Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Perang AS vs Iran Pengaruhi Distribusi Kedelai, Perajin Tahu Pati Merasakan Tekanan

PATI, Cinta-news.com – Bulan April ini, para perajin tahu di Kabupaten Pati mulai merasakan pukulan telak dari kenaikan harga kedelai. Bukan rahasia lagi, bahan baku utama mereka mendadak melonjak drastis. Lantas, siapa yang paling terpukul? Tentu saja para pengrajin kecil yang menggantungkan hidup dari usaha tahu dan tempe.

Dari Rp9.000 Jadi Rp11.000, Kami Cuma Bisa Pasrah!

Ambil contoh Dion, seorang perajin gigih asal Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Dengan nada kesal sekaligus pasrah, ia meluapkan keluh kesahnya tentang lonjakan harga bahan baku yang tiba-tiba menjadi gila-gilaan. Menurut pengakuannya, kenaikan ini benar-benar di luar dugaan.

Dion menjelaskan dengan gamblang bahwa harga kedelai saat ini melambung tinggi jika dibandingkan dengan masa sebelum Ramadhan. “Coba bayangkan, dulu itu cuma sekitar Rp9.000 per kilogram. Sekarang, tiba-tiba melesat jadi Rp10.600 bahkan nyaris mencapai Rp11.000 per kilogram,” ujari dengan ekspresi miris saat kami temui di sela-sela kesibukannya di tempat usaha.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa dalam waktu yang relatif singkat, harga kedelai mengalami kenaikan fantastis sekitar Rp1.600 hingga Rp1.700 per kilogram. Bayangkan, dalam hitungan minggu, biaya produksi mereka membengkak begitu saja. Oleh karena itu, Dion dan para perajin lain pun harus memutar otak keras agar usaha mereka tidak kolaps. Mereka terus berusaha bertahan tanpa membuat pelanggan kabur.

Berani Naikkan Harga? Enggak! Nanti Pelanggan Kabur!

Meskipun biaya bahan baku melambung tinggi, Dion mengakui bahwa dirinya belum berani menaikkan harga jual tahu. Ia diliputi rasa khawatir yang luar biasa: begitu harga naik, para pelanggan setianya bisa dengan mudah beralih ke produk lain. Jadi, ia memilih menahan sakit, walau dampaknya langsung menusuk kantong.

“Untuk sekarang, dampak ke penjualan sih belum kerasa banget. Tapi, keuntungan kami sudah jelas tergerus. Menipis, mas, menipis banget,” keluhnya dengan nada getir. Setiap hari, Dion menghabiskan sekitar 70 kilogram kedelai. Jumlah sebesar itu ia olah menjadi sekitar 40 papan tahu. Satu papannya sendiri berisi kurang lebih 100 potong tahu. Coba hitung sendiri berapa besar biaya tambahan yang harus ia tanggung setiap hari!

Dengan skala produksi sebesar itu, tentu kenaikan harga kedelai berpengaruh signifikan terhadap biaya operasional hariannya. Dion pun tak bisa tinggal diam. Ia kemudian mengungkapkan apa yang ia yakini sebagai biang kerok di balik musibah ini. Menurutnya, faktor global menjadi pemicu utama, termasuk konflik panas antara AS dan Iran.

Perang AS-Iran & Kedelai Impor: Biang Kerok yang Bikin Perajin Merana

Ia pun menilai bahwa situasi geopolitik yang memanas ikut mengacaukan distribusi dan meledakkan harga komoditas dunia. “Kalau saya baca-baca berita, sih, memang ada pengaruh dari konflik luar negeri itu. Antara Amerika, Israel, sama Iran. Katanya sih itu berdampak langsung ke harga kedelai,” terangnya sambil menggeleng.

Selain faktor perang, Dion juga menyoroti ketergantungan Indonesia yang begitu parah terhadap kedelai impor. Fakta pahit ini menjadi faktor utama kerentanan para perajin. Saat ini, sebagian besar kedelai yang membanjiri pasar Tanah Air didatangkan dari negara-negara Amerika Latin, seperti Brasil dan Argentina. Sayangnya, kedelai lokal belum bisa menjadi solusi jitu.

Dion mengaku bahwa alternatif menggunakan kedelai lokal ternyata gagal total menjadi penyelamat. Ia mengungkapkan dua kendala utama yang menghadang. Pertama, ketersediaannya sangat terbatas. Kedua, kualitasnya dinilai masih kalah bersaing dibanding kedelai impor. “Barangnya susah dicari, terbatas banget. Terus kualitasnya juga masih kurang bagus. Jadi ya terpaksa tetap pakai yang impor,” tambahnya pasrah.

Di tengah himpitan ini, para perajin tahu berharap pemerintah bergerak cepat. Mereka ingin stabilitas harga kedelai segera dipulihkan. Harga ideal yang mereka idam-idamkan adalah berada di kisaran Rp9.000 per kilogram. “Kalau masih di angka Rp9.000 itu, kami masih bisa napas. Masih bisa dapat untung dan punya simpanan,” ujar Dion penuh harap.

Kenaikan harga kedelai ini jelas bukan isu sepele. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena langsung menghantam pelaku usaha kecil. Para perajin tahu dan tempe adalah garda terdepan konsumsi protein masyarakat sehari-hari. Jika kondisi gila ini terus berlanjut, jangan kaget jika harga produk olahan kedelai di pasaran ikut meledak tinggi. Siap-siap dompet menipis, ya!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version