ARUNACHAL PRADESH, Cinta-news.com – Gejolak hebat mendadak meletus di kawasan pedalaman Himalaya! Aksi protes warga yang menolak rencana pembangunan bendungan raksasa di wilayah timur laut India berujung pada bentrokan fisik yang amat sengit antara masyarakat lokal melawan aparat kepolisian setempat.
Akibat amarah yang tak lagi terbendung, massa pengunjuk rasa nekat membakar sekaligus merusak deretan gedung fasilitas publik. Sementara itu, sekitar 40 personel polisi menderita luka-luka fisik akibat terjebak dalam pusaran amuk massa tersebut.
Amuk Massa di Arunachal Pradesh dan Imbauan Damai Pemerintah
Awalnya, gelombang kericuhan mulai pecah di Negara Bagian Arunachal Pradesh pada Jumat (23/10/2026) malam. Tak heran jika emosi warga tersulut hebat, sebab mereka menentang keras mega proyek Siang Upper Multipurpose Project berkapasitas raksasa 11.200 megawatt yang digarap oleh perusahaan hidroelektrik milik negara, NHPC.
Selanjutnya, situasi genting ini mendapatkan konfirmasi langsung dari Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Pema Khandu, saat beliau menyampaikan keterangan resmi di hadapan para pemburu berita pada Sabtu (24/10/2026).
“Massa mengamuk dan menghancurkan banyak properti penting. Kantor polisi setempat beserta kantor operasional NHPC dirusak total, bahkan kediaman pribadi sejumlah wakil rakyat diacak-acak oleh massa,” ungkap Khandu saat mengutip laporan resmi media AFP pada Minggu (25/10/2026).
Dampaknya, sekitar 40 personel polisi menderita luka-luka akibat dihujani lemparan batu tajam oleh para pengunjuk rasa yang tersulut emosi.
Oleh karena itu, demi meredam amarah kerumunan massa yang kian beringas, pihak kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata ke arah para demonstran.
Menanggapi eskalasi bentrokan yang makin meluas, Khandu lantas mengimbau seluruh kelompok masyarakat yang menentang proyek ini agar segera menempuh saluran komunikasi resmi bersama jajaran pemerintah.
“Silakan ajukan pertanyaan kritis kepada kami dan mari utamakan dialog terbuka, alih-alih memilih jalan kekerasan yang justru merugikan semua pihak,” tegasnya meyakinkan warga.
Kekhawatiran Warga dan Ambisi Menyaingi Mega Bendungan China
Sebenarnya, rencana pembangunan konstruksi ini tergolong amat megah lantaran terproyeksi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar sepanjang sejarah India. Namun demikian, proyek raksasa tersebut justru memicu benteng penolakan yang sangat keras dari masyarakat setempat.
Pasalnya, warga lokal memendam ketakutan mendalam bahwa mega proyek hidroelektrik ini akan merenggut tempat tinggal mereka serta mematikan sumber mata pencarian utama secara permanen.
Walaupun begitu, bagi jajaran Pemerintah India, keberadaan bendungan ini memegang peranan yang amat vital demi membendung serta menyeimbangi ambisi proyek Yaxia milik China yang bernilai fantastis mencapai 167 miliar dollar AS (atau sekitar Rp 3 kuadriliun).
Lagipula, skema mega proyek PLTA milik Beijing di wilayah hulu Tibet tersebut terprediksi bakal memecahkan rekor dunia sebagai bendungan paling masif di muka bumi.
Oleh sebab itu, Pemerintah New Delhi memendam kecemasan mendalam jika proyek China tersebut memangkas atau memanipulasi pasokan debit air menuju kawasan hilir. Maka dari itu, India sengaja merancang waduk penampung raksasa ini agar mampu menjamin kelancaran serta mengamankan aliran air menuju kawasan Sungai Brahmaputra.
Sebaliknya, pemerintah Beijing berkali-kali mengeklaim bahwa proyek hidroelektrik mutakhir milik mereka sama sekali tidak akan menimbulkan dampak negatif bagi ketersediaan air di wilayah hilir.
Sengketa Perbatasan Wilayah dan Trik Diplomasi Dua Raksasa Asia
Lebih lanjut, persoalan pasokan air ini kian pelik lantaran terbelit konflik perselisihan perbatasan wilayah benteng pertahanan yang sudah berlangsung sangat lama antara kedua negara superpower tersebut.
Sebagai bukti nyata, pihak China senantiasa mengeklaim bahwa wilayah Arunachal Pradesh merupakan bagian integral dari Tibet Selatan, sedangkan pihak India menegaskan kembali bahwa kawasan tersebut adalah kedaulatan mutlak yang tak bisa ditawar.
Alhasil, perselisihan pembangunan proyek air ini makin memperjelas jurang ketegangan antara dua negara berpopulasi terbesar di dunia tersebut, di mana kawasan garis perbatasan Himalaya saat ini dijaga ketat oleh puluhan ribu tentara bersenjata lengkap.
Kendati situasi sempat memanas, Kementerian Luar Negeri India pada hari Jumat secara resmi menyatakan bahwa kedua belah pihak pemerintahan masih terus menjalin komunikasi rutin demi mengendalikan ketegangan militer di perbatasan.
Menariknya, pernyataan diplomatis ini justru mencuat tepat setelah komandan tinggi kepolisian perbatasan India, Shatrujeet Kapur, merilis laporan resmi terkait adanya konfrontasi fisik yang sempat terjadi antara pasukan patroli India dan China.
“Kondisi stabilitas di wilayah perbatasan India-China memang terkadang terganggu ketika pasukan patroli China mendadak keluar dari rute atau pola patroli resmi yang telah ditetapkan bersama,” jelas juru bicara Kemenlu India, Randhir Jaiswal, saat membeberkan informasi kepada wartawan di New Delhi.
Lebih jauh lagi, Jaiswal menambahkan bahwa kedua negara senantiasa mengedepankan saluran diplomasi resmi serta mekanisme komando militer yang ada untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan yang belum tuntas, sekaligus mencegah kesalahpahaman maupun miskalkulasi taktis di lapangan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
