MEDAN, Cinta-news.com – Tragedi maut yang melibatkan bus PT Antar Lintas Sumatera (ALS) di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, ternyata menyisakan masalah besar yang tak kalah mengerikan dari kecelakaan itu sendiri. Masalahnya adalah soal pendataan penumpang yang kacau balau!

Bayangkan, bus ALS jurusan Pati-Medan itu ternyata membawa 14 penumpang saat nahas menimpanya. Namun, yang lebih mengejutkan, hanya lima orang yang namanya tercantum dalam manifest perusahaan. Sisanya? Hilang dari catatan! Siapa mereka? Dari mana asalnya? Ini menjadi teka-teki memilukan di tengah duka.
Karena itulah, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, langsung melontarkan tegasan keras kepada manajemen ALS. Kejadian ini dinilainya sangat fatal. Beliau datang langsung ke loket bus ALS di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, pada Kamis (7/5/2026). Wajah beliau tampak serius dan geram.
Pada kunjungan penting itu, Bobby bertemu langsung dengan jajaran ALS, para keluarga korban yang masih tertunduk lesu, perwakilan Jasa Raharja, hingga Dinas Perhubungan Sumut. Rapat dadakan ini digelar untuk membahas perkembangan penanganan kecelakaan dan yang lebih krusial: siapa bertanggung jawab atas data penumpang yang amburadul ini.
Sorotan Tajam Bobby: Ini Bahaya! Kenapa Penumpang Tak Tercatat?
Pertanyaan fundamental pun dilontarkan Bobby. Beliau menyoroti lemahnya sistem pendataan yang dimiliki ALS. Kecurigaannya semakin menjadi-jadi setelah Direktur ALS, Chandra Lubis, dengan polosnya menyebut perusahaan hanya punya lima data penumpang. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya: isi bus ada 14 orang! Bobby pun mempertanyakan secara frontal nasib penumpang yang tak tercatat itu.
Dengan suara lantang, Bobby berseru, “Ini baru lima yang dari semalam belum terhubungi keluarganya. Lalu bagaimana dengan yang tidak terdaftar, Pak? Kesulitannya itu kan kalian sendiri yang buat!” Tegasnya, tanpa basa-basi.
Chandra Lubis hanya bisa menjelaskan bahwa sebagian besar penumpang naik di tengah perjalanan dan tidak melalui loket resmi. Namun, alasan ini langsung dipatahkan oleh Bobby. Menurutnya, itu adalah pembelaan yang tidak bertanggung jawab.
“Kejadian seperti inilah yang harus menjadi pembelajaran dan koreksi besar bagi kita semua,” sambung Bobby dengan nada mendidik.
Beliau dengan gamblang menekankan bahwa manifest bukanlah sekadar dokumen administrasi basi. Ini adalah data sakral yang krusial untuk memastikan keselamatan, mempermudah identifikasi jasad, dan mempercepat penanganan korban. Apalagi, sebagian jasad korban ditemukan dalam kondisi luka bakar parah. Tanpa data manifest yang akurat, proses identifikasi bisa mandek dan memakan waktu berbulan-bulan!
Jasa Raharja Bicara Soal Duit Santunan: Data Itu Penting, Bos!
Tak hanya pemerintah, pihak Jasa Raharja pun ikut angkat bicara. Kepala Kantor Wilayah Jasa Raharja Sumut, Nasjwin Andi Nurdin, dengan tegas menyatakan bahwa data manifest sangat vital dalam penanganan kecelakaan angkutan umum seperti ini.
Menurut Nasjwin, data tersebut sangat membantu petugas di lapangan untuk memastikan identitas korban. Lebih dari itu, data ini bisa mempercepat proses pemberian santunan kepada keluarga korban. Jangan sampai keluarga yang sudah kehilangan justru dipersulit karena masalah administrasi yang sepele.
“Ke depannya, pak Direktur, tolong diperintahkan agar data penumpang harus selaras dengan orang yang benar-benar ada di dalam bus,” pesan Nasjwin dengan nada serius.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalan. Kalau pun ada penumpang yang naik di tengah jalan, kita tetap wajib meminta data mereka. Ini catatan penting yang tak boleh diulangi,” tambahnya lagi.
Nasjwin pun meminta PT ALS untuk bergerak cepat melengkapi data seluruh penumpang yang terlibat kecelakaan. Jangan sampai keluarga korban dirugikan karena kelalaian perusahaan. Proses administrasi santunan tidak boleh terhambat hanya karena ulah nakal anak buah di lapangan.
Kronologi Mengerikan: Bus ALS Tabrak Truk Tangki, Lalu Ledakan Dahsyat!
Lantas, bagaimana awal mula kecelakaan maut ini? Peristiwa nahas itu terjadi di Jalur Lintas Sumatera, tepatnya di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, pada Rabu (6/5/2026) siang yang panas. Bus ALS bernopol BK-7778-DL itu bertabrakan hebat dengan truk tangki minyak bernopol BG-8196-QB.
Kabid Humas Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, memberikan kronologi detailnya. Menurutnya, bus ALS melaju dari arah Lubuk Linggau menuju Jambi. Tiba-tiba, sopir bus panik karena hendak menghindari lubang besar di jalan. Akibatnya, bus oleng, kehilangan kendali, dan melompat ke jalur kanan.
Dari arah berlawanan, truk tangki melaju tanpa bisa menghindar. Tabrakan frontal pun tak terelakkan. Benturan keras itu langsung memicu percikan api. Kedua kendaraan yang mengangkut bahan mudah terbakar itu pun langsung diselimuti kobaran api yang dahsyat.
“Hingga saat ini, tercatat total korban sebanyak 20 orang. Rincinya, 16 orang meninggal dunia, 3 orang luka berat, dan 1 orang luka ringan,” jelas Nandang pada Kamis (7/5/2025).
Proses identifikasi korban meninggal disebutnya masih berlangsung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sumsel dibantu Tim DVI Pusdokkes Mabes Polri bekerja keras di Posko DVI Instalasi Forensik RS Bhayangkara sejak pukul 07.30 WIB. Pekerjaan ini sangat sulit karena mayoritas korban luka bakar serius akibat kobaran api.
Sopir hingga Kru Ikut Tewas Terbakar
Kasatlantas Polres Musi Rawas Utara, AKP M Karim, mengungkapkan duka lebih dalam. Sopir bus ALS bernama Alif (44), warga Jawa Tengah, ditemukan meninggal dalam kondisi mengenaskan, seluruh tubuhnya terbakar.
Namun, ada sedikit cerita heroik. Seorang kernet bus bernama M Fadli asal Riau berhasil selamat setelah memecahkan kaca bus dan melompat keluar. Sementara itu, kernet lainnya yang bernama Saf (50), warga Medan, tidak beruntung. Ia ikut meninggal dunia di dalam bus yang membara.
“Untuk pengemudi mobil tangki, bernama Yanto, bersama kernetnya, Martini, juga meninggal dunia. Mereka adalah warga Belani, Kabupaten Muratara,” kata Karim pada Rabu (6/5/2026). “Identitas korban tewas lainnya masih terus kami dalami,” pungkasnya.
UPDATE Daftar Korban (Siapa Saja yang Sudah Teridentifikasi?)
Polda Sumatera Selatan telah merilis sebagian nama korban. Berikut datanya:
Korban Meninggal Dunia:
- Aryanto (49), pengemudi mobil tangki Seleraya, warga Lubuk Linggau.
- Martono (48), penumpang mobil tangki Seleraya, warga Musi Rawas Utara.
- Alif (44), pengemudi bus ALS, warga Jawa Tengah.
- Saf (50), kernet bus ALS, warga Medan.
- Maleh (42), kru bus ALS, warga Medan.
- Relodo, penumpang bus ALS.
- Zulkifli, penumpang bus ALS.
- Aldi Sulistiawan, penumpang bus ALS.
- Rani, penumpang bus ALS (istri Aldi Sulistiawan).
- Bela, penumpang bus ALS (anak Aldi Sulistiawan & Rani).
- Enam korban lainnya masih dalam proses identifikasi DVI Polri.
Korban Selamat (Masih Dirawat):
- Jumiatun (35), warga Pati, Jateng (luka bakar).
- Ngadiono (44), warga Pati, Jateng (luka bakar).
- Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal (luka bakar).
- M Fadli bin Ibrahim (30), kernet bus ALS asal Riau (luka lecet ringan).
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











