Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sampah Pasar Diduga Sumbat Aliran Sungai Pekkabata-Lampa Pinrang

PINRANG, Cinta-news.com — Pemandangan mengerikan dan sangat menyengat hidung mendadak menyapa siapa saja yang melintasi kawasan Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Pasalnya, tumpukan sampah domestik yang sangat menggunung kini benar-benar melumpuhkan aliran Sungai Pekkabata-Lampa. Di samping itu, limbah rumah tangga tersebut tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga memicu krisis kebersihan yang makin parah setiap harinya di wilayah permukiman tersebut.

Akibatnya, masyarakat setempat meradang dan melontarkan keluhan tajam karena tumpukan sampah justru makin menggunung tanpa henti. Padahal, armada kebersihan sesungguhnya sudah rutin mengangkut sampah tersebut menuju Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hingga tiga kali dalam seminggu. Namun, frekuensi pengangkutan yang cukup padat tersebut seolah tidak berbekas sama sekali di lokasi kejadian.

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, tumpukan sampah limbah rumah tangga tersebut bahkan sudah menutup total permukaan air sungai yang dangkal. Selain itu, sungai ini melintasi kawasan permukiman padat penduduk yang sangat rapat serta berada persis di sekitar kawasan pasar tradisional. Di sepanjang bantaran sungai, puluhan bangunan permanen, gubuk berdinding seng, hingga tempat tinggal berstruktur kayu berdiri berhimpitan secara langsung dengan titik penumpukan limbah busuk tersebut.

Oleh sebab itu, seorang warga lokal berinisial SR secara terbuka membeberkan bahwa fenomena bencana sampah di lokasi ini bukanlah kejadian baru. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kondisi buruk seperti ini terus berulang secara terus-menerus, meskipun petugas kebersihan kerap turun tangan melakukan aksi pembersihan skala besar.

“Sudah sering terjadi seperti itu,” cetus SR saat memberikan kesaksian resminya pada Minggu (1/11/2026) dengan nada penuh kekecewaan.

Selain mengungkap kekesalannya, SR meyakini bahwa sumber utama limbah buangan yang mengotori aliran air sungai ini berasal dari kesibukan aktivitas di Pasar Pekkabata. Menurut analisisnya, volume buangan pasar memang menyumbang beban terbesar bagi pencemaran lingkungan sungai tersebut.

“Setahu ku begitu (dari pasar) sampahnya masyarakat,” tegasnya dengan mantap sembari menunjuk ke arah aliran sungai yang tersumbat parah.

Pengangkutan Sampah Dilakukan Tiga Kali Sepekan

Sementara itu, seorang warga lain yang sengaja meminta identitasnya dirahasiakan mengamini bahwa dinas kebersihan memang menjadwalkan armada truk untuk mengangkut sampah di kawasan ini sebanyak tiga kali dalam sepekan. Namun demikian, ritme pengangkutan tersebut terbukti belum mampu mengatasi derasnya laju buangan sampah harian warga.

Tidak hanya itu, warga setempat juga rajin menunaikan kewajiban membayar retribusi kebersihan setiap bulan tanpa pernah menunggak. Adapun rincian biaya tersebut menetapkan tarif sebesar Rp 20.000 untuk setiap rumah tangga dan beban Rp 25.000 bagi para pemilik warung atau pelaku usaha ritel di sekitar area pasar.

Kendati warga rutin membayar iuran bulanan, pemandangan tumpukan sampah di Sungai Pekkabata justru mengendap dalam kurun waktu yang sangat lama. Akibatnya, situasi ini memicu polusi udara hebat yang menyebarkan aroma busuk menusuk hidung serta mengganggu kesehatan seluruh penghuni permukiman.

“Karena kering airnya, baru menumpuk sampahnya bauki dan banyak nyamuknya,” tutur warga tersebut dengan nada lirih saat menceritakan penderitaannya akibat serangan bau kotoran dan serangga musuh masyarakat.

Warga Khawatir Sampah Picu Banjir Saat Musim Hujan

Oleh karena itu, ketakutan mendalam kini menghantui pikiran masyarakat karena tumpukan limbah padat tersebut berpotensi besar mengunci total aliran sungai saat hujan deras mengguyur. Terlebih lagi, kondisi dasar sungai sempat mengering total akibat sengatan kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Maka dari itu, SR mengingatkan semua pihak bahwa tumpukan limbah busuk yang dibiarkan mangkrak tanpa penanganan cepat akan memicu bencana banjir bandang yang menghantam kawasan pemukiman warga sekitar.

“Yah kalau tidak dibersihkan bisa-bisa nanti banjir,” ucap SR memperingatkan bahaya laten yang mengintai rumah tempat tinggal mereka.

Dengan demikian, seluruh warga menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Pinrang segera bertindak tegas merumuskan solusi konkret. Menurut pandangan kritis masyarakat, penanganan masalah krisis lingkungan ini membutuhkan komitmen dan kerja sama yang padu dari seluruh elemen instansi.

“Saya rasa kerja lintas sektoral pi agar bersih,” pungkas SR menekankan pentingnya kolaborasi antar instansi pemerintah daerah.

Sampah Rumah Tangga Bisa Ditukar Minyak Goreng

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Pinrang sebenarnya menghadirkan sebuah terobosan inovatif melalui kehadiran pengelola Bank Sampah Peduli Pinrang. Inisiatif strategis ini hadir sebagai jalan keluar kreatif untuk mengurangi dampak buruk penumpukan limbah domestik.

Melalui program unggulan tersebut, masyarakat sekitar kini dapat menyulap sampah rumah tangga yang bernilai ekonomi menjadi barang kebutuhan pokok berupa minyak goreng kemasan 200 mililiter secara gratis tanpa dipungut biaya.

Menanggapi skema penukaran menarik ini, Tim Marketing Bank Sampah Peduli Pinrang, Hamka Nadjib, memaparkan syarat teknis secara detail bahwa warga hanya perlu mengumpulkan sampah terkategori sebanyak 6 kilogram demi mengantongi satu botol minyak goreng segar.

“Masyarakat membawa sampah sebanyak 6 kg, kalau ada sampah 6 kg, maka ditukar dengan minyak goreng 200 ml sesuai dengan harganya,” terang Hamka secara lugas saat diwawancarai pada hari Minggu.

Lebih rinci lagi, pihak pengelola menentukan bahwa kriteria sampah yang dapat masyarakat tukarkan meliputi material plastik, kardus/karton, serta kaleng bekas. Selain itu, tim penilai menetapkan patokan harga standar sebesar Rp 1.000 untuk setiap satu kilogram sampah yang disetorkan.

Menariknya lagi, program penukaran bernilai gizi ini terbuka bebas bagi seluruh lapisan masyarakat umum tanpa mewajibkan proses pendaftaran nasabah tetap terlebih dahulu. Di samping itu, aktivitas penukaran secara rutin berlangsung setiap hari Jumat di markas Bank Sampah Peduli Pinrang yang beralamat di Jalan Bulu Saraung, Kelurahan Temmasarangnge, Kecamatan Paleteang.

Berdasarkan pencatatan resmi pada tahap uji coba perdana, sebanyak 24 warga antusias memadati lokasi dan sukses mendistribusikan 24 botol minyak goreng langsung ke tangan masyarakat.

Akhirnya, Hamka menyatakan optimismenya bahwa program edukatif ini sanggup memicu kesadaran warga untuk konsisten memilah sampah sejak dari dapur rumah dan menghentikan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Di samping itu, pengelola membeberkan rencana masa depan untuk memperluas jangkauan hadiah dengan membagikan paket sembako yang jauh lebih lengkap bagi warga Pinrang.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version