Cinta-news.com – Publik sepak bola internasional baru saja menyaksikan adegan yang benar-benar menegangkan! Kongres FIFA ke-76 yang berlangsung di Kanada berubah panas ketika Federasi Sepak Bola Palestina dengan tegas menolak berfoto dan bersalaman dengan delegasi dari Israel. Sungguh momen yang membuat seluruh peserta kongres terdiam!
Ketegangan memuncak saat Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, dengan sigap menolak ajakan bersalaman dan berfoto bersama pejabat sepak bola Israel, Basim Sheikh Suliman. Bayangkan, di tengah ajang yang seharusnya mempromosikan persatuan melalui olahraga, justru terjadi penolakan terbuka yang begitu vokal!
Detik-detik Canggung di Pentas Internasional
Peristiwa dramatis tersebut terjadi tepat pada penutupan Kongres FIFA di Vancouver, Kanada, Kamis (30/4/2026). Kedua perwakilan baru saja menyampaikan pidato mereka masing-masing. Tiba-tiba, suasana berubah seratus delapan puluh derajat!
Gianni Infantino, Presiden FIFA yang biasanya lihai mengatur situasi, langsung berusaha menjadi penengah. Dengan sigap, Infantino mengundang Rajoub dan Suliman untuk berdiri bersama dalam sesi foto persaudaraan. Namun, betapa terkejutnya semua orang ketika Rajoub memilih mundur dan tidak mengindahkan ajakan tersebut!
Infantino bahkan berusaha mati-matian membujuk Rajoub berkali-kali agar bersedia mengikuti sesi foto itu. Sayangnya, semua upaya diplomatik tersebut gagal total. Dengan lantang, Rajoub melontarkan kalimat yang membuat suasana semakin sunyi, “Kami sedang menderita.”
Gugatan Hukum yang Membara di Balik Layar
Sebelum kontroversi ini meledak di kongres, Federasi Sepak Bola Palestina sebenarnya sudah lebih dulu melancarkan perlawanan di jalur hukum. Mereka mengajukan banding keras ke Court of Arbitration for Sport (CAS) terkait keputusan FIFA yang dianggap merugikan.
Apa isi banding tersebut? Federasi Palestina menuntut FIFA untuk segera menjatuhkan sanksi kepada Israel! Akar permasalahannya sangat pelik, yakni keberadaan klub-klub sepak bola yang berbasis di wilayah Tepi Barat. Pihak Palestina menilai bahwa klub-klub tersebut tidak pantas diizinkan berkompetisi dalam liga yang dikelola otoritas sepak bola Israel.
Sorotan Pedas dari PBB
Isu sengit ini ternyata sudah mendapat perhatian serius dari komunitas internasional. Pada tahun 2024, sekelompok ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan berani menyampaikan temuan mengejutkan terkait aktivitas klub sepak bola di wilayah tersebut.
Hasil investigasi mereka sungguh mengagetkan! Para ahli PBB berhasil mengidentifikasi setidaknya delapan klub yang beroperasi di wilayah yang disebut sebagai permukiman kolonial Israel. Temuan ini langsung memicu gelombang kecaman internasional. Para ahli tersebut juga mendesak FIFA secara terbuka untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam menghormati hak asasi manusia secara sungguh-sungguh.
Pernyataan Pedas Rajoub Usai Kongres
Usai Kongres FIFA berakhir, Jibril Rajoub langsung menggelar konferensi pers yang tidak kalah panasnya. Dengan suara bergetar penuh emosi, ia kembali menegaskan sikap tegasnya terhadap badan sepak bola dunia tersebut.
“Orang yang berbicara mewakili Israel bahkan tidak memperhatikan penderitaan yang terjadi,” ujar Rajoub dengan nada kesal, seperti dilansir dari AFP. “Saya menolak berjabat tangan, bagaimana saya bisa berjabat tangan atau berfoto dengan orang seperti itu?” tegasnya tanpa kompromi.
Mendesak Keadilan dengan Lantang
Jibril Rajoub tidak berhenti di situ. Dalam kesempatan yang sama, ia melontarkan tuntutan keras kepada FIFA untuk segera bertindak sesuai aturan yang berlaku. Ia melukiskan kondisi memilukan yang terjadi di tanah kelahirannya.
“Apa yang terjadi di Palestina sangat mengerikan, menghancurkan semua fasilitas olahraga Palestina di Gaza, serta menewaskan ratusan atlet dan pekerja,” beber Rajoub dengan mata berkaca-kaca. “Saya pikir sekarang adalah waktunya untuk menegakkan keadilan,” pungkasnya penuh keyakinan.
Penolakan jabat tangan yang dilakukan oleh Rajoub akhirnya dipahami banyak pihak sebagai bentuk protes simbolis terhadap kebijakan yang dianggapnya tidak manusiawi. Momen ini pun langsung viral dan menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial.
Beralih ke Isu Lain: Jaminan Infantino untuk Iran
Nah, sebelum ketegangan antara kedua delegasi itu meledak di depan publik, Kongres FIFA di Kanada ini sebenarnya sempat menjadi ajang bagi Gianni Infantino untuk memastikan partisipasi Iran di Piala Dunia 2026. Sungguh perubahan suasana yang sangat kontras!
“Tentu saja, Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026, dan tentu saja Iran akan bermain di Amerika Serikat,” ucap Infantino dengan penuh keyakinan.
Dasar Infantino, ia punya alasan yang sangat idealis. “Alasannya sangat sederhana, teman-teman sekalian, karena kita harus bersatu. Kita harus menyatukan orang-orang. Itu adalah tanggung jawab saya,” tuturnya dalam pidato pembukaan pada Kongres FIFA. Namun sayangnya, panggilan persatuan tersebut sepertinya masih jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan antara delegasi Palestina dan Israel.
Dari seluruh rangkaian peristiwa dramatis ini, publik sepak bola dunia kembali diingatkan bahwa sepak bola ternyata tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari gejolak politik global. Kongres FIFA yang seharusnya menjadi ajang perayaan olahraga, justru berubah menjadi panggung protes dan ketegangan diplomatik. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari FIFA. Akankah Infantino dan jajarannya mampu menjembatani perpecahan ini? Atau justru konflik ini akan semakin melebar? Kita pantau terus perkembangannya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
