Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Hadapi El Nino, Kementan Gandeng Unej Perbaiki Irigasi Sawah Jember

JEMBER, Cinta-news.com – Ancaman mengerikan El Nino Godzilla siap melanda dan memicu kemarau panjang! Kementan pun langsung tancap gas memperkuat sektor pertanian demi menjaga target swasembada pangan nasional dari ancaman krisis pangan.

Kementan dan Unej sinergi benahi irigasi tersier di 240 kelompok tani Jember

kementan

Salah satu jurus jitu yang Kementan keluarkan adalah program optimasi lahan plus perbaikan irigasi di berbagai daerah rawan kekeringan. Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi prioritas yang digarap serius.

Bentuk keseriusannya? Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Universitas Jember (Unej) untuk menggarap teknis survey, investigasi, dan desain (SID) optimasi lahan (Oplah) non rawa di tiga kabupaten sekaligus: Jember, Lumajang, dan Banyuwangi.

Nah, perwakilan dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementan, Fadli Yafas, menjelaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan perencanaan SID Oplah 2026 dengan sangat matang. Ini langkah krusial untuk mendukung pengelolaan lahan pertanian di daerah!

“Bersama Universitas Jember, Kementan tengah mempersiapkan pendanaan dan dokumen perencanaan program ini,”* tegas Fadli di hadapan awak media, Kamis (7/5/2026). “Tujuannya jelas: mengoptimalkan lahan non-rawa di Kabupaten Jember. Kami berharap para petani bisa mengelola lahannya dengan baik dan bijaksana sesuai prosedur,” pungkasnya.

Sorotan paling menarik untuk Jember? Program ini menyasar 7.070 hektar lahan pertanian yang tersebar di 240 kelompok tani di sejumlah kecamatan dan desa! Sementara itu, Banyuwangi kebagian jatah sekitar 2.500 hektar, dan Lumajang lebih dari 1.000 hektar. Gila, bukan?

Akar Masalah Utama: Semua Berawal dari Irigasi yang Rusak!

Koordinator Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej, Banun Kusumawardani, mengungkapkan bahwa program ini dirancang khusus untuk menaikkan indeks pertanaman (IP) petani sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah ganasnya perubahan iklim.

“Target utamanya kami pacu untuk meningkatkan indeks pertanaman. Dengan begitu, swasembada pangan, khususnya padi, bisa kita wujudkan,”* ujar Banun dengan optimis, Kamis.

Menurutnya, perubahan iklim beberapa tahun terakhir sudah mulai mengacaukan pola tanam petani di Jember. Kemarau panjang yang ekstrem menyebabkan ribuan sawah kehausan karena debit sumber air menurun drastis. Tak hanya itu, pendangkalan saluran dan jaringan irigasi yang rusak parah memperparah kondisi di lapangan.

“Banyak sekali lahan pertanian yang merana kekurangan air. Dampaknya? Produktivitasnya ambrol!”* tegas Banun.

Dia menjelaskan, kondisi memprihatinkan ini membuat sebagian petani yang dulu bisa panen padi dua hingga tiga kali setahun, kini hanya mampu sekali tanam. Bahkan, tak sedikit petani yang putus asa lalu beralih ke tanaman hortikultura atau tebu. Mereka menganggap tanaman itu lebih kuat bertahan di tengah krisis air.

Hasil Investigasi Membuktikan: Irigasi Adalah Segalanya

Tim Unej turun langsung ke lapangan untuk membedah kondisi lahan, sumber air, jaringan irigasi, hingga faktor sosial ekonomi petani. Hasil investigasi mereka cukup mengejutkan: persoalan paling dominan yang dihadapi petani Jember berada pada kerusakan saluran irigasi tersier dan keterbatasan sumber air.

Tak cuma itu, banyak saluran mengalami pendangkalan parah sehingga distribusi air ke lahan jadi tersendat dan tidak maksimal.

“Intinya, persoalan paling besar itu selalu berkutat pada irigasi dan sumber air,”* ungkap Banun.

Berdasarkan temuan ini, tim penyusun merekomendasikan pembangunan dan perbaikan saluran irigasi secara besar-besaran“Bisa berupa plengsengan atau normalisasi saluran. Kalau di lokasi memang tidak ada sumber air sama sekali, maka kami rekomendasikan irigasi perpompaan,”* jelasnya.

Perlu dicatat, program ini hanya menyasar lahan yang memenuhi syarat ketat: tidak berada di kawasan hutan dan bebas dari masalah status lahan. Selain itu, lahan yang diusulkan diprioritaskan untuk yang indeks pertanamannya (IP) di bawah atau sama dengan dua kali tanam per tahun.

Soal anggaran? Jangan khawatir! Setiap kelompok tani (poktan) mendapatkan jatah konstruksi berdasarkan luas lahannya. Nilai anggaran konstruksi ditetapkan sebesar Rp 4,6 juta per hektar.

“Tinggal dikalikan saja luas lahannya. Misalnya 20 hektar, maka anggarannya Rp 4,6 juta dikali 20 per poktan,”* ujar Banun praktis.

Semua rekomendasi ini dituangkan dalam desain teknis dan rencana anggaran biaya (RAB) yang nantinya menjadi acuan poktan untuk melaksanakan pembangunan secara swakelola. “Jadi tidak boleh dikontraktualkan dan dilarang keras melibatkan pihak ketiga. Poktan yang akan mengerjakan konstruksinya sendiri,”* tegas Banun.

Target pelaksanaan konstruksi? Dimulai pada Mei hingga Juli 2026 setelah seluruh laporan SID selesai disusun. Pengawasan program nantinya akan dilakukan tim yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Pertanian.

Target Gila: Bisa Panen 3 Kali Setahun!

Program optimasi lahan ini dibidik untuk meningkatkan IP petani drastis hingga tiga kali tanam dalam setahun. “Target program ini memang peningkatan IP. Kalau IP naik, otomatis hasil panen juga ikut melonjak!”* seru Banun penuh semangat.

Dia memberi contoh nyata: pada program serupa tahun lalu, ada lahan pertanian di kawasan pesisir Jember, Kecamatan Gumukmas. Selama bertahun-tahun, sawah di sana tak bisa ditanami padi karena intrusi air laut dan kadar salinitas yang tinggi. Setelah tim melakukan perbaikan saluran dan normalisasi lahan, sawah tersebut kembali hidup dan produktif!

“Sekarang petani di sana sudah bisa menanam padi lagi. Bahkan sudah panen dan masuk ke tanam kedua!”* tutur Banun dengan bangga.

Wajah Bahagia Petani: “Dulu 2 Kali, Nanti Bisa 3 Kali!”

Ketua Kelompok Tani Harapan Jaya Desa Jatisari Kecamatan Jenggawah, Sholehan, menyambut program ini dengan suka cita. Kelompoknya menjadi salah satu penerima manfaat program optimasi lahan tahun ini. Di wilayahnya, program menyasar 22 hektar sawah milik 30 petani.

Menurut Sholehan, poktannya diperkirakan mengantongi anggaran sekitar Rp 40 juta untuk perbaikan irigasi tersier. Selama ini, petani di wilayahnya hanya mampu menanam padi dua kali setahun karena air yang terbatas.

Dengan adanya perbaikan saluran irigasi, para petani berharap frekuensi tanam mereka bisa bertambah“Yang biasanya kami tanam padi dua kali, Insya Allah dengan adanya program mantap ini, kami bisa tiga kali!”* ujar Sholehan penuh harap.

Dia membeberkan, produktivitas sawah di wilayahnya sebenarnya sudah cukup tinggi. Hasil panen tembus lebih dari delapan ton per hektar. Bahkan untuk padi varietas hibrida, hasilnya bisa mencapai 10 hingga 11 ton per hektar! Luar biasa.

Namun, keterbatasan air masih menjadi momok utama yang membatasi masa tanam mereka.

“Kalau pembangunan ini benar-benar terealisasi, nanti akan banyak sekali petani yang menikmati manfaatnya. Kami sangat berterima kasih!” pungkas Sholehan dengan penuh syukur.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *