Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Peternak Keluhkan Harga Ayam yang Merosot ke Rp 18.500, Sementara Biaya Produksi Justru Naik

JAKARTA, Cinta-news.com – Heboh! Para peternak ayam saat ini sedang kalang kabut. Pasalnya, harga ayam hidup di tingkat peternak ambrol drastis hingga cuma menyentuh kisaran Rp 18.000 per kilogram. Bayangkan, lebih murah dari biaya produksi!

Momentum Idul Fitri yang baru saja lewat ternyata meninggalkan duka tersendiri bagi peternak. Alih-alih meraup untung, kondisi ekonomi mereka justru semakin terpuruk, terutama bagi peternak skala kecil yang modalnya terbatas.

Setelah Lebaran, Harga Malah Terjun Bebas

Siapa sangka, tren penurunan harga ini sudah berlangsung sejak sepekan pasca Lebaran. Seorang peternak yang tergabung dalam Persatuan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, dengan nada frustrasi mengungkapkan kondisi memilukan ini.

Asep menjelaskan, harga ayam sebelumnya sempat bertengger di level yang cukup menggembirakan, yakni Rp 24.000 per kilogram. Namun, kini situasinya berbalik 180 derajat. Sangat disayangkan, angka tersebut terus merosot tanpa bisa dibendung.

“Setelah seminggu Idul Fitri, harga ayam terus turun dari Rp 24.000 per kg sampai sekarang cuma Rp 18.500 per kg,” ujar Asep dengan nada prihatin saat dihubungi pada Minggu (5/3/2026).

Lantas, apa biang keroknya? Asep membeberkan, penyebab utamanya karena sebagian besar pasokan ayam tidak terserap dengan baik setelah Idul Fitri. Lebih parahnya lagi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan bisa menjadi penyelamat ternyata belum juga berjalan. Alhasil, terjadi penumpukan ayam-ayam besar yang siap panen di kandang-kandang peternak.

Gelombang Kelebihan Pasokan Menggila

Menurut Asep, penurunan harga yang mengkhawatirkan ini dipicu oleh melimpah ruahnya pasokan. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan daya serap pasar yang memadai. Asep menjelaskan, situasi paling kritis terjadi lebih dulu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dari sana, efek domino langsung menjalar ke daerah lain. Jawa Barat dan Banten pun ikut terkena imbasnya. “Informasi yang saya dapat, harga turun karena stok ayam besar tidak terserap. Terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur yang turun duluan, lalu diikuti Jawa Barat dan Banten,” jelas Asep sambil menghela napas.

Biaya Produksi Meroket, Peternak Terjepit

Di sisi lain, peternak harus berurusan dengan masalah yang tak kalah pelik. Biaya produksi justru naik gila-gilaan di saat pendapatan mereka merosot tajam. Ini jelas menjepit posisi keuangan mereka dari dua sisi sekaligus.

Asep mengungkapkan, harga bibit ayam atau Day Old Chicken (DOC) saat ini masih melambung tinggi. Di tingkat peternak, harga DOC berkisar antara Rp 6.800 hingga Rp 7.500 per ekor. Jumlah ini cukup memberatkan untuk modal awal.

Tak hanya itu, pakan ayam yang merupakan komponen biaya terbesar juga ikut naik. Tepat pada 1 April 2026, harga pakan mengalami kenaikan sekitar Rp 200 per kilogram. Akibatnya, harga pokok produksi (HPP) ikut terdongkrak naik secara signifikan.

Harga Jual di Bawah Modal, Peternak Merugi!

Dengan kondisi serba sulit ini, Asep menyebutkan bahwa harga pokok produksi ayam saat ini sudah menyentuh angka Rp 22.000 per kilogram. Coba bayangkan, sementara harga jual di pasaran hanya Rp 18.500 per kilogram.

Artinya, setiap kilogram ayam yang dijual, peternak mengalami kerugian hingga Rp 3.500. Ini jelas situasi yang tidak sehat dan sangat merugikan para peternak, terutama mereka yang mandiri dan bermodal kecil.

“Kami meminta harga kembali normal, setidaknya di atas HPP, yaitu Rp 23.000 sampai Rp 24.000 per kg. Soalnya, HPP kami saat ini sudah mencapai Rp 22.000 per kg,” tegas Asep dengan suara lantang.

Desakan Keras ke Pemerintah: Turun Tangan Sekarang!

Dalam situasi genting ini, para peternak tidak tinggal diam. Mereka secara serentak mendesak pemerintah untuk segera turun tangan mengendalikan harga yang kacau balau. Mereka yakin, intervensi pemerintah sangat diperlukan sebelum kondisi semakin parah.

Secara khusus, peternak meminta pemerintah untuk mengawasi perusahaan integrator besar yang selama ini menjadi penguasa pasar. Asep menekankan, perusahaan-perusahaan tersebut harus tetap mengacu pada harga acuan penjualan (HAP) yang telah ditetapkan.

“Kami minta ada pengendali harga. Pemerintah harus mengontrol harga jual ayam pada perusahaan besar integrasi yang menjadi market leader. Kalau tidak dimonitor dan dikendalikan, peternak mandiri yang kecil dengan modal terbatas akan hancur,” kata Asep dengan nada mengancam.

Asep menambahkan, jika tidak ada tindakan cepat dari pemerintah, bukan tidak mungkin banyak peternak kecil yang akan gulung tikar. Ini akan berdampak pada rantai pasok nasional dan pada akhirnya juga merugikan konsumen. Oleh karena itu, pengawasan dan pengendalian harga oleh pemerintah saat ini sangat krusial dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *