Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Polresta Sleman Tepis Isu Pengerahan Warga dan Bagi Uang Rp50 Ribu di RANS Carnival

SLEMAN, Cinta-news.com – Pihak Polresta Sleman secara tegas menepis rumor heboh yang menyebut bahwa instansinya mengerahkan kerumunan warga serta membagikan amplop uang tunai demi menyemarakkan acara RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Aparat menyampaikan klarifikasi menohok ini secara sengaja tepat setelah linimasa media sosial, khususnya platform Threads, mendadak geger akibat beredarnya pesan berantai liar yang secara sepihak mencatut nama Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo beserta jajaran Kasat Binmas.

Pasalnya, narasi dalam pesan berantai yang viral tersebut secara mendetail membongkar dugaan skema pengumpulan masyarakat lokal yang diiming-imingi pembagian uang belanja agar mau meramaikan festival garapan RANS Entertainment pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Menanggapi kabar miring yang berembus kencang itu, AKBP Dhimas Prasetyo langsung membantah keras bahwa pihaknya telah mengarahkan warga setempat maupun mengedarkan voucher tunai sebesar Rp50.000 demi mengisi panggung hiburan tersebut.

Selanjutnya, jajaran Polresta Sleman menegaskan bahwa kehadiran para personel polisi di area Stadion Maguwoharjo murni menjalankan tugas pengamanan resmi sesuai prosedur atas permohonan pihak penyelenggara, tanpa ada sedikit pun tindakan menggerakkan massa.

Oleh sebab itu, AKBP Dhimas secara khusus menyampaikan imbauan hangat kepada seluruh lapisan warga Yogyakarta maupun Sleman agar terus menjaga kondusivitas keamanan wilayah mereka.

“Saya menegaskan kembali, kami dari jajaran kepolisian murni hanya mengamankan lokasi acara, sehingga isu mengenai pengerahan massa untuk datang ke lokasi itu sama sekali tidak benar,” tegas Dhimas saat memberikan pernyataan resmi pada Sabtu (31/10/2026).

“Selain itu, pihak kepolisian senantiasa mengajak masyarakat Yogyakarta dan Sleman agar terus memelihara situasi yang aman serta kondusif di tengah hangatnya polemik yang melingkupi acara ini,” tambahnya dengan bijak.

Polisi Hadir Layani Masyarakat

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro turut angkat bicara dan mempertegas bahwa lembaga tempatnya mengabdi sama sekali tidak pernah terlibat dalam skema pengumpulan penonton berbayar ataupun bagi-bagi uang tunai sebagaimana isi rumor yang beredar.

Tak hanya itu, Iptu Argo juga membantah tuduhan yang menyebutkan adanya upaya pemaksaan atau penekanan terhadap masyarakat sekitar agar mendatangi arena RANS Carnival.

“Oleh karena itu, kami perlu menegaskan secara gamblang, Polresta Sleman tidak pernah melakukan pengerahan massa, melainkan kami menerjunkan personel murni untuk mengawal keamanan agenda masyarakat,” jelas Argo secara rinci.

Lebih lanjut lagi, Argo menerangkan bahwa kepolisian selalu menjalankan kewajiban pelayanan untuk hadir mengamankan setiap event publik yang bertempat di wilayah hukum Sleman.

“Sebab, kami selalu siap sedia melaksanakan pengamanan ketat agar seluruh rangkaian kegiatan warga masyarakat dapat berjalan aman, tertib, serta kondusif,” ungkapnya penuh percaya diri.

“Dengan demikian, hadirnya jajaran kepolisian di lapangan mencerminkan wujud pelayanan nyata Polri kepada seluruh masyarakat,” tambah Argo mengakhiri penjelasannya.

Musisi dan UMKM Mundur, Pesan Berantai Beredar

Sebelumnya, bahkan sebelum isu pengerahan massa bayaran ini mencuat di media sosial, deretan musisi populer serta para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ternyata sudah lebih dulu mengambil langkah mengejutkan dengan menyatakan mundur dari RANS Carnival.

Menariknya, para pegiat seni dan pemilik usaha tersebut mengumumkan keputusan mundur itu secara terbuka melalui saluran akun media sosial pribadi mereka masing-masing.

Sebagai contoh, grup musik kondang yang kompak menyatakan mundur antara lain Om Wawes, Tipe-X, serta Guyon Waton, lalu disusul oleh salah seorang pelaku UMKM yang ikut membatalkan stan makanan dan minuman (FnB) miliknya.

Alhasil, warganet di media sosial langsung menyerukan aksi boikot secara masif terhadap gelaran festival yang diusung oleh RANS Entertainment, perusahaan hiburan ternama kepunyaan figur publik Raffi Ahmad.

Tak pelak, panitia akhirnya membatalkan acara hiburan yang awalnya dijadwalkan buka pada Sabtu pagi pukul 10.00 WIB tersebut secara total lantaran para pengisi acara utama dan pengusaha UMKM kompak memutuskan angkat kaki.

Terlebih lagi, berbagai akun media sosial ikut mengabarkan situasi lapangan secara langsung (real-time) yang memperlihatkan kondisi lokasi acara di Stadion Maguwoharjo melompong dan sepi pengunjung.

Malah, di tengah kekacauan tersebut, muncul bocoran isi percakapan instan aplikasi WhatsApp yang diduga melibatkan oknum aparat kepolisian hingga mendadak viral di jagat maya.

Secara khusus, pemilik akun Threads @zum****** yang mengunggah kembali tangkapan layar itu menuliskan sindiran tajam mengenai dugaan aksi mobilisasi warga oleh pejabat kepolisian di kawasan Sleman.

“Si spesialis pengumpul penonton bayaran yang sedang beraksi mungutin sisa sisa. Acara yang tadinya dijadwalkan jam 10.00 diundur jadi jam 16.00,” tulis akun tersebut dengan nada menyindir.

Selanjutnya, unggahan yang mendadak hangat tersebut menyertakan bukti tangkapan layar percakapan dengan rangkaian kalimat narasi berikut:

“Assalamualaikum bapak lurah serta para dukuh yang saya cintai dan saya banggakan menindak lanjuti perintah kapolres sleman dan kapolsek tempel untuk memerintah bhabinkamtibmas mengajak 100 orang di wilayah binaannya untuk hadir di stadion maguwoharjo dalam rangka gebyar seni dan umkm akn ada voucher @50 ribu monggo bapak ibu dukuh disampaikan ke warganya.. Sak derenge mater sembah nuwun. Pengambilan uang di Stadion Maguwoharjo sesuai jam/jadwal yang sudah ditentukan, di sana Kasat Binmas dan KRI yang akan menyampaikan uang saku. Persyaratan khusus tidak ada yang jelas bawa KTP untuk pendataan dan pertanggung jawaban.”

Alasan RANS Carnival Diboikot

Usut punya usut, fenomena gerakan boikot terhadap RANS Carnival ini bermula dari luapan solidaritas publik yang mengecam keras Raffi Ahmad seusai dirinya menghadiri gelaran Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di kawasan Bundaran HI, Jakarta pada 29 Oktober 2026.

Kehadiran sosok Raffi dalam acara tersebut langsung menuai badai kritik, lantaran agenda tersebut berlangsung tepat sehari setelah ribuan mahasiswa menggelar demonstrasi besar di Bundaran HI pada 28 Oktober 2026.

Bahkan, gelombang kontroversi bertambah panas ketika salah seorang peserta deklarasi membongkar pengakuan bahwa dirinya sebenarnya bukan mahasiswa, melainkan warga biasa yang ikut hadir karena iming-iming uang bayaran dan undangan komunitas.

Di samping itu, mayoritas masyarakat menilai Raffi Ahmad sebagai sesosok tokoh publik yang cenderung bersikap pro terhadap kepentingan pemerintah atau rezim yang berkuasa.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version