Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Karhutla TNWK Berhasil Dikendalikan, Kemenhut Tegaskan Tidak Ada Gajah yang Jadi Korban

LAMPUNG TIMUR, Cinta-news.com – Kabar menggembirakan datang dari kawasan konservasi kebanggaan Tanah Air! Setelah sempat membuat cemas publik, kebakaran hutan dan lahan yang melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, akhirnya berhasil dilumpuhkan pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Operasi pemadaman yang dramatis itu pun membawa angin segar bagi kelestarian satwa liar di dalamnya.

TNWK

Yang lebih melegakan, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dengan lantang mengumumkan bahwa tidak ada satupun gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang menjadi korban dalam peristiwa nahas ini. Baik yang beraktivitas bebas di habitat alaminya maupun yang tinggal di Pusat Konservasi Gajah, semuanya dilaporkan aman dan tidak terdampak langsung oleh amukan si jago merah.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kemenhut, Dr. Ahmad Munawir, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Menurutnya, keberhasilan mengendalikan kobaran api ini adalah buah manis dari kerja keras dan kolaborasi luar biasa yang melibatkan sekitar 250 personel dari berbagai unsur terkait.

“Alhamdulillah, berkat kolaborasi yang solid dan terkoordinasi dengan baik, api berhasil kita padamkan tadi malam, sekitar pukul 7 malam. Saat ini sudah dipastikan tidak ada lagi titik api yang terdeteksi,” ujar Ahmad dengan nada lega saat ditemui di lokasi TNWK, Minggu (23/8/2026).

Untuk memastikan tidak ada lagi percikan api yang mengancam, tim gabungan terus melakukan pemantauan secara intensif hingga larut malam, tepatnya sampai pukul 23.00 WIB. Langkah antisipatif ini dilakukan demi memastikan kawasan benar-benar steril dari potensi kebakaran susulan.

Sebelumnya, kobaran api diketahui melahap kawasan di bagian selatan TNWK. Namun berkat pergerakan cepat dan strategi pemadaman yang tepat, tim gabungan berhasil mencegah api menjalar lebih luas ke zona-zona vital lainnya.

“Total personel yang kita kerahkan saat operasi kemarin mencapai kurang lebih 250 orang. Mereka bekerja tanpa kenal lelah dari pagi hingga malam untuk mengamankan kawasan,” jelas Ahmad.

Sekitar 600 Hektare Ludes Dilalap Api

Meskipun api telah berhasil ditaklukkan, dampak yang ditinggalkan cukup signifikan. Ahmad memperkirakan luas area yang terbakar untuk sementara mencapai sekitar 600 hektare. Namun, angka ini masih akan melalui proses verifikasi dan pengukuran ulang oleh tim teknis di lapangan untuk memastikan akurasinya.

“Luasan yang terbakar berdasarkan perhitungan sementara kami, tapi kami tetap akan memastikan kembali secara detail. Kurang lebih 600 hektare yang terpanggang,” ungkapnya.

Peristiwa ini tentu menjadi perhatian serius mengingat TNWK merupakan kawasan konservasi dengan luas mencapai 125.000 hektare. Selain menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik, kawasan ini juga menyandang status sebagai salah satu habitat paling krusial bagi kelestarian populasi gajah sumatera yang terancam punah.

Ahmad juga mengakui bahwa ancaman kebakaran ini memang menjadi momok yang selalu berulang, terutama saat musim kemarau panjang melanda seperti sekarang ini. Kondisi cuaca yang ekstrem membuat kawasan rawan api, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

“Memang bencana ini beberapa kali melanda, apalagi di tengah kemarau panjang seperti ini. Kami selalu waspada dan siaga menghadapi potensi ancaman,” tuturnya.

Dengan luasnya kawasan TNWK, Ahmad menyadari bahwa melakukan pengawasan secara simultan di setiap sudut area bukanlah hal yang mudah. Untuk mengatasi tantangan ini, Kemenhut terus memperkuat patroli rutin sekaligus menggandeng peran aktif masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan sebagai mitra pengawasan.

“Mustahil bagi kami untuk menjaga setiap inci, setiap meter kawasan ini secara bersamaan. Oleh karena itu, celah tetap selalu ada dan inilah yang membuat kami harus terus berkolaborasi dengan berbagai pihak,” papar Ahmad.

Teknologi GPS Bantu Pantau Pergerakan Gajah, Jauh dari Amukan Api!

Salah satu kabar paling membahagiakan datang dari hasil pemantauan satwa liar. Meskipun api sempat membakar sebagian habitat alami mereka, Kemenhut dengan tegas memastikan bahwa populasi gajah di TNWK selamat dari bencana ini.

Teknologi canggih berupa GPS collar yang terpasang pada sejumlah gajah menjadi andalan utama dalam memantau pergerakan mereka secara real-time. Dengan alat ini, tim konservasi dapat mengetahui posisi setiap kelompok gajah secara berkala dan memastikan mereka berada di zona aman.

“Ini memang merupakan habitat alami gajah di Taman Nasional, namun patut kita syukuri karena dalam kebakaran ini tidak ada satu ekor pun gajah yang mengalami dampak langsung,” ungkap Ahmad dengan penuh syukur.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan bahwa pada saat kebakaran melanda bagian selatan TNWK, kelompok gajah yang terpasangi GPS collar ternyata sedang berada jauh di bagian utara kawasan. Jarak yang sangat jauh ini menjadi faktor utama yang menyelamatkan mereka dari bahaya.

“Posisi mereka sangat jauh dari titik api, dan ini perlu kami sampaikan kepada publik bahwa alhamdulillah gajah-gajah kita selamat dan tidak terdampak secara langsung dari kebakaran hutan kali ini,” tegasnya.

Polisi Siap Usut Tuntas, Jika Terbukti Ada Unsur Kesengajaan!

Tak hanya fokus pada pemadaman dan evakuasi, Kemenhut juga membuka peluang untuk melibatkan aparat Kepolisian guna mengusut tuntas penyebab kebakaran. Jika dalam proses penyelidikan ditemukan indikasi kuat adanya unsur kesengajaan, maka proses hukum akan segera dijalankan.

Ahmad menyatakan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Polres Lampung Timur untuk menyelidiki asal-muasal munculnya api yang melalap kawasan konservasi tersebut.

“Kami akan menggandeng Polri, dalam hal ini Polres Lampung Timur, dan kami akan mengusut secara mendalam,” kata Ahmad dengan tegas.

Menurutnya, jika hasil penyelidikan mengarah pada temuan tindak pidana atau kesengajaan, maka tidak ada kompromi. Proses hukum akan diberlakukan kepada pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas bencana ini.

“Kalau memang ada indikasi ke arah kesengajaan, maka itu pasti akan ada proses hukumnya. Kami tidak akan tinggal diam,” tandasnya.

Di samping upaya penegakan hukum, Ahmad juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk turut aktif mencegah terjadinya kebakaran, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang sangat kering seperti saat ini. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian hutan.

Ia menyoroti kebiasaan sepele namun berdampak besar, seperti membuang puntung rokok secara sembarangan. Tindakan sederhana ini dapat menjadi pemicu utama munculnya api di kawasan yang vegetasinya sudah rentan terbakar.

“Kami sangat memohon kerja sama dari seluruh masyarakat. Apalagi sekarang sedang terjadi fenomena super El Nino yang menyebabkan cuaca sangat kering. Kita harus berkolaborasi dan bahu-membahu menjaga hutan kita bersama,” pungkas Ahmad dengan penuh harap.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *