KARAWANG, Cinta-news.com – Air terjun yang indah berubah menjadi mimpi buruk! Dua wisatawan asal Karawang, Jawa Barat, kehilangan nyawa setelah longsor mengerikan menyapu mereka di jalur menuju Curug Cileat, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada Jumat (15/5/2026) sore. Kepada publik, pihak berwenang mengonfirmasi tragedi ini dengan duka mendalam.
Kedua korban yang naas itu adalah Alda Apriliani (22) dan Winda Lianbong (20). Setelah kejadian, keluarga langsung diliputi kepanikan karena kedua gadis itu dilaporkan hilang. Ternyata, longsor dahsyat tiba-tiba menerjang jalur setapak yang sempit dan curam tepat saat rombongan mereka hendak meninggalkan kawasan wisata air terjun tersebut. Sungguh perjalanan pulang yang berubah menjadi petaka.
Duka luar biasa kini menyelimuti keluarga korban, terutama rumah keluarga Alda di Kampung Sukamanah Timur, Desa Cikampek Barat, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang. Pada Sabtu (16/5/2026), ratusan pelayat berduyun-duyun datang ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa yang tulus. Di sana, suasana haru begitu terasa.
Ayah Alda, Amud, sama sekali tak kuasa membendung kesedihannya. Sambil terbata-bata, ia menceritakan kepergian putri kesayangannya. Air matanya terus mengalir deras. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.
Keluarga Menyayangkan Minimnya Peringatan di Lokasi
Di tengah duka yang menghimpit, Amud dengan lantang menyayangkan ketiadaan informasi peringatan mengenai potensi longsor di Curug Cileat. Menurutnya, pengelola wisata semestinya memasang pemberitahuan yang jelas dan mencolok. Terlebih lagi, jalur ini jelas memiliki risiko longsor, apalagi ketika hujan mulai turun. Kelalaian ini sungguh tidak bisa diterima.
“Saya sangat menyayangkan tidak ada pemberitahuan sama sekali bahwa di sini sering terjadi longsor,” ucap Amud dengan nada kecewa. “Jika ada peringatan yang terpasang, mungkin pengunjung bisa jauh lebih waspada dan mengantisipasi bahaya,” tambahnya menyayangkan.
Lebih lanjut, Amud mengungkapkan isi hati yang semakin pedih. Rombongan korban hanya mendapat imbauan yang sangat sederhana. Pihak sekitar hanya berpesan agar pengunjung berhati-hati jika hujan turun saat sedang berada di area atas curug. Sungguh imbauan yang terlalu minim untuk kondisi yang ekstrem.
“Hanya bilang, ‘kalau hujan ya berteduh saja’,” cerita Amud menirukan pesan tak resmi tersebut. Ia merasa peringatan seperti itu tidaklah cukup. Informasi tentang sejarah longsor di jalur itu sama sekali tidak disampaikan secara gamblang.
Alda Hanya Pamit ke Ibunya Sebelum Pergi
Beralih ke momen sebelum keberangkatan, Amud menceritakan detail yang memilukan. Alda hanya berpamitan kepada ibunya untuk pergi bersama teman-temannya. Ia tidak sempat berpamitan dengan sang ayah karena saat itu sedang tidak di rumah. Sebuah penyesalan kecil yang kini terasa begitu besar.
“Kalau ke saya sih enggak, cuma ke mamanya doang,” ujar Amud dengan suara lirih penuh penyesalan. “Bilangnya mau main sama teman-temannya. Saya tidak pernah menyangka ini akan jadi perpisahan terakhir,” katanya mengharukan.
Menurut pengakuan keluarga, Alda berangkat sendirian dari rumah mengendarai sepeda motor. Sesampainya di lokasi kumpul, barulah ia bertemu dengan teman-temannya yang lain. Kabar duka ini pun sampai ke keluarga selepas waktu magrib melalui sambungan telepon dari teman korban yang berhasil selamat dari kejadian longsor tersebut.
“Saya dapat kabar habis magrib dari temannya Alda yang selamat,” kenang Amud dengan suara bergetar. Ia langsung terpana dan tak percaya mendengar berita tersebut. Sungguh kenyataan pahit yang harus dihadapinya.
Rombongan Terpaksa Menunggu Hujan Reda
Berdasarkan keterangan dari Rifky, teman korban yang selamat, kelima wisatawan itu awalnya berangkat ke Curug Cileat untuk menghabiskan libur panjang. Mereka sangat antusias karena sebelumnya sudah merencanakan perjalanan ini dengan matang. Cuaca pun masih cukup bersahabat saat berangkat.
Mereka tiba di lokasi sekitar Jumat siang dan sempat menikmati keindahan air terjun dengan puas. Namun, kegembiraan itu harus sirna ketika hujan deras tiba-tiba mengguyur kawasan tersebut tanpa ampun. Air hujan turun dengan sangat lebat.
“Jam tiga sore kami mau pulang tapi kehalang hujan deras,” ujar Rifky kepada wartawan pada Sabtu (16/5/2026). “Jadi mereka memutuskan menunggu reda dulu sambil berlindung di bawah tebing,” jelasnya menggambarkan situasi saat itu.
Setelah hujan mulai reda sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan pun memutuskan segera pulang. Mereka melewati jalur setapak yang sempit di sisi tebing. Jalanan yang sudah sangat licin dan hanya cukup dilalui satu orang membuat mereka berjalan sambil saling berpegangan tangan dengan hati-hati.
Dua Korban Terseret Longsor di Depan Mata
Saat rombongan berjalan merambat di jalur ekstrem itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh mengerikan dari atas tebing. Tanpa memberi kesempatan banyak, tanah dan bebatuan langsung meluncur deras menerpa mereka. Kengerian sesaat meledak di antara mereka.
Tiga wisatawan yang berada di posisi depan berhasil berlari menyelamatkan diri dengan sigap. Namun, dua korban yang berada di posisi belakang, yaitu Alda Apriliani dan Winda Lianbong, sama sekali tidak sempat menghindar. Mereka langsung terseret hebat oleh longsoran tanah serta bebatuan yang menghancurkan.
“Katanya ada suara gemuruh keras, lalu longsor langsung turun,” cerita Rifky menggambarkan detik-detik mencekam itu. “Yang tiga orang sempat lari menyelamatkan diri, yang dua enggak sempat,” ucapnya dengan suara bergetar mengingat kejadian tersebut.
Rifky juga menambahkan bahwa korban cukup sering melakukan wisata alam dan pendakian bersama teman-temannya. Curug Cileat bahkan sudah pernah dikunjungi korban sebelumnya. Sayangnya, pengalaman itu tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari musibah longsor yang tak terduga.
Tim SAR Kerahkan 120 Personel untuk Evakuasi
Sejak Sabtu pagi, tim SAR gabungan langsung bergerak cepat melakukan pencarian terhadap Alda dan Winda. Sebanyak 120 personel diturunkan untuk menyisir titik longsoran hingga ke jalur material yang membentang lebih dari 100 meter ke bawah jurang. Semua bekerja keras tanpa kenal lelah.
Pencarian terhadap kedua korban akhirnya membuahkan hasil pada Sabtu siang. Winda Lianbong pertama kali ditemukan sekitar pukul 11.23 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Jasadnya terkubur di antara tumpukan tanah dan bebatuan.
Tak jauh dari lokasi penemuan Winda, petugas juga menemukan Alda Apriliani. Ia tertimbun material longsor dalam posisi berdekatan dengan temannya. Keduanya ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa. Keluarga yang menunggu pun histeris mendengar kabar ini.
Jenazah kedua korban akhirnya berhasil dievakuasi dengan susah payah oleh tim SAR. Mereka langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan. Kini, dua pemudi itu telah kembali ke pangkuan Illahi meninggalkan duka mendalam bagi semua yang mengenal mereka.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
