JAKARTA, Cinta-news.com – Bumi Sulawesi Tengah berguncang hebat! Pemerintah pun langsung mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani dampak bencana gempa tektonik dahsyat berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso. Kejadian ini sontak membuat warga setempat panik dan berlarian keluar rumah menyelamatkan diri.
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Pusat Gempa Regional (PGR) 4 Sulawesi BMKG, gempa utama tersebut berpusat pada koordinat 1,04 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur. Para ahli pun terus memantau pergerakan tanah di kawasan rawan bencana ini dengan sangat serius.
Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa setelah gempa utama terjadi, setidaknya sembilan kali gempa susulan telah mengguncang wilayah tersebut dengan magnitudo bervariasi antara 3,5 hingga 4,6. Kondisi ini tentu semakin memperparah kekhawatiran masyarakat yang masih trauma dengan peristiwa gempa dahsyat beberapa tahun lalu.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, dengan tegas memastikan bahwa isu tsunami yang beredar luas di media sosial sama sekali tidak berdasar. Menurut penjelasannya, jenis gempa ini tergolong gempa darat sehingga tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
“Ini gempa darat, jadi karena lokasinya agak jauh di daratan dan tidak berada di pinggir laut, maka tidak berpotensi tsunami dan memang tidak terjadi tsunami kemarin di Palu,” ujar Abdul Muhari saat konferensi pers yang digelar pada Rabu (17/6/2026). Pernyataan ini pun langsung menenangkan masyarakat yang sebelumnya dilanda kepanikan berlebihan.
Kabupaten Sigi Paling Parah Terdampak
Sampai saat ini, tim gabungan dari berbagai instansi masih terus bahu-membahu melakukan upaya penanganan darurat pascagempa berkekuatan M 6,7 tersebut. Mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar para korban dapat terpenuhi dengan baik.
Abdul Muhari mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah dibandingkan daerah lainnya. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengirimkan bantuan tambahan.
“Dari data terkini yang kami himpun, jumlah warga terdampak di wilayah tersebut mencapai 1.813 kepala keluarga atau setara dengan 5.744 jiwa yang membutuhkan pertolongan segera,” jelas Abdul Muhari dengan nada prihatin. Jumlah yang fantastis ini pun menjadi prioritas utama dalam operasi kemanusiaan.
Lebih memilukan lagi, tercatat 71 orang mengalami luka ringan, tiga orang menderita luka berat, dan satu orang meninggal dunia akibat gempa dahsyat ini. Tim medis pun terus berjibaku menangani para korban luka di berbagai posko kesehatan darurat yang didirikan di lokasi pengungsian.
Tidak hanya korban jiwa, Kabupaten Sigi juga mencatatkan kerusakan infrastruktur yang cukup signifikan. Data sementara menunjukkan bahwa 1.074 unit rumah mengalami rusak ringan, 110 unit rumah rusak sedang, dan 30 unit rumah rusak berat. Angka ini dipastikan akan terus bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.
“Hingga kini, tim kami masih terus melakukan pendataan dan penanganan darurat di lapangan,” ucap Abdul Muhari. Proses evakuasi dan distribusi bantuan pun terus dioptimalkan untuk menjangkau seluruh korban yang tersebar di berbagai titik pengungsian.
Sementara itu, jumlah korban luka di Kota Palu tercatat dua orang, sedangkan di Kabupaten Poso terdapat satu warga yang mengalami luka-luka. Di sisi lain, sebanyak 21 kepala keluarga atau 40 jiwa dilaporkan terdampak di Kabupaten Parigi Moutong dan kini telah dievakuasi ke tempat aman.
Komdigi Bergerak Cepat Pulihkan Jaringan Telekomunikasi
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tidak tinggal diam! Mereka langsung tancap gas memulihkan 8 site BTS dari total 2.601 site yang mengalami gangguan di tiga kabupaten dan kota terdampak di Sulawesi Tengah. Langkah ini sangat krusial mengingat komunikasi menjadi urat nadi penanganan bencana.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) Komdigi, tercatat sebanyak 29 site BTS dari total 2.601 site atau sekitar 1,04 persen di tiga kabupaten dan kota yang terdampak mengalami gangguan. Namun, tim teknis terus bekerja keras untuk memulihkan semuanya.
“Dari jumlah tersebut, 8 site telah berhasil kami pulihkan atau sekitar 27,59 persen dari total site terdampak,” ungkap Komdigi dalam keterangan pers resmi yang dirilis pada Rabu. Capaian ini tentu patut diapresiasi mengingat medan yang sulit dan akses yang terbatas.
Data PMT menunjukkan masih terdapat 21 site BTS atau 72,41 persen yang masih dalam kondisi down. Gangguan telekomunikasi ini tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso sehingga menyulitkan koordinasi dan evakuasi korban.
Yang menarik, pemulihan tercepat terjadi di Kota Palu dengan 5 site BTS yang telah kembali beroperasi, disusul Kabupaten Sigi sebanyak 3 site. Sementara itu, proses pemulihan masih terus berlangsung di Kabupaten Poso yang memiliki 13 site terdampak.
“Berdasarkan laporan operator, gangguan ini disebabkan oleh terputusnya jalur transmisi dan pasokan listrik akibat dampak gempa yang meluluhlantakkan infrastruktur,” ungkap Komdigi. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi tim di lapangan.
Kemensos Kirim Bantuan Tenda dan Makanan Darurat
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan bahwa kementeriannya telah mengirimkan gelombang pertama bantuan berupa tenda dan makanan untuk para korban terdampak. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
“Tim kami saat ini sedang berada di lapangan dan kami terus memberikan dukungan logistik pada masa kedaruratan ini. Ada bantuan berupa tenda, kemudian juga logistik seperti makanan siap saji, atau buffer stock yang kami miliki, dan sebagian lagi kami juga mendirikan dapur umum,” kata Gus Ipul di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, pada Rabu (17/6/2026) dengan nada penuh empati.
Untuk tahap awal ini, Kemensos baru menyalurkan kebutuhan mendesak dan dipastikan semua bantuan sudah berada di lokasi dan titik-titik pengungsian. Hal ini tentu sangat membantu para korban yang membutuhkan perlindungan dan makanan hangat segera.
Ketika data dan jumlah riil penyintas sudah diterima secara lengkap, maka bantuan tambahan akan segera diberikan agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran dan efektif. Proses pendataan pun terus dipercepat dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
“Kami masih menunggu kepastian jumlah keluarga yang terdampak. Ada yang luka-luka mungkin, ada yang meninggal. Tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan konfirmasi pasti ya, tentang jumlah yang meninggal atau jumlah yang luka-luka,” kata Gus Ipul dengan hati-hati. Namun demikian, upaya pencarian data terus dilakukan tanpa henti.
Pemerintah pun berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi dan akan segera menambah bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Sinergi antara berbagai instansi pusat dan daerah pun terus diperkuat untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal dan seluruh korban mendapatkan hak-haknya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











