SOLO, Cinta-news.com — Kabar mengejutkan datang dari kota budaya! Pusat Grosir Solo (PGS) yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi perdagangan tekstil di Jawa Tengah kini resmi menyudahi napas panjangnya. Pengadilan Niaga Semarang telah memutuskan perusahaan pengelola PGS, PT Putera Griya Sentosa, dinyatakan pailit. Akibatnya, ribuan kios yang dulu ramai pembeli kini hanya menyisakan kesunyian dan kenangan.
Vonis Pailit dari Pengadilan, PGS Resmi Disita Kurator
Ketika tim kami menyambangi lokasi pada Rabu (5/8/2026), pemandangan pilu langsung menyambut. Di gerbang depan gedung, sebuah baliho raksasa bergambar lambang pengadilan berdiri kokoh. Spanduk itu dengan tegas mengumumkan bahwa seluruh area PGS kini berada dalam sita umum. Tim kurator resmi mengambil alih kendali atas semua aset milik PT Putera Griya Sentosa yang telah jatuh pailit. Keputusan ini berdasarkan Putusan Nomor: 6/Pdt.Sus-PKPU/2025/PN.Niaga.Smg. yang dikeluarkan pada 9 Februari 2026 lalu.
Pengunjung pasti akan langsung melihat baliho lain yang tidak kalah mencolok di sisi kanan pintu masuk. Plang berwarna biru itu memuat pengumuman singkat namun mengguncang: “Pedagang PGS pindah BTC lantai 1”. Pesan ini menjadi penanda bahwa era keemasan pusat grosir legendaris itu benar-benar telah usai.
Suasana di dalam gedung terasa mencekam. Tidak ada lagi hiruk-pikuk tawar-menawar yang dulu menjadi ciri khas PGS. Pengunjung yang lalu-lalang tak terlihat sama sekali. Yang tersisa hanyalah beberapa pedagang sisa yang masih sibuk mengangkut barang-barang dagangan mereka. Rak-rak display yang dulu penuh warna kini teronggok kosong. Manekin-manekin cantik yang dulu memamerkan busana terkini kini dibungkus plastik dan siap diangkut. Gantungan baju berderet rapi di atas gerobak dorong, sementara lemari-lemari besar didorong pelan menuju pintu keluar.
20 Tahun Mengabdi, Pedagang Kebaya Ini Harus Mulai dari Nol Lagi
Salah satu pedagang yang masih setia mengemasi dagangannya adalah Peni, perempuan berusia 50 tahun yang sudah menghabiskan 20 tahun hidupnya di PGS. Dengan gerakan lincah namun terbebani, ia memasukkan kebaya-kebaya halus buatannya ke dalam kardus besar. Wajahnya menunjukkan campuran antara kelelahan fisik dan kesedihan batin.
“Ratusan pedagang sudah angkat kaki dari sini sejak Sabtu lalu,” ujar Peni sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menjelaskan bahwa 1 Agustus 2026 menjadi hari bersejarah ketika arus kepindahan massal dimulai. “Sekarang ini sudah sangat sepi, benar-benar berbeda dengan dulu. Perekonomian juga lagi tidak seperti biasanya, omzet jeblok,” keluhnya dengan nada getir.
Kontrak sewa para pedagang ternyata telah berakhir pada Jumat, 31 Juli 2026. Tidak ada perpanjangan karena kondisi pailit yang mengharuskan pengosongan total. Peni mengisahkan bahwa di masa kejayaannya, PGS dihuni sekitar 700 pedagang. Bahkan total kios yang tersedia mencapai 1.200 unit. Pada Desember 2025 lalu, masih ada sekitar 700 kios yang aktif ditempati. Namun jumlah itu terus menyusut drastis seiring berakhirnya kontrak sewa satu per satu. Kini, hanya tersisa sekitar 200 pedagang yang bertahan hingga detik-detik terakhir penutupan.
“Dulu tiga lantai ini hampir penuh semua, ramai sekali. Tapi pelan-pelan sepi, terus sepi, dan semakin sepi. Terakhir ya masih dua lantai itu sekitar 200 pedagang,” kenang Peni sambil matanya menerawang jauh. Ia menggambarkan bagaimana pusat perbelanjaan yang dulu menjadi surga belanja grosir itu perlahan kehilangan magnetnya. Pandemi COVID-19 menjadi pukulan telak yang tidak pernah pulih sepenuhnya. “Setelah Covid itu dampaknya sampai sekarang, sudah sekitar 10 tahunan ini sepi terus,” tambahnya.
Sebenarnya, kabar buruk tentang kepailitan ini sudah lama terdengar di kalangan pedagang. Namun mereka memilih bertahan dan berharap ada keajaiban. “Saya tahu dari dulu katanya pailit. Yang punya gedungnya bangkrut. Sebenarnya pemberitahuan sudah lama, cuma kami berusaha bertahan selama masa kontrak masih berlaku,” ungkap Peni.
Pedagang Pindah ke BTC dan Klewer, Tapi Persiapan Belum Matang
Kini, para pedagang yang terusir harus mencari nafkah baru di tempat lain. Dua tujuan utama mereka adalah Benteng Trade Center (BTC) yang masih berada di kawasan Jalan Mayor Sunaryo, Gladag, serta Pasar Klewer yang terletak di Jalan Dr Radjiman, Gajahan. Kedua lokasi ini masih satu kawasan dengan PGS, namun menawarkan ekosistem bisnis yang sangat berbeda.
Peni mengaku harus memulai dari nol lagi di BTC. Ia harus mempelajari cara berdagang yang baru karena rata-rata pedagang di sana mengandalkan sistem penjualan online. Selama 20 tahun berjualan secara offline di PGS, Peni terbiasa dengan interaksi langsung dengan pembeli yang datang ke tokonya. “Sepertinya mau enggak mau saya harus ikut online. Karena keadaan sekarang memang menuntut kita berubah,” katanya dengan nada pasrah namun penuh tekad.
“Di PGS itu pangsa pasarnya pembeli mendatang, yang datang langsung ke toko. Kalau di BTC, kebanyakan pedagangnya main di ranah online,” jelas Peni sambil terus melipat kebaya terakhirnya. Perubahan ini memaksanya untuk beradaptasi dengan cepat atau tenggelam dalam persaingan.
Menghadapi persaingan ketat antar pedagang kebaya di BTC, Peni memilih tetap optimistis. “Persaingan di mana-mana memang ada. Tapi saya berusaha menyediakan apa yang pembeli cari. Saya membuat sendiri kebaya-kebaya ini, custom sesuai keinginan pelanggan. Saya optimis, harus tetap bersemangat!” ucapnya dengan senyum yang mencoba mengusir keputusasaan.
Tiga Kios Sekaligus Tutup, Pedagang Ungkap Ada Masalah Internal Manajemen
Cerita berbeda datang dari Ilham, pedagang pakaian yang bahkan harus merelakan tiga kiosnya sekaligus. “Tiga kios saya di sini. Otomatis semuanya tutup karena PGS sedang dalam proses audit dari kurator,” jelas Ilham dengan nada datar namun penuh beban. Ia mengungkapkan bahwa jadwal penutupan sebenarnya baru akan dilaksanakan pada Mei 2026. Namun kesepakatan antara pedagang dan pengelola memaksa percepatan.
“Kami dikasih tenggat waktu 7 hari setelah audit dimulai. Jadi tanggal 30 kemarin itu batas terakhir. Kami sepakat untuk mengosongkan semua,” terang Ilham. Para pedagang dengan modal besar langsung mencari lokasi baru di BTC atau Pasar Klewer. Sementara yang modalnya terbatas, terpaksa berjualan dari rumah masing-masing.
Ilham juga membocorkan fakta menarik bahwa penutupan PGS tidak semata-mata karena sepi pengunjung. “Sebenarnya PGS ini bukan karena sepi, lho! Ini lebih karena masalah intern antara PGS dengan pihak terkait. Makanya bangunan ini sekarang dikuasai kurator dan diaudit total,” ungkapnya dengan nada misterius.
Dalam masa audit sebelum penutupan permanen, para pedagang sebenarnya masih memiliki waktu kontrak 6 bulan. “Kami terakhir ngontrak selama 6 bulan sebagai perpanjangan. Tapi kurator menentukan bahwa audit harus segera dilakukan dan gedung harus dikosongkan total. Tidak boleh ada aktivitas apapun di sini,” pungkas Ilham dengan pasrah.
Kepergian massal pedagang PGS menandai berakhirnya sebuah era dalam sejarah perdagangan Solo. Gedung yang dulu menjadi saksi bisu ribuan transaksi dan tawa canda para pembeli kini hanya menyisakan dinding kosong. Ribuan kios yang pernah bergemuruh dengan aktivitas ekonomi kini hanya menjadi museum bisu dari kejayaan masa lalu. Pertanyaan besarnya: akankah BTC dan Pasar Klewer mampu menampung para pedagang yang terusir ini? Atau akankah nasib PGS menjadi pertanda buruk bagi pusat perbelanjaan tradisional lainnya di tengah gempuran era digital? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











