HANOI, Cinta-news.com – Gara-gara China dan Thailand tiba-tiba menutup keran ekspor avtur, maskapai-maskapai di Vietnam kini jungkir balik memutar otak. Dilansir dari AsiaOne, Selasa (17/3/2026), negeri tetangga kita ini benar-benar terancam kehabisan bensin buat pesawat. Padahal, kita semua tahu, pesawat tanpa avtur sama saja seperti nasi tanpa lauk—gak bisa kemana-mana!
Regulator penerbangan Vietnam sampai angkat bicara dan mengeluarkan peringatan yang bikin bulu kuduk merinding. Mereka bilang, industri penerbangan nasional harus bersiap menghadapi skenario terburuk: pemangkasan besar-besaran jadwal penerbangan. Bayangin, liburan atau perjalanan bisnis kalian bulan depan bisa berantakan gara-gara masalah ini.
Sebuah dokumen rahasia yang bocor ke Reuters mengungkap fakta mencengangkan. Ternyata, Vietnam itu seperti pecandu berat avtur impor—lebih dari dua pertiga kebutuhan bahan bakar pesawat mereka bergantung pada kiriman dari luar negeri. Yang lebih bikin deg-degan, sekitar 60 persen pasokan itu selama ini bergantung pada China dan Thailand. Ketergantungan ini ibarat pisau bermata dua, enak waktu ada, tapi celaka waktu tiba-tiba putus.
Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam dengan terus terang mengakui situasi ini dalam dokumen tertanggal 9 Maret 2026. “Ada risiko nyata kekurangan bahan bakar jet bagi maskapai penerbangan Vietnam mulai awal April dan bulan-bulan berikutnya,” tulis mereka dalam pernyataan yang dikutip Reuters. Peringatan ini langsung mereka sampaikan ke kementerian perhubungan sebagai bentuk alarm darurat.
Merespons situasi genting ini, regulator langsung bergerak cepat. Mereka memerintahkan semua maskapai untuk duduk tenang dan mengkaji ulang rencana operasional mereka, terutama untuk rute domestik. Jangan sampai ada pesawat yang sudah menjual tiket tapi akhirnya batal terbang karena urusan teknis ini.
Tidak hanya itu, operator bandara juga kebagian tugas tambahan. Mereka diminta menyiapkan lahan parkir seluas-luasnya untuk pesawat-pesawat yang kemungkinan besar bakal nganggur lebih lama di darat. Frekuensi penerbangan yang seharusnya padat padat meriah terpaksa dikurangi drastis. Sungguh pemandangan menyedihkan yang mungkin akan kita saksikan.
Pasokan dari Singapura Ikut Merosot Tajam
Ceritanya makin runyam! Bukan cuma dua pemasok utama yang tutup keran, pasokan dari Singapura yang selama ini jadi andalan cadangan juga ikut-ikutan menurun. Situasi ini benar-benar mempersempit ruang gerak pemerintah dan para pelaku industri. Mereka seperti orang yang lagi jatuh tertimpa tangga—sudah krisis, opsi penyelamatannya juga terbatas.
Dua perusahaan importir avtur terbesar Vietnam, Petrolimex dan Skypec, buka-bukaan soal situasi terkini. Mereka mengaku hanya bisa menjamin pasokan sampai akhir Maret 2026. Setelah itu? Wallahu’alam! Skypec bahkan punya ide gila—mereka mendorong regulator untuk membatasi penerbangan hanya pada rute domestik yang dianggap paling penting dan mendesak, jika konflik yang memicu gangguan pasokan ini terus berlanjut.
Kebijakan China dan Thailand ini memang terjadi secara bertahap, tapi efeknya seperti bom waktu. China awalnya cuma minta kilang-kilang mereka untuk tidak meneken kontrak ekspor baru. Eh, tiba-tiba pada 11 Maret mereka memberlakukan larangan total ekspor bahan bakar olahan. Sadis!
Thailand juga tak kalah radikal. Sejak 6 Maret 2026, mereka sudah melarang ekspor produk minyak olahan, termasuk avtur. Satu-satunya yang masih dikasih dispensasi cuma Myanmar dan Laos—itu pun tetangga dekat mereka. Vietnam? Maaf, belum termasuk!
Ketika Reuters mencoba mengonfirmasi, baik regulator penerbangan, kementerian terkait, maupun perusahaan importir memilih bungkam seribu bahasa. Maskapai raksasa Vietnam Airlines dan VietJet yang biasanya heboh promosi tiket murah, sekarang pada tutup mulut. Mereka ogah berkomentar soal potensi dampak yang bakal menghantam operasi mereka.
Jalan Diplomasi Demi Selamatkan Penerbangan
Pemerintah Vietnam sadar betul, mereka tidak bisa tinggal diam. Mereka pun langsung tancap gas melakukan pendekatan diplomatik untuk mengamankan pasokan energi. Bukan main-main, Vietnam ternyata adalah pembeli avtur terbesar ketiga dari China tahun lalu—kalahkan sama Australia dan Jepang. Data bea cukai China membuktikan fakta ini.
Menteri Luar Negeri Vietnam Le Hoai Trung langsung bergerak. Dalam pertemuan yang sudah lama dijadwalkan di Hanoi, dia meminta mitranya dari China untuk berkoordinasi erat demi memastikan keamanan energi. Respons China cukup positif—juru bicara kementerian luar negeri mereka menyatakan siap meningkatkan kerja sama dengan Vietnam dan negara lain untuk menghadapi tantangan keamanan energi bersama.
Tidak berhenti di China, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh juga menemui duta besar Thailand di Vietnam. Dalam pertemuan itu, dia meminta dukungan Thailand untuk membantu mengatasi kekurangan pasokan. Sayangnya, sampai berita ini diturunkan, kementerian luar negeri kedua negara belum memberikan jawaban resmi. Ditunggu-tunggu, eh malah zonk!
Mencari Pemasok Baru di Tengah Keterbatasan
Otoritas penerbangan Vietnam punya ide cemerlang—mereka merekomendasikan pemerintah untuk mencari pemasok alternatif dari negara lain. Beberapa nama yang disebut-sebut antara lain Korea Selatan, Jepang, Brunei, dan India. Tapi masalahnya, di tengah krisis global seperti sekarang, mencari pemasok baru itu gampang? Jelas susah!
Sementara dari dalam negeri, dua kilang minyak Vietnam mengaku sedang kewalahan. Mereka ditekan untuk meningkatkan produksi produk minyak lainnya, sehingga sulit untuk menaikkan output avtur secara signifikan. Jadi opsi produksi domestik juga mentok di jalan buntu.
Harga Avtur Melambung Tinggi, Rute Penerbangan Bisa Bangkrut
Krisis ini tidak cuma soal ketersediaan, tapi juga soal harga. Regulator dengan gamblang memperingatkan bahwa meskipun pasokan berhasil distabilkan, lonjakan harga energi yang gila-gilaan bisa membuat banyak rute penerbangan tidak lagi menguntungkan. Maskapai bisa rugi besar kalau nekat terbang dengan harga avtur selangit.
Importir avtur juga mulai merasakan panas. Kenaikan harga yang tajam membuat mereka mendekati batas plafon kredit yang tersedia. Mereka pun merengek ke perbankan untuk memberikan fleksibilitas pembiayaan sampai kondisi pasar kembali normal. Gimana mau beli avtur kalau duitnya gak cukup?
Data harga dari LSEG menunjukkan kontrak swap avtur di Singapura untuk pengiriman bulan terdekat diperdagangkan sekitar 157 dollar AS per barrel. Angka ini lebih dari satu setengah kali lipat dibandingkan tingkat sebelum konflik yang memicu gangguan pasokan energi global. Gila, kan?
Potensi pemangkasan penerbangan di Vietnam ini menjadi bukti nyata bahwa gangguan rantai pasok energi di kawasan membawa dampak berantai yang mengerikan. Dengan ketergantungan super tinggi pada impor avtur dan minimnya alternatif dalam jangka pendek, sektor penerbangan Vietnam benar-benar memasuki masa-masa paling tidak pasti dalam sejarah mereka. April 2026 akan menjadi bulan penuh air mata bagi dunia penerbangan Vietnam—dan kita semua harus siap-siap menyaksikannya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
