BANTUL, Cinta-news.com – Para petani di Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini kompak beralih menanam sorgum. Mengapa? Ternyata komoditas ini jauh lebih menggiurkan dibandingkan padi! Selain mengantongi nilai ekonomi yang lebih tinggi, sorgum juga tidak rewel soal air dan bisa dipanen dalam waktu yang relatif singkat.
Pada Minggu (2/8/2026) lalu, areal pertanian Mojo Legi menjadi saksi bisu penanaman sorgum secara massal. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jitu untuk mendorong ketahanan pangan sekaligus mengerek kesejahteraan petani di Bumi Projotamansari.
Ketua Gapoktan Sedyomakmur Karangtengah, Sogiyanto, melontarkan pernyataan mengejutkan. Menurutnya, minat warga terhadap sorgum meroket tajam setelah mereka mengetahui sendiri potensi hasil dan kemudahan budidayanya. “Masyarakat kini sangat antusias sekali begitu mengetahui hasilnya. Jadi, sekarang sudah banyak sekali yang tanam di sini,” ujar Sogiyanto dengan nada optimis, Senin (3/8/2026).
Lebih Cuan daripada Padi? Ternyata Ini Rahasianya!
Sogiyanto membeberkan data menarik, dari total 17 hektare lahan sawah milik warga, sekitar 10-15 hektare kini mulai disulap menjadi ladang sorgum oleh sekitar 150 petani. Rata-rata, tanaman ini mampu memproduksi sekitar tiga ton per hektare.
Menurut penuturannya, hasil budidaya sorgum terbukti lebih menguntungkan dibandingkan padi maupun jagung. Mengapa demikian? Karena sorgum memiliki segudang pemanfaatan, mulai dari bahan pangan sehat hingga pakan ternak berkualitas.
“Di samping itu, sangat mudah menanam sorgum. Tidak membutuhkan asupan air yang banyak. Cukup dua kali penyiraman, tanaman sorgum ini bisa hidup. Karena setiap pagi ada embun yang menempel di tanaman sorgum, sehingga dapat menjadi asupan nutrisi untuk tanaman itu sendiri,” jelasnya dengan penuh semangat.
Selain dijual sebagai hasil panen, sorgum juga dimanfaatkan sebagai sumber bibit melalui kerja sama strategis dengan Pondok Pesantren Al Mahalli Watu Ageng. Dalam skema bagi hasil yang transparan, panen dibagi dengan porsi 40 persen untuk petani, 40 persen untuk pondok pesantren, dan 20 persen untuk pemilik lahan.
Tak Perlu Banjir! Cukup Dua Kali Siram Sudah Tumbuh Subur
Salah satu alasan utama mengapa sorgum mulai dilirik petani adalah kebutuhannya akan air yang relatif rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya. Sogiyanto menjelaskan, tanaman ini cukup disiram dua kali selama masa tanam dan tetap dapat tumbuh dengan baik. Bayangkan, dengan perawatan seminimal itu, petani sudah bisa tersenyum manis menanti panen!
Masa panennya juga tergolong singkat, tergantung tujuan pemanfaatannya. Jika ditujukan sebagai pakan ternak, sorgum dapat dipanen saat berusia sekitar dua bulan. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, masa panennya sekitar tiga bulan.
Tanaman serbaguna ini juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan kekinian, seperti pengganti nasi, bubur, tape, hingga tempe. Bagi masyarakat yang mengonsumsinya, sorgum disebut memiliki manfaat luar biasa sebagai sumber nutrisi, membantu menjaga kadar gula darah, serta melancarkan pencernaan. Benar-benar superfood lokal!
Lahan Kering pun Bisa Berbuah Manis!
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mengungkapkan fakta menarik bahwa tanaman sorgum sebenarnya pernah berkembang di Bantul pada periode 2013-2015. Saat itu, produktivitasnya bahkan mencapai angka fantastis sekitar enam hingga tujuh ton per hektare. Namun, minat petani sempat menurun karena harga yang ditawarkan offtaker belum menarik.
“Dulu, hasil produksi per hektare itu sekitar enam sampai tujuh ton, walau sorgum ini banyak disukai oleh hama burung. Tetapi, kemarin di lahan pasir tidak ada hama burung dan sebagainya. Jadi, sekarang kami harapkan ini dapat dikembangkan di lahan marginal,” kata Joko dengan penuh harap.
Menurutnya, selain menjadi alternatif pengganti beras yang menyehatkan, limbah tanaman sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sehingga memberikan nilai tambah berlipat bagi sektor pertanian.
Waspada! Jangan Asal Tanam Tanpa Peta Jalan
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, memberikan wejangan penting. Ia mengingatkan agar pengembangan sorgum tetap dibarengi dengan pemetaan pasar dan pengolahan hasil panen yang matang.
“Jangan sampai kita menanam sesuatu, tetapi pada akhirnya kita kesulitan di penjualnya. Maka selalu kami harapkan selain pengembangan pertanian, kami juga memikirkan pengolahannya,” ujarnya dengan nada mengingatkan.
Seiring meningkatnya minat petani yang melonjak tinggi, pengembangan sorgum di Bantul diharapkan terus meluas, terutama di lahan-lahan marginal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Selain menjadi alternatif pengganti beras, tanaman ini juga menawarkan nilai tambah karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, baik untuk pangan maupun pakan ternak.
Dengan segala keunggulannya, bukan tidak mungkin sorgum akan menjadi primadona baru pertanian Indonesia di masa depan. Para petani Bantul pun kini semakin percaya diri melangkah, membawa sorgum sebagai harapan baru bagi kemakmuran negeri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
