Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Dari Serangan Militer ke Wacana Aneksasi, Israel Kini Terang-terangan Incar Lebanon Selatan

BEIRUT, Cinta-news.com – Pemerintah Israel kini secara terang-terangan melontarkan ambisi besar mereka untuk memperluas wilayah hingga ke Lebanon selatan. Langkah berani ini langsung menyedot perhatian dunia, terutama di tengah intensitas serangan militer yang kian hari kian menggila.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada Senin (24/3/2026) dengan lantang menyatakan bahwa garis batas negara mereka semestinya melesat hingga Sungai Litani—lokasi yang berada jauh di pedalaman selatan Lebanon. Smotrich tidak main-main, ia mengumbar pernyataan yang menjadi salah satu yang paling frontal dari pejabat tinggi Israel soal kemungkinan pencaplokan wilayah Lebanon. Mereka membungkusnya dengan dalih konflik yang disebut-sebut sebagai operasi pemburuan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Konflik meletus ke Lebanon sejak 2 Maret 2026, dipicu oleh serangan rudal Hizbullah yang meluncur ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel dengan cepat meningkatkan skala serangan, baik dari udara maupun darat, ke Lebanon selatan—kawasan yang selama ini dikenal sebagai basis kokoh Hizbullah.

Bahkan, Israel tanpa ragu memerintahkan seluruh warga sipil di wilayah selatan Sungai Litani untuk segera mengungsi. Di saat bersamaan, mereka terus menggempur kawasan tersebut lewat serangan udara yang tak kenal ampun.

Otoritas Lebanon mencatat angka yang memilukan: lebih dari 1.000 jiwa melayang akibat serangan Israel, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Angka ini terus bergerak naik seiring waktu.

Serangan tidak berhenti di perbatasan. Ibu kota pun ikut bergetar. Saksi mata Reuters melaporkan sedikitnya tiga ledakan dahsyat mengguncang kawasan Dahiyeh, Beirut, pada Senin malam. Militer Israel langsung mengklaim bahwa mereka tengah menghajar target-target Hizbullah di wilayah tersebut.

Dalam operasi terpisah di hari yang sama, militer Israel juga mengumumkan keberhasilan mereka menewaskan seorang komandan Pasukan Quds yang merupakan bagian dari Garda Revolusi Iran.

“Perbatasan Baru Israel Harus Berada di Sungai Litani!”

Seperti dilansir Reuters, Smotrich dalam wawancara radio menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon harus menghasilkan perubahan fundamental. Baginya, tidak cukup hanya berurusan dengan Hizbullah; batas-batas wilayah Israel juga harus ikut berubah.

“Saya katakan dengan tegas, dalam setiap forum dan diskusi: perbatasan baru Israel harus berada di Sungai Litani,” ujarnya penuh keyakinan.

Namun, seorang pejabat militer Israel menyampaikan nada yang sedikit berbeda kepada Reuters. Pihaknya mengaku tidak bisa mengomentari pernyataan politisi atau rencana jangka panjang pemerintah. Ia hanya menegaskan bahwa operasi darat yang berjalan saat ini masih terbatas di area dekat perbatasan.

Smotrich sendiri bukan sosok baru dalam kontroversi. Sebagai pemimpin partai sayap kanan di kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, ia sebelumnya juga kerap melontarkan pernyataan-pernyataan panas terkait wilayah Gaza. Hingga berita ini diturunkan, kantor Netanyahu masih bungkam dan belum memberikan respons resmi.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya sudah melontarkan peringatan keras: Lebanon bisa kehilangan wilayah jika tidak segera melucuti Hizbullah. Pernyataan ini langsung menyulut kekhawatiran besar di Lebanon—negara yang sudah memiliki luka sejarah panjang dengan konflik bersama Israel.

Perlu dicatat, Israel pernah melakukan invasi berulang ke Lebanon sejak 1978, bahkan menduduki wilayah selatan Lebanon pada 1982 hingga 2000. Kini, bayang-bayang pendudukan kembali menghantui.

Seorang pejabat Lebanon mengungkapkan bahwa pemerintah di Beirut masih menggantungkan harapan pada tekanan internasional untuk menghentikan perang. Salah satu opsi yang mereka sodorkan adalah tawaran Presiden Joseph Aoun untuk menggelar perundingan langsung.

Infrastruktur Hancur, Jalur Logistik Diputus!

Di lapangan, situasi kian memprihatinkan. Militer Israel menyatakan bahwa pasukannya terus melakukan operasi darat dan penggerebekan terhadap pejuang Hizbullah serta gudang-gudang senjata mereka. Semua ini diklaim demi melindungi warga di Israel utara.

Pada Senin, militer Israel mengklaim telah menangkap sejumlah pejuang Hizbullah di selatan Sungai Litani. Namun di sisi lain, serangan mereka juga menghantam infrastruktur vital. Akhir pekan lalu, Israel menghancurkan jembatan utama yang menjadi penghubung Lebanon selatan dengan wilayah lainnya. Mereka juga memerintahkan penghancuran seluruh jalur penyeberangan di Sungai Litani.

Serangan lanjutan pada Senin kembali menyasar dua titik penyeberangan, termasuk jalan utama di dekat jembatan yang sebelumnya sudah hancur.

Langkah ini langsung menuai kecaman internasional. Hukum humaniter internasional dengan tegas melarang serangan terhadap infrastruktur sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun ikut menyoroti kebijakan evakuasi massal yang dinilai berdampak luas terhadap warga sipil.

Namun, Israel tetap pada pendiriannya. Mereka berdalih bahwa perintah evakuasi justru untuk melindungi warga dari risiko serangan terhadap target-target Hizbullah.

Pada Senin, Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi untuk tujuh kawasan di pinggiran selatan Beirut. Mereka juga menegaskan akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Hizbullah.

Warga Terjepit, Blokade Mematikan!

Di wilayah perbatasan, dampak blokade mulai terasa mencekik. Wali Kota Rmeish, Hanna Amil, mengungkapkan kesulitan yang dialami warganya dalam memenuhi kebutuhan dasar.

“Sekali atau dua kali seminggu, kami harus dikawal tentara Lebanon untuk mengambil barang kebutuhan dari daerah terdekat,” ujarnya dengan nada getir.

Ia menambahkan, pasokan listrik, air, dan bahan bakar kian menipis. “Jika semua jalur ke utara terputus, kami tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan,” kata Amil, menggambarkan kegelisahan yang menyelimuti warganya.

Dengan segala dinamika yang berlangsung cepat ini, dunia kini menanti: akankah tekanan internasional mampu menghentikan laju eskalasi, atau justru kita akan menyaksikan babak baru dalam konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah? Satu yang pasti, pernyataan terbuka Smotrich telah membuka kotak pandora yang bisa mengubah peta geopolitik kawasan secara dramatis.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version