Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Gugurnya Prajurit Konga TNI di Lebanon Disorot Pakar UI: Evaluasi BoP Perlu Segera Dilakukan

JAKARTA, Cinta-news.com – Dunia internasional kembali diguncang insiden berdarah. Seorang prajurit TNI gugur, dua lainnya luka-luka setelah posisi mereka di Lebanon dihantam serangan Israel. Akibat kejadian ini, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, langsung angkat bicara. Menurutnya, ini saatnya Indonesia melakukan evaluasi total atas keikutsertaannya di Board of Peace (BoP). Sebagai informasi, BoP merupakan forum kerja sama internasional yang digagas langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

KORBAN BERPULANG, EVALUASI WAJIB DILAKUKAN!

Keputusan mengevaluasi keanggotaan ini menjadi sangat krusial. Mengapa demikian? Sebab insiden nahas itu terjadi pada Minggu (29/3/2026), di mana Israel melancarkan serangan brutal ke Lebanon. Dalam serangan tersebut, tak hanya personel TNI yang menjadi korban. Namun, yang lebih memilukan, dua anggota TNI lainnya juga dilaporkan menderita luka-luka. Lantas, apa hubungannya dengan forum perdamaian buatan Trump?

“Betul sekali, ini perlu menjadi bahan evaluasi kepesertaan kita di BoP,” ujar Hikmahanto dengan tegas saat ditemui pada Senin (30/3/2026). Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam. Evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan oleh Indonesia terhadap forum yang diinisiasi oleh AS tersebut.

SERANGAN SENGAAJA? INI BUKAN LAGI KECELAKAAN, TAPI KEJAHATAN PERANG!

Dalam analisis hukumnya yang tajam, Hikmahanto langsung menyoroti motif di balik serangan tersebut. Ia berpendapat, serangan Israel yang merenggut nyawa prajurit TNI ini sangat bisa dikategorikan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Namun, ada satu syarat penting: apabila serangan itu dilancarkan secara sengaja oleh Israel.

Lalu, bagaimana cara membuktikannya? “Betul, sangat bisa bila memang secara sengaja,” tegas Hikmahanto tanpa basa-basi. Fakta di lapangan harus segera dikumpulkan oleh UNIFIL. Jangan sampai ada tumpang tindih kepentingan yang melindungi pelaku kejahatan perang. Masyarakat internasional pun didesak untuk tidak berpura-pura buta.

TINDAKAN NYATA DARI PBB SANGAT DINANTIKAN! JANGAN CUMA RETORIKA!

Lebih lanjut, Guru Besar UI itu juga menyoroti status prajurit TNI yang gugur. Ia mengingatkan bahwa para prajurit tersebut bukanlah sembarang tentara. Mereka adalah bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) TNI yang bertugas di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Artinya, mereka adalah pasukan penjaga perdamaian PBB yang seharusnya dilindungi, bukan malah dijadikan sasaran tembak.

Oleh karena itu, langkah tegas dan konkret harus segera diambil oleh PBB terhadap Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak boleh lagi hanya mengeluarkan pernyataan diplomatik basi. Dunia sedang menguji kredibilitas PBB saat ini.

“Sementara Indonesia mendorong PBB untuk melakukan langkah-langkah terhadap Israel,” ujar Hikmahanto dengan nada mendesak. Indonesia harus menjadi motor penggerak utama di Dewan Keamanan PBB. Jangan biarkan darah prajurit bangsa ini mengalir sia-sia tanpa ada konsekuensi hukum yang jelas.

KABAR DUKA DARI LEBANON: SATU GUGUR, SATU LUKA BERAT, DUA LUKA RINGAN

Sebelum analisis hukum ini bergulir, kabar duka telah lebih dulu menyebar dari medan tugas. Seorang prajurit kebanggaan Satgas Konga TNI yang bertugas di misi UNIFIL dinyatakan gugur akibat serangan mematikan Israel terhadap Lebanon. Duka mendalam menyelimuti seluruh markas TNI.

Bukan hanya satu korban jiwa yang jatuh. Beberapa prajurit lainnya juga harus meregang nyawa atau setidaknya merasakan panasnya pecahan peluru. Mereka mengalami luka-luka akibat peristiwa berdarah yang tidak boleh terulang lagi ini.

“Terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu 1 orang meninggal dunia, 1 dalam kondisi luka berat, dan 2 luka ringan,” jelas Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait pada Senin (30/3/2026). Ia menyampaikan data ini dengan nada berduka namun profesional.

PROSES KLARIFIKASI MASIH BERLANGSUNG, MARI KITA TUNGGU HASILNYA

Di tengah suasana duka dan kemarahan publik, proses klarifikasi tetap berjalan. Rico memastikan bahwa sejauh ini, seluruh korban luka telah segera mendapatkan penanganan medis yang intensif. Tim medis dikerahkan maksimal oleh UNIFIL dan TNI untuk menyelamatkan nyawa yang masih bisa diselamatkan.

Namun, di sisi lain, Rico juga memberikan klarifikasi penting mengenai kronologis kejadian. Ia memastikan bahwa peristiwa nahas ini terjadi di tengah situasi mencekam. Saat itu, sedang terjadi saling serang artileri yang brutal dari kedua belah pihak, antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon. Dalam kondisi silang tembak seperti itu, posisi pengamat perdamaian menjadi sangat rentan.

“Dan proses klarifikasi masih dilakukan oleh UNIFIL,” ujar Rico mengakhiri pernyataannya. Siapa yang salah? Apakah serangan itu terukur atau sembarangan? Semua pertanyaan itu kini berada di meja hijau investigasi UNIFIL. Indonesia pun menunggu dengan napas tertahan. Satu hal yang pasti: Indonesia perlu evaluasi, dan evaluasi itu harus segera dimulai dari keikutsertaan di BoP. Jangan sampai prajurit kita jadi tumbal lagi demi kepentingan kekuatan besar!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version