JAKARTA, Cinta-news.com – Aktivitas pedagang kaki lima dan angkutan umum di depan RSCM kembali menjadi sorotan. Banyak yang menyebut mereka sebagai pemicu kemacetan di Jalan Diponegoro. Trotoar dan bahu jalan seharusnya bebas dari kegiatan ekonomi. Namun, kenyataannya ruang itu justru beralih fungsi. Pejalan kaki dan kendaraan pun kesulitan.
Jika kita lihat langsung, trotoar dipenuhi lapak dagangan. Bahu jalan juga berubah jadi tempat parkir liar. Kondisi ini jelas membuat arus lalu lintas tersendat. Kemacetan parah biasanya terjadi pada jam sibuk. Saat itu, aktivitas rumah sakit sedang sangat padat.
Namun, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Seorang penjual cilok bernama Asep menolak tuduhan bahwa PKL adalah biang kerok. Dia justru menyoroti peran angkutan umum seperti bajaj dan ojek online. Menurutnya, mereka lebih berkontribusi pada kemacetan. Alasannya, kendaraan itu sering parkir sembarangan dan memakan badan jalan.
Asep menyatakan bahwa dia bisa melihat sendiri kondisi macet. Namun, dia merasa kelompoknya bukan penyebab utamanya. Dia berargumen bahwa pedagang hanya memakai sedikit ruang di pinggir. Sebaliknya, angkutan umum sering mangkal sangat lama. Mereka bahkan sampai membuat parkir dua lapis. Akibatnya, kendaraan lain sulit lewat.
Asep juga membandingkan keberadaan mereka dengan bajaj. Dia merasa semua pihak sebenarnya sama-sama “liar”. Yang membuatnya kesal, penertiban sering kali hanya menyasar pedagang kecil. Sementara, pelanggaran serupa dari angkutan umum terlihat dibiarkan. Dia pun berharap tidak terus menjadi pihak yang paling disalahkan.
Lantas, bagaimana dengan sudut pandang para sopir bajaj? Fakta di lapangan menunjukkan banyak bajaj biru berjajar. Mereka memenuhi lajur kiri jalan. Beberapa bahkan parkir di atas jalur sepeda.
Seorang sopir bajaj bernama Abdul angkat bicara. Dia mengaku terpaksa mangkal di tempat tidak semestinya. Penyebabnya, tidak ada tempat tunggu resmi di sekitar RSCM. Dia tahu itu jalur sepeda, tetapi merasa tidak ada pilihan lain. Menurut pengamatannya, pesepeda juga jarang melintas di sana.
Abdul juga punya alasan ekonomi yang kuat. Dia enggan menunggu di tempat yang jauh dari gerbang rumah sakit. Tempat seperti itu dinilainya kurang strategis. Penumpang bajaj kebanyakan adalah pasien atau keluarga pasien. Mereka biasanya langsung mencari kendaraan setelah keluar dari gerbang. Jika dia tidak ada di lokasi strategis, dia khawatir tidak mendapat penumpang. Ujung-ujungnya, dia bisa tekor untuk setoran.
Meski saling menyalahkan, kedua belah pihak sebenarnya sadar akan satu hal. Mereka sama-sama mencari nafkah di area yang ramai itu. Bahkan, keberadaan mereka saling mendukung. Ramainya kawasan rumah sakit menarik baik pedagang maupun penumpang bajaj. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut.
Oleh karena itu, baik Asep maupun Abdul punya harapan yang mirip kepada pemerintah. Mereka menginginkan solusi yang adil dan berkelanjutan. PKL membutuhkan tempat berjualan yang tidak sepi, agar tetap ada pembeli. Sopir bajaj membutuhkan tempat mangkal resmi yang strategis dan aman. Dengan begitu, mereka bisa tetap mencari nafkah tanpa mengganggu lalu lintas.
Keluhan tentang kemacetan di depan RSCM ini bukan hal baru. Sebelumnya, warganet juga mengunggah keluhan serupa di media sosial. Mereka menyoroti bahwa kemacetan di lokasi itu seperti tidak pernah berubah. Masalahnya selalu berulang setiap tahun. Penyebabnya disebutkan karena PKL dan parkir liar kendaraan, termasuk bajaj dan motor.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
