Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Teknologi RDF Masuk Radar Pemkot Magelang, Aspebindo Siap Dukung Pengelolaan Sampah

MAGELANG, Cinta-news.com – Pemerintah Kota Magelang akhirnya mengambil langkah berani untuk memutus rantai masalah sampah yang selama ini menghantui warga. Bekerja sama dengan Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo), mereka kini serius mengkaji teknologi mutakhir bernama Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai solusi jitu. Pertemuan strategis antara kedua pihak pun digelar di Sekretariat Daerah Kota Magelang pada Kamis (13/8/2026), dan hasilnya, harapan besar mulai terlihat di ujung jalan.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak menutup mata terhadap inovasi. Bahkan, ia secara terbuka menyambut baik tawaran investasi dari Aspebindo untuk menerapkan sistem RDF. Baginya, ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan wujud nyata komitmen Pemkot dalam menuntaskan persoalan sampah hingga ke tingkat hilir. Meskipun begitu, Damar belum mau menyebutkan target waktu pasti kapan teknologi ini akan mulai diterapkan, karena ia mengaku masih ingin mengkaji semua aspek secara matang. “Kami sangat terbuka untuk semua bentuk investasi dan bahkan siap menjadi pilot project bagi daerah lain,” ujarnya dengan penuh antusiasme.

Darurat Sampah di TPSA Banyuurip, Pemkot Terpaksa Minta Perpanjangan Operasional

Namun, di balik semangat itu, Damar tidak bisa memungkiri adanya tantangan besar yang mengintai. Ia menyoroti fakta mengejutkan bahwa sampah organik mendominasi hingga 41,2 persen dari total timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sampah organik yang tercampur dengan sampah anorganik tidak dapat diolah melalui teknologi RDF. “Yang menjadi kendala utama justru sampah organiknya,” keluhnya sembari menggarisbawahi bahwa pemilahan dari sumber masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Bahkan, Damar mengungkapkan data resmi yang mencatat TPSA Banyuurip menerima kiriman sampah dari Kota Magelang sebanyak 85,2 ton per hari. Namun, ia sangat meragukan angka tersebut dan menduga jumlah sebenarnya bisa menyentuh ratusan ton setiap harinya. “Apalagi TPSA Banyuurip saat ini sudah dalam kondisi overload luar biasa. Kami bahkan sampai harus mengajukan perpanjangan operasional ke Kementerian Lingkungan Hidup,” ungkapnya dengan nada serius. Kondisi ini makin memaksa Pemkot untuk mencari terobosan darurat agar sampah tidak terus menumpuk dan mencemari lingkungan sekitar.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, MS Kurniawan, yang akrab disapa Wawan, menambahkan bahwa pihaknya sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi sampah organik. Salah satunya adalah dengan membuat pupuk kompos, namun hasilnya tidak berjalan sesuai harapan. Ia mengakui bahwa bank-bank sampah yang ada di Kota Magelang masih kebingungan mencari formula tepat untuk mengolah limbah organik ini. “Kami terus mengkaji sambil menunggu pembangunan tempat pengolahan sampah di Bojong, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kecamatan Magelang Selatan,” ungkap Wawan saat ditemui usai pertemuan dengan Aspebindo.

Pabrik RDF Butuh Pasokan Ratusan Ton, Magelang Tak Bisa Sendirian

Ketua Umum DPP Aspebindo, Anggawira, kemudian menjelaskan secara rinci bahwa pabrik pengolahan sampah berbasis RDF memiliki kapasitas besar dan membutuhkan pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari agar dapat beroperasi secara optimal. Ia menegaskan bahwa Kota Magelang yang hanya menyumbang 85,2 ton per hari tidak akan cukup jika hanya mengandalkan sampah dari satu daerah saja. “Tidak mungkin pabrik ini hanya mengandalkan sampah dari satu kota saja,” tegas Anggawira. Oleh karena itu, ia menyarankan agar kerja sama ini melibatkan kabupaten dan kota di sekitarnya untuk memastikan pasokan sampah terus mengalir deras.

Menariknya, Anggawira mengaku belum menghitung secara pasti anggaran yang dibutuhkan untuk membangun pabrik RDF. Namun, ia dengan lugas menyatakan bahwa biaya pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Magelang. Menurutnya, diperlukan dukungan dari pemerintah provinsi serta partisipasi aktif dari perbankan agar proyek ambisius ini benar-benar terwujud. “Pembiayaannya tidak mungkin mengandalkan APBD saja. Kami butuh dukungan dari banyak pihak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Anggawira juga mengungkapkan bahwa ada tiga opsi pembeli atau off-taker yang siap menampung hasil produksi RDF nantinya. Pabrik semen, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero, dan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) menjadi target utama pemasaran bahan bakar alternatif ini. Dengan adanya kepastian pembeli, diharapkan investasi ini akan semakin menarik dan memberikan keuntungan berkelanjutan bagi semua pihak.

Sampah Organik Jadi Momok, Namun Optimisme Tak Padam

Di sisi lain, Wali Kota Damar tetap optimistis bahwa langkah kolaboratif dengan Aspebindo ini akan membawa angin segar bagi penanganan sampah di Kota Magelang. Meskipun masih ada pekerjaan rumah terkait sampah organik, ia percaya bahwa dengan sinergi yang baik, semua hambatan dapat diatasi secara bertahap. Apalagi, TPSA Banyuurip saat ini sudah dalam kondisi overload dan terus menerima kiriman sampah yang jumlahnya diduga bisa mencapai ratusan ton per hari, jauh di atas data resmi yang tercatat.

Kondisi darurat sampah ini mendorong Pemkot Magelang untuk bertindak cepat. Mereka bahkan sudah mengajukan perpanjangan operasional TPSA ke Kementerian Lingkungan Hidup agar proses pengolahan sampah tetap berjalan sambil menunggu terobosan teknologi RDF siap diimplementasikan. Semua upaya ini dilakukan demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat Kota Magelang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Wawan, menambahkan bahwa pembangunan tempat pengolahan sampah di Bojong diharapkan menjadi solusi sementara untuk mengurangi beban sampah organik yang terus menumpuk. Meski demikian, ia tetap mendorong masyarakat untuk lebih aktif memilah sampah dari rumah tangga agar proses pengolahan di tingkat akhir menjadi lebih mudah dan efisien.

Dengan segala dinamika yang ada, kerja sama antara Pemkot Magelang dan Aspebindo ini menjadi sorotan publik. Teknologi RDF yang diklaim sejalan dengan skema waste-to-energy ini diharapkan mampu mengubah sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus, kayu, dan tekstil menjadi bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomi tinggi. Proses homogenisasi yang mengubah sampah menjadi pelet kecil siap pakai menjadi andalan utama teknologi ini.

Anggawira optimistis bahwa pabrik RDF akan memberikan dampak besar jika semua pihak saling bahu-membahu. Ia tidak menampik bahwa masih ada banyak tantangan teknis dan finansial, namun ia meyakini bahwa komitmen bersama akan mampu mengatasi semuanya. “Yang penting sekarang kita mulai dengan kajian serius dan melibatkan semua pemangku kepentingan,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Damar juga berharap agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam upaya ini. Partisipasi aktif warga dalam mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari sumbernya sangat menentukan keberhasilan program ke depan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung langkah revolusioner ini demi masa depan Kota Magelang yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dengan segala persiapan dan kajian yang sedang berlangsung, publik pun menantikan realisasi nyata dari kerja sama ini. Semua mata kini tertuju pada komitmen Pemkot Magelang dan Aspebindo dalam menghadirkan solusi inovatif yang selama ini dinanti-nanti. Apakah teknologi RDF akan menjadi jawaban atas permasalahan sampah yang tak kunjung usai? Waktu yang akan menjawabnya. Yang pasti, semangat kolaborasi dan inovasi terus menyala di Kota Magelang.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *