MAKASSAR, Cinta-news.com – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya secara resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak di tujuh wilayah strategis di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Jangan bayangkan ini isu biasa! Ketujuh daerah yang kini masuk zona merah tersebut meliputi pusat kota Makassar, kemudian menyebar ke Kabupaten Luwu, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Jeneponto, hingga Luwu Timur. Artinya, wabah ini sudah mulai menggerogoti Sulsel dari berbagai sisi!
Lantas, apa yang sebenarnya memicu langkah tegas Kemenkes ini? Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dengan terus terang mengungkapkan bahwa penetapan status KLB ini muncul akibat pola penyebaran penyakit yang sudah mencapai tingkat nasional. Karena itulah, Kemenkes kemudian dengan sigap mengeluarkan edaran resmi untuk memetakan wilayah terdampak, tak terkecuali Sulsel.
“Setelah kami memetakan, maka Kemenkes langsung menetapkan tujuh daerah sebagai lokasi KLB campak. Meski secara teknis status KLB ini seharusnya dideklarasikan oleh masing-masing kabupaten atau kota, faktanya kasusnya sudah menyebar secara nasional. Jadi kami tidak bisa tinggal diam,” tegas Yusri saat ditemui awak media, Minggu (12/4/2026).
169 Anak Positif Campak di Sulsel, Sebanyak Itukah?
Coba bayangkan! Pada bulan Desember 2025 lalu, kasus campak masih terdengar asing karena baru muncul di tiga kabupaten dan itupun masih sebatas kategori suspek alias pasien dengan gejala awal yang belum pasti. Namun siapa sangka, setelah tim medis melakukan pemeriksaan laboratorium yang mendalam, sejumlah kasus suspek tersebut ternyata terbukti positif campak. Ini alarm pertama yang sayangnya sempat luput dari perhatian publik.
Memasuki awal tahun 2026, situasinya sungguh mencemaskan. Tren peningkatan kasus tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Justru sebaliknya! Dari Januari, lalu merambat ke Februari, hingga akhirnya memuncak di Maret, angka kasus terus melesat bak roket.
Data terbaru yang dihimpun langsung oleh Dinkes Sulsel hingga tanggal 8 April 2026 menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan: 169 anak secara resmi dinyatakan positif terjangkit campak berdasarkan hasil uji laboratorium yang valid. Wah, ini bukan main-main, Sahabat!
“Pada Desember 2025, kami hanya menemukan penyebaran di tiga kabupaten, itupun baru sebatas diagnosis suspek. Namun setelah kami lakukan uji klinik dan sampelnya kami periksa di laboratorium, barulah dinyatakan positif. Untungnya, sejak kami mendeteksi adanya suspek, kami langsung tancap gas melakukan berbagai upaya pencegahan massal,” ujar Yusri dengan nada penuh kewaspadaan.
Imunisasi Darurat hingga Edukasi Massal Sedang Digenjot!
Jangan panik dulu! Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Dinkes Sulsel dengan cepat menerbitkan surat kewaspadaan dini yang langsung mereka tujukan kepada seluruh kepala daerah se-Sulsel. Isinya jelas dan padat: perintahkan semua pihak menjaga stabilitas layanan kesehatan sekaligus menggencarkan pola hidup bersih dan sehat di masyarakat.
“Di dalam surat itu, kami menekankan pentingnya menjaga stabilitas layanan kesehatan, mempraktikkan pola hidup bersih, serta kembali mengaktifkan protokol kesehatan seperti saat pandemi dulu. Cuci tangan, pakai masker jika perlu, dan jaga jarak dari pasien yang diduga campak,” imbuh Yusri menegaskan.
Yang paling krusial, Dinkes Sulsel kini tengah memprioritaskan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau yang lebih dikenal dengan imunisasi darurat campak. Sasaran utamanya adalah anak-anak usia 9 hingga 59 bulan. Mengapa mereka? Karena kelompok usia ini paling rentan mengalami komplikasi serius jika terinfeksi.
Langkah ini bukanlah sekadar formalitas. Tujuannya tunggal: menekan rantai penyebaran secepat kilat dan pada akhirnya menghentikan status KLB campak di Sulsel. Jika imunisasi darurat ini berhasil, kita bisa bernapas lega. Jika tidak? Bisa-bisa wabah ini semakin meluas ke daerah-daerah tetangga!
Sebagian Besar Anak Yang Terinfeksi BELUM Pernah Diimunisasi!
Nah, inilah bagian yang paling penting untuk kita camkan bersama. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun tim redaksi dari lapangan, mayoritas anak-anak yang kini positif campak ternyata belum pernah mendapatkan imunisasi campak sama sekali. Wow, ironis sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua!
Kondisi ini secara terang-terangan menunjukkan betapa gentingnya kebutuhan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi di masyarakat. Sebab, ketika cakupan vaksinasi rendah, mustahil terbentuk kekebalan kelompok atau yang populer dengan istilah herd immunity. Padahal, herd immunity ini seperti tameng tak kasat mata yang melindungi mereka yang belum bisa divaksin karena alasan medis.
“Intinya, tidak adanya kekebalan tubuh secara menyeluruh di populasi kita. Akibatnya, ketika virus campak ini mulai menyebar, semua orang bisa kena. Baik yang sudah imunisasi maupun yang belum. Bedanya, yang sudah imunisasi biasanya hanya sakit ringan. Yang belum imunisasi? Bisa parah, bahkan fatal,” jelas M. Yusri Yunus dengan nada mengingatkan.
Sinjai, Satu Daerah Dengan Dampak Paling Signifikan
Dari ketujuh daerah yang berstatus KLB, Kabupaten Sinjai menjadi salah satu lokasi dengan tingkat dampak paling signifikan. Lonjakan kasus di Sinjai terjadi begitu cepat dalam dua pekan terakhir. Karena itulah, Dinkes Sulsel kini memfokuskan sebagian besar tim gerak cepatnya ke wilayah tersebut.
Pesan terakhir yang disampaikan Yusri kepada masyarakat sangat jelas: jangan tunggu sampai anak sakit baru bertindak. “Kami mengimbau segenap masyarakat untuk aktif, jangan pasif! Bawa segera anak-anak Anda ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika belum pernah imunisasi sama sekali, segera imunisasi. Jika jadwal vaksinasinya belum lengkap, segera lengkapi. Jangan tunggu sampai muncul ruam merah atau demam tinggi!” pungkasnya.
Sekali lagi, jangan anggap enteng wabah ini. Campak bisa mematikan bagi balita dengan gizi buruk atau daya tahan tubuh lemah. Mari bersama-sama kita putus mata rantai penyebarannya. Karena kesehatan anak-anak Sulsel ada di tangan kita bersama!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
