Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Gerbang Digembok Sepihak, Puluhan Siswa SMK Kesehatan Nusantara Terpaksa Sistem Daring

PAMEKASAN, Cinta-news.com – Baru-baru ini, para pelajar SMK Kesehatan Nusantara Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mendadak merasakan pahitnya situasi darurat. Sebab, pada Sabtu (16/5/2026), mereka terpaksa menjalani pembelajaran daring, bukan karena pandemi, melainkan akibat sebuah kejutan besar: gedung sekolah mereka disegel!

Awal Mula Kunci Gembok Terpasang di Gerbang SMK

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata, peristiwa menyedihkan ini bermula sejak Senin (11/5/2026). Sejak hari itu, total 90 siswa tidak bisa lagi menjejakkan kaki ke ruang kelas mereka. Seseorang menggembok pintu utama sekolah rapat-rapat, bahkan seorang wanita bernama Arofatin Nisa’ dengan lantang memasang spanduk besar yang mengaku sebagai pemilik sah lahan sekolah. Bayangkan, tiba-tiba seluruh aktivitas belajar mengajar lumpuh total!

Kepala SMK Kesehatan Nusantara, Ahmad Mahfud, dengan nada penuh harap sekaligus prihatin menjelaskan bahwa untuk sementara waktu, para siswa harus belajar dari rumah atau daring. “Ini hanya berlangsung sementara, kok,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (16/5/2026). “Selagi kami belum mendapatkan tempat yang layak, terpaksa begini dulu keadaannya.”

Mediasi Panas yang Terus Berjalan di Belakang Layar

Di balik pernyataan itu, upaya mediasi tetap berjalan panas. Mahfud mengungkapkan bahwa dirinya dan jajaran sekolah masih terus berupaya mati-matian melakukan mediasi dengan pihak yang mengklaim sebagai pemilik tanah. Sebab, menurut cerita panjang yang berkembang, tanah seluas hampir setengah hektar itu sebenarnya dihibahkan secara cuma-cuma oleh seorang dermawan bernama H. Muzakki kepada Yayasan Kunci Ilmu. Lalu, kenapa tiba-tiba ada klaim sepihak?

Pihak sekolah tidak tinggal diam. Mahfud menambahkan dengan tegas bahwa mereka tengah mencari lokasi darurat yang layak agar proses belajar tetap berjalan. “Insyaallah, dalam waktu dekat ini, kami usahakan supaya siswa bisa belajar tatap muka lagi, meskipun mungkin hanya di ruang terbuka atau luar kelas,” kata Mahfud penuh semangat.

Hari-hari terasa makin berat bagi para siswa. Menurut pengakuan Mahfud, saat berita ini diungkapkan, para siswa sudah memasuki hari ketiga menjalani sistem daring. Sebelum libur dua hari kemarin, mereka sudah tidak bisa lagi belajar di dalam gedung. Ironisnya, seluruh fasilitas pendidikan – mulai dari meja, kursi, papan tulis, hingga alat peraga – masih tertahan di dalam gedung yang disegel. Pihak sekolah pun kesulitan luar biasa untuk bisa mengakses gedung itu. “Sehari setelah penyegelan, kami langsung melobi Ibu Arofatin Nisa’ agar pintu mau dibuka lagi. Namun, hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kebaikan dari beliau,” keluh Mahfud.

Sertifikat Berubah Nama Tanpa Sepengetahuan Yayasan

Mahfud kemudian membeberkan fakta mengejutkan: Lahan yang selama ini ditempati SMK Kesehatan Nusantara adalah tanah hibah dari H. Muzakki kepada Yayasan Kunci Ilmu. Namun, tiba-tiba, sertifikat tanah yang awalnya tercatat atas nama pemilik pertama, H. Tohir, secara misterius berubah menjadi atas nama Arofatin Nisa’. “Perubahan nama itu terjadi tanpa sepengetahuan Yayasan Kunci Ilmu sama sekali,” tegas Mahfud dengan nada kecewa. “Padahal, semestinya sertifikat itu ditujukan atas nama yayasan, bukan perorangan.”

Fakta lain yang tak kalah mengejutkan adalah Arofatin Nisa’ ternyata bukan orang asing. Ia pernah menjabat sebagai bendahara yayasan, bahkan sempat menjadi Ketua Yayasan Kunci Ilmu. “Sekolah ini sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 2011. Namun, perubahan nama di sertifikat itu baru terjadi pada tahun 2014,” beber Mahfud. “Kami benar-benar tidak pernah diberi tahu.”

Di sisi lain, klaim Arofatin Nisa’ sangat kontras. Ketika dikonfirmasi secara terpisah, Arofatin belum mau menyebutkan kapan dia akan membuka segel tersebut. Malah, dia melontarkan pernyataan yang lebih kontroversial. “Tanah itu sudah saya jual, karena memang hartanya adalah milik saya pribadi,” ujarnya dengan tenang.

Dia punya logika sendiri. Arofatin menjelaskan bahwa sejak awal, sertifikat tanah itu memang sudah atas namanya. Karena itu, dia merasa berhak menyegel gedung sekolah setelah melayangkan dua kali somasi resmi kepada pihak SMK Kesehatan Nusantara. “Sebelum disegel, saya sudah ngasih somasi dua kali. Somasi pertama, saya kasih waktu satu bulan. Somasi kedua, cuma tiga hari,” tegas Arofatin. “Mereka tidak kunjung keluar, ya mau gimana lagi?”

Kini, nasib 90 siswa berada di ujung tanduk. Di tengah kisruh kepemilikan tanah yang alot ini, para siswa hanya bisa pasrah belajar dari rumah. Pihak sekolah terus berusaha mencari solusi, sementara mediasi tak kunjung membuahkan hasil. Apakah gedung ini akan terbuka kembali? Ataukah para siswa harus pindah ke tempat baru? Yang jelas, drama sengketa tanah SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan ini masih jauh dari kata usai. Satu hal yang pasti: semua mata kini tertuju pada mediasi selanjutnya. Akan kah ada titik terang? Kita tunggu bersama.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version