Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Keluarga Tolak Hasil Visum TNI AL, Tubuh Korban Penuh Memar

BANGKALAN, Cinta-news.com – Dunia per-prajuritan nasional sontak diguncang duka sekaligus misteri. Kelasi Dua, Ghofirul Kasyfi (22), anggota TNI AL asal Bangkalan, Jawa Timur, tewas di kamarnya di KRI Radjiman Wedyodiningrat. Namun, alih-alih pasrah, pihak keluarga justru meledak dengan temuan kejanggalan saat jenazah tiba di rumah duka.

Ayah sang prajurit, Mahbub Madani, dengan lantang mengungkapkan berbagai kejanggalan yang membuatnya merinding. Semua bermula pada Februari 2026. Saat itu, putranya yang akrab disapa Ovy mendapat penempatan tugas di KRI Radjiman Wedyodiningrat—kapal bantu rumah sakit.

Di atas kapal itulah Ovy menjalani masa orientasi tiga bulan. Namun, alih-alih semangat, Ovy justru sering mengirim pesan keluhan kepada sang ibu. Bahkan, baru sebulan ditempatkan, Ovy sudah nekat meminta pindah kapal.

“Aduh, ini keterlaluan! Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan cuma satu orang, Pak, tapi sampai puluhan orang,” tutur Mahbub dengan suara bergetar pada Senin (4/5/2026).

Dia menambahkan, “Ovy bilang tidak kuat lagi. Dia minta pindah ke kapal di Surabaya. Padahal, kapalnya saat itu sedang berlabuh di Jakarta.”

Lebih parahnya lagi, Ovy kerap mengirimkan pesan memilukan kepada keluarganya. Setiap hari, dia hanya punya waktu istirahat satu jam. Satu jam! Bayangkan. Lalu, setiap malam, pemuda bela diri ini mengalami penganiayaan di kapal.

“Ovy bilang begini, ‘Siang saya kerja, malamnya saya dibantai’. Dia selalu tidur jam 2 malam, tapi jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga sering kirim pesan minta tolong kepada kami,” ungkap Mahbub sambil menahan tangis.

Kedatangan Dua Orang Misterius di Rumah Keluarga

Keanehan kian menjadi-jadi pada akhir Maret. Tiba-tiba, dua orang asing mendatangi rumah keluarga Ovy. Mereka mengaku sebagai senior Ovy. Tujuan mereka? Mencari Ovy karena diduga kabur dari kapal.

“Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal,” cerita Mahbub.

Nah, ini dia yang bikin merinding. Sehari setelah dua orang itu datang, orangtua Ovy kembali menerima telepon. Namun, kali ini isinya sangat berbeda. Seorang senior Ovy memberi kabar duka: Ovy meninggal dunia.

“Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah digeledah di kamar dan anak saya tidak ada di sana,” ujar Mahbub dengan nada tak percaya.

Tak berhenti di situ, keluarga juga mendapat informasi dari pihak TNI AL bahwa Ovy dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Klaim ini sontak membuat keluarga naik pitam.

“Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Ovy itu orangnya tegar, dia ikut bela diri, mentalnya kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin,” tegas Mahbub.

Peti Jenazah Dibuka, Keluarga Teriak Histeris

Puncak kejanggalan terjadi pada 27 April sekitar pukul 01.30 dini hari. Saat peti jenazah Ovy tiba di rumah duka di Kabupaten Bangkalan. Keluarga sempat membuka sedikit peti untuk melihat wajah Ovy.

“Di situ hati saya hancur. Saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya,” ujarnya.

Keesokan paginya, sebelum dimakamkan, peti jenazah dibuka utuh. Apa yang terjadi? Keluarga sontak histeris melihat banyak lebam di sekujur tubuh korban. Bahkan, bagian selangkangan korban mengeluarkan darah!

“Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu ada di bawah leher. Seharusnya, kalau betul bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah,” jelas Mahbub sambil memperagakan.

Dia pun menambahkan, “Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam, tapi tanda lahir. Sial! Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir!”

Karena tak tahan melihat kejanggalan demi kejanggalan, ayah korban pun mengamuk dan bertekad membawa kasus ini ke ranah hukum. “Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi!” pungkas Mahbub penuh semangat.

Klarisi Angkatan Laut: “Murni Gantung Diri, Bukan Kekerasan!”

Sementara itu, pihak Komando Armada (Koarmada) I buka suara. Mereka memberikan klarifikasi yang justru bertolak belakang dengan kesaksian keluarga.

Kepala Dinas Penerangan Koarmada I, Kolonel (P) Ary Mahayasa, menegaskan bahwa kematian KLD Ghofirul Kasyfi bukan karena tindakan kekerasan, melainkan bunuh diri.

“Hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan,” ujar Kolonel Ary dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Pernyataan itu langsung dirilis untuk meluruskan kabar dugaan kejanggalan fisik pada jenazah. Pihak TNI AL pun merujuk pada hasil visum et repertum resmi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo, Jakarta, tertanggal 26 April 2026.

“Dalam visum tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan benda tumpul pada tubuh korban. Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum itu juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum,” tegas dia.

Ary Mahayasa menjelaskan lebih lanih bahwa luka pada bagian leher korban merupakan luka tekan melingkar yang disertai pengelupasan kulit ari. Secara medis, pola luka itu identik dengan kasus gantung diri.

Lalu, bagaimana dengan lebam di sekujur tubuh? Pihak TNI AL menyebutnya sebagai livor mortis. Itu adalah tanda pasti kematian akibat berhentinya sirkulasi darah, sehingga sel darah merah mengendap di bagian tubuh terendah karena gravitasi.

“Adapun kedatangan pihak TNI AL ke rumah almarhum, itu dilakukan karena yang bersangkutan beberapa kali tidak hadir saat pengecekan personel di kapal. Sehingga pihak KRI meminta bantuan kepada Lanal Batuporon untuk mengunjungi kediaman serta menanyakan keberadaan almarhum,” pungkas Ary Mahayasa.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version