Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Musibah Kebakaran Terparah di Desa Sade, 167 Bangunan dan Warisan Budaya Ludes

Cinta-news.com – Malam itu, Sabtu (22/8/2026), kobaran api tiba-tiba menyambar permukiman warga di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Warga sontak panik ketika lidah api menjilat rumah-rumah adat yang telah berdiri kokoh selama bergenerasi. Bukan hanya bangunan fisik yang menjadi korban, melainkan juga pusaka leluhur yang tak ternilai harganya ikut hangus terbakar dalam insiden memilukan ini.

Bayangkan betapa hancurnya hati masyarakat Sasak ketika menyaksikan warisan budaya mereka ludes dalam sekejap. Sedikitnya 167 bangunan terdampak parah, dengan 75 unit di antaranya merupakan rumah adat yang menjadi jantung kawasan permukiman sekaligus destinasi wisata budaya kebanggaan Suku Sasak. Kebakaran ini bahkan tercatat sebagai yang terparah sepanjang sejarah Desa Adat Sade.

Menteri Kebudayaan angkat bicara! Ini daftar kerugian yang mengeporkan

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia segera merilis data lengkap kerugian akibat kebakaran maut tersebut dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin (24/8/2026). Mari kita simak betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan.

Deretan bangunan adat yang rata dengan tanah

Api membabi buta melahap berbagai bangunan ikonik di Desa Adat Sade. Berikut rincian bangunan yang hangus terbakar:

  • 75 unit rumah adat ludes tak tersisa, meninggalkan puing-puing yang menyayat hati penghuninya
  • 69 unit toko kerajinan atau art shop yang menjadi sumber penghidupan warga ikut menjadi korban keganasan api
  • 8 unit lumbung alang yang menyimpan hasil panen warga turut rata dengan tanah
  • 6 unit berugak atau berugaq sekepat (bale-bale khas Suku Sasak) terdampak parah
  • 4 unit berugak sekenam besar juga tak luput dari sambaran api
  • 1 unit masjid tempat warga beribadah ikut terdampak kebakaran
  • 1 unit bale beleq sebagai simbol kebesaran adat pun nyaris hilang
  • 1 unit toilet umum wisatawan terdampak kebakaran
  • 1 unit gerbang desa yang menjadi pintu masuk kawasan wisata ikut rusak
  • 1 unit pelonggo tempat berkumpul warga juga terkena imbasnya

Kebayang dong bagaimana kelamnya suasana di sana? Rumah-rumah adat yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara kini hanya menyisakan abu dan kenangan pahit.

Pusaka leluhur yang hilang selamanya

Lebih memilukan lagi, kebakaran ini tidak hanya merenggut bangunan fisik. Api dengan kejam menghanguskan berbagai benda pusaka dan warisan budaya berharga milik masyarakat Sasak yang memiliki nilai spiritual dan historis sangat tinggi. Coba bayangkan, setiap keluarga rata-rata kehilangan tiga hingga empat bilah keris yang tidak sempat diselamatkan karena apinya begitu cepat merambat.

Berikut daftar benda pusaka yang musnah dalam kebakaran:

  • Berbagai jenis keris, tombak, dan klewang yang diwariskan turun-temurun hangus menjadi arang
  • 10 set peralatan seni Peresean yang menjadi kebanggaan budaya Sasak ludes terbakar
  • 8 unit Gendang Beleq yang mengiringi berbagai upacara adat ikut musnah
  • Gong Tua ritual yang digunakan dalam upacara keagamaan turut menjadi korban
  • Naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta yang menyimpan pengetahuan leluhur hilang untuk selamanya

Namun, ada kabar baik di tengah duka ini. Sebanyak empat unit Gendang Beleq berhasil diselamatkan dari amukan api. Berkat kerja cepat warga, sebagian kecil warisan budaya masih terselamatkan.

Langkah darurat! Pemerintah siapkan strategi penyelamatan

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, segera bergerak cepat menangani musibah ini. Dalam keterangan resminya, beliau menegaskan bahwa prioritas utama pada fase tanggap darurat adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa.

“Kami melakukan penyelamatan fisik dengan menyisir sisa-sisa reruntuhan demi menyelamatkan sisa kain tenun (wastra), benda pusaka berupa keris atau tombak, dan fragmen manuskrip kuno yang hangus,” ungkap Menteri Kebudayaan.

Tak hanya itu, tim juga gencar melakukan penyelamatan nonfisik. Mereka mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat. Hal ini bertujuan agar memori kolektif masyarakat Sade tidak hilang ditelan waktu.

Rencana pemulihan Desa Adat Sade! 3 pilar utama siap diwujudkan

Kementerian Kebudayaan tidak tinggal diam. Mereka dengan sigap mengusulkan rekomendasi pemulihan dan rencana aksi bersama pemerintah daerah dan pemangku adat setempat. Tiga pilar utama usulan rekomendasi pemulihan pun dirumuskan secara matang.

1. Pemulihan fisik desa: bangun kembali dengan material tradisional

Proses pemugaran bangunan akan dilakukan menggunakan bahan baku tradisional asli berupa kayu, bambu, ijuk, dan alang-alang. Namun, yang membedakan adalah revitalisasi dengan penambahan fasilitas mitigasi dan pencegahan kebakaran. Dengan begitu, kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang.

2. Pemulihan ekonomi: dukung mata pencaharian warga

Pemerintah juga berkomitmen memulihkan kondisi perekonomian warga terdampak. Mereka akan memberikan dukungan sarana dan prasarana penunjang ekonomi tradisional, seperti penyediaan kembali alat tenun beserta perlengkapannya bagi warga yang kehilangan mata pencaharian.

3. Pemulihan Objek Pemajuan Kebudayaan: rekonstruksi sejarah

Langkah mulia ini dilakukan melalui duplikasi manuskrip kuno yang terbakar. Tim akan memanfaatkan koleksi manuskrip sejenis yang tersimpan di Museum NTB untuk merekonstruksi kembali pengetahuan yang hilang.

4 tahap strategis pemulihan yang siap dijalankan

Rencana pemulihan ini akan dipetakan ke dalam empat tahap strategis yang sistematis:

Tahap I Tanggap Darurat – Tim akan fokus pada pengamanan lokasi dan penyelamatan sisa material yang masih bisa diselamatkan

Tahap II Asesmen dan Dokumentasi – Petugas melakukan pengukuran arsitektur dan inventarisasi benda budaya yang tersisa

Tahap III Pelindungan dan Pemulihan – Tim menyusun kajian teknis dan memulai pemulihan bangunan secara bertahap

Tahap IV Penguatan Keberlanjutan Budaya – Digitalisasi dokumen dan peningkatan sistem kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas akan menjadi prioritas

Dari desa wisata kekinian, tapi tidak tercatat di Dapobud!

Tahukah Anda, Desa Adat Sade ternyata memiliki sejarah panjang sebagai destinasi wisata budaya. Secara resmi, desa ini telah diakui sebagai desa wisata sejak tahun 1982. Bahkan, Kementerian Pariwisata telah memberikan pengakuan sejak tahun 1993 sebagai bagian penting dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Namun, hasil penelusuran awal pasca-insiden mengungkap fakta mengejutkan. Desa Adat Sade ternyata belum tercatat atau terdaftar dalam basis Data Pokok Kebudayaan (Dapobud) Kabupaten Lombok Tengah. Sungguh ironis mengingat besarnya nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Sumber api terungkap! Korsleting listrik jadi biang utama

Sebelumnya, kawasan permukiman tradisional suku Sasak di Desa Adat Sade yang terletak di Dusun Sade 1, RT 1, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, dilanda kebakaran sekitar pukul 22.05 Wita. Malam yang seharusnya tenang berubah menjadi momen paling mencekam dalam sejarah desa tersebut.

Berdasarkan informasi awal dari masyarakat setempat, kobaran api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga di sekitar area Pohon Cinta yang berada di tengah-tengah pemukiman, tidak jauh dari Masjid Tua. Penyebab kebakaran diduga kuat akibat hubungan arus pendek listrik (korsleting) karena kondisi jaringan kabel yang saling berdempetan.

Padatnya jarak antar-bangunan serta material atap jerami atau alang-alang yang mudah terbakar menyebabkan api sulit dikendalikan dan menyebar luas ke seluruh area Desa Adat Sade. Inilah pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya mitigasi bencana di kawasan permukiman padat dengan material tradisional yang rentan terbakar.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *