Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sejumlah Puskesmas di Jateng Kekurangan Dokter Umum Akibat Ketimpangan Penempatan

SEMARANG, Cinta-news.com – Kabar mengejutkan datang dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah! Masih ada sejumlah puskesmas di berbagai daerah yang sama sekali belum memiliki dokter umum. Bagaimana bisa pelayanan kesehatan masyarakat tetap berjalan?

Fakta mencengangkan ini terungkap ketika Dinkes Jateng melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi tenaga medis di seluruh wilayah. Ternyata, dokter-dokter lebih memilih berkumpul di kota-kota besar seperti Semarang, Solo, dan Banyumas. Akibatnya? Puskesmas di daerah terpencil terpaksa beroperasi tanpa kehadiran seorang dokter pun!

Kepala Dinkes Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, dengan tegas menjelaskan bahwa puskesmas yang belum memiliki dokter tetap melayani masyarakat. Caranya? Dengan mengandalkan dukungan dari fasilitas kesehatan lain di wilayah kabupaten atau kota masing-masing. Sungguh solusi kreatif di tengah keterbatasan!

“Puskesmas memang ada beberapa yang tidak ada dokternya, tapi masih bisa di-handle oleh wilayah (kabupaten/kota),” ujar Zulfachmi dengan nada optimis di Kompleks Gubernur Jateng, Kamis (25/6/2026).

DOKTER CUKUP TAPI PENYEBARANNYA TIMPANG! INI PENYEBABNYA

Mari kita lihat data mengejutkan dari Dinkes Jateng! Ternyata Jawa Tengah memiliki 883 puskesmas dan 370 rumah sakit yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Jumlah ini terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Namun, mengapa masih ada puskesmas yang kosong dokter?

Zulfachmi mengakui bahwa ketimpangan penempatan tenaga kesehatan ini berdampak serius terhadap kualitas pelayanan yang diterima masyarakat di wilayah terdampak. Bayangkan, ketika masyarakat di pelosok harus berjuang ekstra untuk mendapatkan layanan kesehatan, sementara di kota besar dokter justru menumpuk!

“Tapi, itu tentu saja akan mengurangi kualitas layanan,” ungkap Zulfachmi dengan nada prihatin.

Yang lebih menarik lagi, Zulfachmi menjelaskan bahwa secara keseluruhan jumlah dokter umum sebenarnya sudah memadai! Ya, Anda tidak salah baca. Jumlah dokter di Jateng cukup untuk memenuhi kebutuhan. Lalu apa masalah sesungguhnya?

“Jadi, untuk Jawa Tengah, masalahnya sebenarnya bukan dari jumlah, tapi distribusi (dokter). Numpuknya di Semarang, numpuknya di Solo, numpuknya di Banyumas,” terang Zulfachmi menjelaskan akar permasalahan.

DINKES JATENG TEMUKAN KESENJANGAN GAJI YANG MENCENGANGKAN!

Inilah fakta yang mungkin selama ini hanya bisikan di kalangan tenaga medis! Dinkes Jateng menemukan kesenjangan pendapatan yang signifikan antara dokter yang bekerja di kota besar dan mereka yang bertugas di daerah kecil. Perbedaan ini ternyata menjadi pemicu utama mengapa dokter enggan bertugas di pelosok!

Kondisi ini, lanjut Zulfachmi, menjadi alasan kuat mengapa sejumlah daerah terus mengalami kekurangan dokter. Dokter-dokter lebih memilih berkarier di kota besar dengan imbalan finansial yang lebih menjanjikan.

“Jadi ibaratnya di mana banyak gula, pasti semutnya banyak. Jadi pasti ada nilai lebih kalau bekerja di kota dibandingkan dengan di daerah,” imbuh Zulfachmi dengan analogi yang sangat mudah dipahami.

Bayangkan betapa sulitnya bagi puskesmas di daerah terpencil untuk menarik minat dokter ketika di kota besar mereka bisa mendapatkan penghasilan berkali-kali lipat! Ini menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi oleh pemerintah.

PROGRAM MAGANG JADI JURUS ANDALAN MENGATASI KRISIS DOKTER!

Untuk mengatasi persoalan yang semakin pelik ini, Dinkes Jateng mengoptimalkan pelaksanaan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). Program ini menjadi harapan baru bagi puskesmas-puskesmas yang selama ini kekurangan tenaga medis!

Melalui program yang brilian ini, dokter yang baru menyelesaikan pendidikan ditempatkan untuk mengisi puskesmas yang belum memiliki dokter umum. Bayangkan, para dokter muda ini langsung terjun ke lapangan dan menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat!

“Di program itu, kita menempatkan dokter-dokter baru lulus untuk mengisi kekosongan itu. Ini sepenuhnya diatur oleh dinas kesehatan kabupaten/kota,” kata Zulfachmi menjelaskan mekanisme program yang sangat strategis ini.

Zulfachmi optimistis skema internsip ini akan membantu pemerataan tenaga medis secara bertahap, terutama di daerah pelosok yang masih mengalami kekurangan dokter. Bayangkan jika program ini berjalan maksimal, puskesmas di seluruh Jateng akan memiliki dokter!

KOORDINASI DIPERKUAT, PUSKESMAS TAK BOLEH ADA YANG KOSONG!

Langkah cerdas lainnya yang diambil Dinkes Jateng adalah memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di seluruh wilayah. Ini menjadi kunci sukses pemerataan tenaga medis!

Harapannya, penempatan dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi lebih seimbang. Tidak boleh ada puskesmas yang kelebihan tenaga medis, sementara puskesmas lain sama sekali kosong. Keadilan dalam distribusi tenaga kesehatan harus segera terwujud!

“Fungsi koordinasi dinas kesehatan provinsi dengan kabupaten/kota itu adalah melakukan evaluasi, monitoring, bagaimana agar supaya semua puskesmas itu terisi,” imbuh Zulfachmi dengan penuh semangat.

Pesan tegas disampaikan Zulfachmi kepada seluruh pihak terkait: “Jangan ada puskesmas A isinya empat dokternya dan ada puskesmas B yang tidak ada dokternya.”

Inilah komitmen Dinkes Jateng untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version