemerintah Malaysia akhirnya mengambil langkah tegas! Mulai pekan depan, otoritas setempat akan membatasi penggunaan kartu kredit dan debit asing untuk pembelian bahan bakar RON95 di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kebijakan ini langsung menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan.

Sistem Otomatis Siap Digulirkan, Kasir Jadi Satu-satunya Pintu Masuk

Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup Malaysia menegaskan bahwa pihaknya akan menerapkan aturan baru ini secara bertahap di seluruh SPBU. Sistem otomatis akan langsung menyaring transaksi menggunakan kartu asing di mesin pengisian mulai 1 April 2026. Artinya, dalam hitungan hari, kebiasaan lama warga asing mengisi BBM subsidi akan berubah total!

Direktur Jenderal Penegakan kementerian tersebut, Datuk Azman Adam, mengonfirmasi bahwa sejumlah perusahaan minyak besar telah siap menerapkan mekanisme baru ini. “Setelah 1 April, sistem akan secara otomatis memfilter transaksi,” ujar Azman kepada Strait Times pada Sabtu malam (28/3/2026). Bayangkan, dalam sekejap mata, sistem akan langsung membaca asal-usul kartu Anda!

Meski demikian, pemerintah masih memberikan sedikit kelonggaran. Pengguna kartu asing masih diperbolehkan melakukan pembayaran, tetapi hanya melalui transaksi di kasir SPBU, bukan langsung di pompa pengisian. Jadi, jika Anda pengguna kartu asing, bersiaplah untuk mengantre di dalam toko!

Subsidi Tepat Sasaran, Pengawasan Diperketat dari Hulu ke Hilir

Menurut Azman, kebijakan ini dirancang untuk mempermudah pengawasan oleh operator SPBU dan otoritas terkait. Di sisi lain, langkah ini juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. “Langkah ini bertujuan untuk mempermudah pemantauan oleh operator SPBU dan otoritas penegak hukum, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,” paparnya dengan tegas.

Lebih jauh, langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta mencegah potensi penyalahgunaan bahan bakar RON95. “Pendekatan ini juga akan memperkuat penegakan aturan serta mencegah potensi penyalahgunaan RON 95,” tambah Azman. Dengan kata lain, pemerintah serius melindungi subsidi rakyat!

Sementara itu, dinamika harga minyak dunia ikut menambah warna dalam kebijakan ini. Harga minyak dunia ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat. Pasar masih diliputi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Sungguh waktu yang tepat bagi Malaysia untuk mengamankan subsidi dalam negerinya!

Gejolak Harga Minyak Dunia Makin Memanas, AS dan Iran Masih Adu Kuat

Menariknya, kenaikan harga minyak dunia terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengalihkan pendekatan ke jalur negosiasi dengan Iran. Namun, langkah Trump ternyata belum mampu meredakan kekhawatiran pasar. Artinya, tekanan harga masih akan berlanjut!

Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/3/2026), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,46 persen menjadi 99,64 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak acuan global Brent menguat 4,22 persen ke level 112,57 dollar AS per barrel. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022!

Bahkan, selama sesi perdagangan, harga minyak AS sempat menyentuh level tertinggi harian di 100,04 dollar AS per barrel sebelum terkoreksi tipis. Secara mingguan, kontrak WTI naik sekitar 1 persen, sedangkan Brent relatif stagnan. Fluktuasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Malaysia.

Langkah Trump memberikan perpanjangan waktu 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Sayangnya, langkah ini belum mampu meredakan kekhawatiran pasar. Dalam unggahan media sosial pada Kamis (26/3/2026), Trump mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan sangat baik. Ia menyebut pembicaraan tersebut berlangsung positif, “meskipun ada pernyataan keliru yang bertentangan dari Media Berita Palsu, dan pihak lain.”

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Trump juga menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2027 mendatang. Namun, hingga kini Iran belum memberikan tanggapan atas pernyataan terbaru tersebut. Ketidakpastian ini terus membayangi pasar energi global!

Selat Hormuz Masih Panas, Kapal Kontainer Raksasa Terpaksa Putar Balik

Di sisi lain, dinamika di lapangan menunjukkan situasi yang masih belum stabil. Dua kapal kontainer milik China Ocean Shipping Company (COSCO) dilaporkan mencoba melintasi Selat Hormuz, tetapi akhirnya berbalik arah. Data perusahaan pelacakan kapal MarineTraffic mengonfirmasi hal ini. Peristiwa tersebut menjadi upaya pertama dari perusahaan pelayaran besar untuk melintasi jalur tersebut sejak konflik berlangsung.

COSCO sendiri merupakan perusahaan pelayaran terbesar keempat di dunia berdasarkan kapasitas. Dalam pernyataannya, MarineTraffic menyebut bahwa “perkembangan semalam menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz tetap sangat tidak stabil.” Sungguh kondisi yang membuat para pelaku pasar terus waspada!

Dalam rapat kabinet pada Kamis, Trump juga mengatakan Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz pekan ini sebagai “hadiah” bagi AS. Pasar saat ini terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Setiap guncangan di jalur ini akan langsung berdampak pada harga BBM global!

Fase Ketahanan Pasar Berakhir, Analis Peringatkan Badai akan Datang

Ketegangan antara Washington dan Teheran dinilai masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga energi. Pernyataan Trump yang menyebut adanya kapal tanker yang berhasil melintas memberikan sinyal bahwa sebagian pengiriman minyak masih berlangsung. Dengan demikian, kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek bisa sedikit mereda.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa kondisi pasar minyak global masih rapuh. Kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, mengatakan pasar sebenarnya telah mampu menyerap gangguan yang terjadi di Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir. “Pasar minyak tidak bereaksi secara berlebihan terhadap gangguan di Selat Hormuz, justru pasar menyerapnya,” ujar Rodriguez-Masiu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, “Selama hampir empat minggu, pasar telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, didukung oleh kombinasi surplus pra-perang, minyak mentah yang masih dalam perjalanan, dan pasokan minyak berdasarkan kebijakan yang memberikan penyangga sementara dan menjaga harga tetap terkendali. Fase itu sekarang berakhir.” Artinya, fase rawan justru baru akan dimulai!

Kebijakan pembatasan pembelian BBM RON95 oleh Malaysia ini pun menjadi semakin relevan di tengah gejolak harga minyak dunia. Dengan mempersempit ruang gerak warga asing yang membeli BBM subsidi, pemerintah Malaysia berupaya melindungi anggaran negara sekaligus memastikan subsidi tepat sasaran. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa negara-negara penghasil minyak pun mulai lebih berhati-hati dalam mengelola sumber daya mereka.

Bagi warga asing yang tinggal atau berkunjung ke Malaysia, kebijakan ini tentu akan mengubah kebiasaan mengisi bahan bakar. Mereka harus bersiap untuk melakukan transaksi di dalam toko atau mencari alternatif pembayaran lain. Sementara bagi pemerintah Malaysia, langkah ini diharapkan dapat menghemat miliaran ringgit yang selama ini dinikmati oleh pihak yang tidak berhak.

Dengan dimulainya implementasi pada 1 April 2026, semua mata kini tertuju pada mekanisme di lapangan. Akankah sistem otomatis berjalan mulus? Bagaimana respons masyarakat dan pelaku usaha? Yang jelas, satu hal sudah pasti: era baru pengelolaan BBM subsidi di Malaysia akan segera dimulai, dan dampaknya akan dirasakan oleh banyak pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version