Cinta-news.com – Tahukah Anda, PT KAI (Persero) Daop 4 Semarang sedang bergerak habis-habisan membenahi sektor keselamatan, terutama sekali di titik-titik perlintasan sebidang yang selama ini kita tahu sangat memprihatinkan dan rawan kecelakaan. Berdasarkan data terbaru, dalam periode 2024 hingga 30 April 2026, pihak Daop 4 Semarang sudah dengan tegas menutup 41 perlintasan sebidang tanpa penjagaan di seluruh wilayah operasionalnya. Maka dari itu, langkah ekstrem ini mereka lakukan sebagai bagian dari upaya keras menekan potensi kecelakaan maut di pertemuan rel kereta dengan jalan raya.
Siapa sangka, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, mengungkapkan secara rinci bahwa tindakan penutupan ini cukup masif. Sebagai contoh, pada tahun 2024 saja, pihaknya sudah menutup 18 perlintasan, kemudian di tahun 2025 jumlahnya melonjak menjadi 21 perlintasan, dan yang terbaru, hingga April 2026 ini, mereka sudah menambahkan 2 perlintasan lagi ke dalam daftar tutup. Menariknya, seluruh titik rawan ini tersebar di sepanjang jalur kereta sepanjang 677 kilometer, dimulai dari wilayah barat Kabupaten Tegal sampai dengan ujung timur dan selatan Kabupaten Blora.
Lantas, apa dasarnya? Kebijakan berani ini ternyata mengacu pada aturan yang jelas, yaitu Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 94 Tahun 2018 serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, tepatnya pada Pasal 94. Oleh karena itu, penutupan perlintasan tanpa izin ini bukan isapan jempol belaka, melainkan dilakukan secara resmi demi keselamatan bersama.
Jangan salah, Luqman menegaskan kembali bahwa langkah tegas ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk pencegahan yang terus-menerus mereka galakkan secara konsisten. Dalam wawancaranya, ia mengatakan dengan lantang, “Keselamatan adalah prioritas utama kami. Oleh sebab itu, penutupan perlintasan sebidang yang tidak dijaga dan tidak berizin ini kami lakukan sebagai langkah tegas untuk melindungi perjalanan kereta api sekaligus mengamankan masyarakat pengguna jalan,” ujarnya pada Kamis (30/4/2026). Pernyataan ini disampaikan dengan penuh keyakinan oleh sang manajer.
Bukan Cuma Nutup, Edukasi Juga Digencarkan
Namun, bukan cuma penutupan saja yang digencarkan. Selain itu, KAI Daop 4 juga aktif melakukan pendekatan lewat edukasi keselamatan. Coba bayangkan, sepanjang tahun 2024 hingga April 2026, telah dilaksanakan hingga 800 kegiatan sosialisasi! Kegiatan ini menyasar berbagai lokasi, mulai dari pinggiran perlintasan sampai ke lingkungan sekolah-sekolah. Hebatnya lagi, dalam setiap aksi, mereka melibatkan banyak pihak, seperti pemerintah daerah, instansi terkait, bahkan komunitas pecinta kereta api. Contoh kegiatannya pun beragam, seperti pemasangan spanduk, banner imbauan, serta pembagian materi edukatif kepada warga.
Penasaran bagaimana prosesnya? Ternyata, ada sejumlah tahapan panjang yang mereka jalani secara bertahap sebelum sebuah perlintasan benar-benar ditutup. Pertama, tim melakukan pemetaan lokasi perlintasan tanpa penjagaan yang berisiko tinggi. Kedua, mereka melanjutkan dengan evaluasi aspek keselamatan, misalnya volume lalu lintas, jarak pandang, hingga riwayat kecelakaan. Setelah itu, pihak KAI segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, dan aparat setempat. Di sisi lain, mereka juga gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta pemasangan rambu peringatan. Barulah setelah semua siap, penutupan fisik dilakukan melalui pemasangan portal atau penutupan akses permanen.
Lalu, perlintasan seperti apa yang jadi prioritas? Umumnya, kriteria pertama adalah perlintasan yang tidak memiliki izin resmi, tidak dijaga, serta minim fasilitas pengaman. Tak hanya itu, lokasi dengan risiko tinggi, misalnya yang punya jarak pandang terbatas atau berada di kawasan padat penduduk, juga langsung mereka bidik. Bahkan, perlintasan dengan volume kendaraan rendah tapi punya risiko tinggi, serta lokasi yang kerap terjadi pelanggaran atau kecelakaan, turut mereka masukkan ke dalam daftar sasaran penutupan. Yang lebih ekstrem lagi, akses jalan yang dibuka secara swadaya oleh masyarakat tanpa standar keselamatan juga tidak luput dari tindakan tegas mereka.
Kolaborasi Jadi Kunci, Keselamatan Tanggung Jawab Kita
Poin penting lainnya, dalam pelaksanaan aksi nekat ini, KAI tidak pernah bergerak sendirian. Mereka selalu berkolaborasi erat dengan berbagai pihak, termasuk Polri, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Oleh karena itu, pesan Luqman di akhir sangat mengena: “Kepedulian semua pemangku kepentingan, termasuk para pengguna jalan, sangat kami butuhkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman di sekitar jalur kereta api. Ingat, keselamatan perjalanan kereta api dan warga masyarakat sekitar jalur KA adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya di akhir perbincangan. Kesimpulannya, aksi heroik ini patut kita dukung bersama!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
