Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Melanggar Larangan Mendaki Gunung Merapi, 14 Orang Dijatuhi Sanksi Kerja Sosial 3 Bulan

BOYOLALI, Cinta-news.com — Pihak pengelola Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) bergerak cepat menyiapkan hukuman setimpal untuk 14 pendaki nekat yang terbukti melancarkan aksi ilegal melalui jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Petugas patroli memergoki rombongan penyusup ini saat mereka tengah mencoba menembus kawasan terlarang Gunung Merapi yang sangat berbahaya.

Selanjutnya, sebagai konsekuensi atas pelanggaran berat tersebut, pihak otoritas langsung mengharuskan seluruh pelaku untuk menyapu dan membersihkan kawasan wisata Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Tugas pelayanan masyarakat ini wajib mereka jalankan secara konsisten selama tiga bulan penuh tanpa terkecuali.

Tergiur Open Trip Medsos hingga Drama Pelarian

Sementara itu, Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, membeberkan fakta menarik bahwa ke-14 pendaki tersebut sebenarnya tidak saling mengenal di dunia nyata. Mereka justru saling menjalin komunikasi intensif melalui platform media sosial hingga sepakat mengikuti agenda open trip ilegal beranggotakan warga berusia 15 sampai 46 tahun.

“Saat petugas kami meminta keterangan resmi, kami menemukan fakta bahwa para pendaki gelap ini saling terhubung lewat akun media sosial lalu nekat memesan layanan open trip tak berizin untuk mendaki puncak Gunung Merapi,” ungkap Heri memberikan keterangan pada Minggu (1/11/2026).

Lebih lanjut, tim patroli gabungan berhasil mencegat dan menangkap 11 orang pendaki secara langsung saat menggelar operasi di lapangan pada Sabtu (31/10/2026). Kendati demikian, tiga pendaki lainnya sempat memilih melarikan diri dari sergapan petugas dan berupaya melintasi jalur tikus alternatif yang terjal.

Alhasil, pelarian ketiga pendaki bandel tersebut berakhir memprihatinkan setelah warga lokal menemukan mereka tergeletak lemas. Lantaran kondisi kesehatan mereka mendadak drop parah, warga sekitar pun langsung berinisiatif menolong dan mengantarkan ketiganya kembali ke kediaman masing-masing.

Pendekatan Persuasif: Sita HP dan Dokumen Identitas

Meski aksi para pelanggar sangat membahayakan keselamatan, Heri menegaskan bahwa pihak TNGM tetap mengedepankan pendekatan persuasif yang mendidik dalam menangani kasus ini. Petugas mengambil kebijakan bernuansa kekeluargaan tersebut karena meyakini sebagian dari peserta rombongan masih memegang status sebagai pelajar aktif.

“Oleh karena itu, kami sengaja mengutamakan langkah-langkah edukatif yang santun mengingat para pelaku sebagian besar masih tergolong anak-anak. Kami sangat berharap mereka tidak mengulangi kesalahan fatal ini dan publik pun tidak meniru kecerobohan serupa,” tutur Heri pada Senin (2/11/2026).

Tak hanya membebankan kewajiban membersihkan sampah di kawasan wisata, Balai TNGM juga menyita telepon seluler beserta seluruh dokumen identitas milik para pelaku. Pihak berwenang menahan barang-barang berharga tersebut di markas sebagai jaminan selama masa hukuman tiga bulan berlangsung.

Di samping itu, Heri mengungkapkan bahwa pihaknya sudah sering membagikan sanksi serupa kepada rombongan pelanggar lain. Pihak pengelola memang selalu menerapkan tindakan tegas yang seragam bagi siapapun yang berani menembus barikade penutupan Gunung Merapi.

Pembinaan Jadi Langkah Terakhir

Kendati saat ini masih mengutamakan pembinaan secara damai, Balai TNGM tetap membuka peluang lebar untuk membawa para pelanggar ke meja hijau pidana. Pihak otoritas akan langsung mengambil tindakan hukum berat jika ada oknum yang terbukti nekat mengulangi aksi ilegal tersebut secara berulang kali.

Bahkan, Heri menggarisbawahi bahwa aparat akan segera menyerahkan berkas pelanggaran ke pihak kepolisian apabila seseorang terus mengabaikan surat teguran resmi dan sanksi sosial yang sudah pernah ia jalani sebelumnya.

“Pada dasarnya, kami memosisikan jalur pemidanaan sebagai opsi hukum paling akhir. Namun, jika ada individu yang terbukti nekat mengulangi aksi ceroboh ini berkali-kali, maka kami pasti langsung mengambil tindakan hukum formal,” tegas Heri dengan nada lugas.

Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa sebagian besar pendaki yang terjaring razia selama ini umumnya baru pertama kali melakukan aksi nekat. Oleh sebab itu, petugas mewajibkan mereka menandatangani surat perjanjian resmi di atas materai sekaligus memproduksi video pengakuan kesalahan dan penyesalan.

“Sebab pada umumnya, mereka yang tertangkap petugas memang baru perdana mencoba mendaki secara gelap. Begitu mereka membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi serta mempublikasikan video pengakuan kesalahan, kami memberikan kesempatan pembinaan; tetapi jika mereka tertangkap lagi, jalur hukum pidana pasti menanti,” jelasnya panjang lebar.

Sekitar 100 Pendaki Ilegal Sepanjang 2026

Dalam kesempatan yang sama, Heri menyampaikan kabar mengejutkan mengenai tingginya angka pelanggaran di area konservasi Merapi. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026, Balai TNGM mencatat terdapat sekitar 100 pendaki ilegal yang secara nekat memasuki kawasan terlarang tersebut.

Terhadap seluruh pelaku yang tertangkap melanggar aturan, Balai TNGM secara konsisten menerapkan hukuman sosial yang sama. Menariknya, Heri mengklaim bahwa strategi pembinaan ini terhitung sangat efektif karena belum ada satu pun mantan pelanggar yang berani mengulangi aksinya.

Oleh karena itu, beliau kembali menyampaikan imbauan tegas agar seluruh lapisan masyarakat menahan diri dan tidak coba-coba mendekati Gunung Merapi. Heri menggarisbawahi bahwa seluruh jalur pendakian masih tertutup rapat, sehingga warga sama sekali tidak boleh beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak.

Taruhan Nyawa di Antara Awan Panas dan Kawah Aktif

Ketetapan penutupan jalur ini tentu bukan tanpa alasan, sebab aktivitas Gunung Merapi saat ini masih bertengger kokoh pada Level III atau Siaga. Langkah pembatasan ketat ini sepenuhnya merujuk pada hasil analisis pakar dan rekomendasi resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Selain mengacu pada rekomendasi ilmiah BPPTKG, Heri mengingatkan bahwa keputusan ini berfokus utama pada perlindungan nyawa manusia. Beliau menegaskan bahwa beberapa tahun lalu, insiden maut pernah merenggut nyawa pendaki yang jatuh terpeleset ke dasar kawah aktif Merapi.

“Peristiwa tragis beberapa tahun lalu yang merenggut nyawa pendaki akibat jatuh ke dasar kawah harus terus kita jadikan bahan perenungan dan pelajaran berharga,” ucap Heri mengingatkan publik.

Bahkan, bahaya yang mengintai para pendaki tidak cuma sebatas ancaman jurang kawah yang terjal semata. Para pelaku yang nekat juga harus bersiap menghadapi ancaman mematikan dari terjangan awan panas yang bisa menyembur mendadak akibat erupsi Merapi yang masih berlangsung.

“Jika nasib buruk menghampiri, siapapun dapat tersapu oleh lontaran awan panas karena Merapi masih aktif bergejolak. Maka dari itu, kami meminta publik menunda niat mendaki demi keselamatan bersama yang menjadi prioritas paling utama,” pungkas Heri mengakhiri keterangannya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version