LAMPUNG, Cinta-news.com — Fenomena alam luar biasa mendadak mengguncang perairan Selat Sunda ketika sebuah daratan misterius tiba-tiba menghampar luas di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), tepatnya mengapit perairan indah antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan.
Tumpukan daratan raksasa tersebut sejatinya terbentuk dari endapan material super dahsyat hasil muntahan erupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan isinya secara terus-menerus dalam beberapa waktu terakhir. Alhasil, luasan daratan baru ini diperkirakan telah membentang sangat fantastis hingga mencapai sekitar 30,3 hektar.
Menanggapi kabar heboh ini, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang bermarkas di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, langsung angkat bicara serta membenarkan fenomena langka tersebut ketika tim media mengonfirmasinya pada Rabu (23/9/2026).
“Oh iya, memang benar,” ungkap Suwarno dengan nada mantap saat memastikan kebenaran hadirnya daratan anyar tersebut.
Material Erupsi Membentuk Daratan Baru
Lebih lanjut, Suwarno menguraikan bahwa daratan spektakuler ini sebenarnya tercipta akibat proses akumulasi masif dari muntahan batu, debu, serta material vulkanik yang terus menumpuk di sekitar kawasan gunung api aktif tersebut.
Oleh karena itu, beliau menggarisbawahi bahwa proses kemunculan daratan ini sama sekali bukanlah kejadian ajaib yang timbul secara mendadak begitu saja setelah gelombang letusan terakhir mereda. Sebaliknya, material vulkanik tersebut justru telah menyembul secara bertahap seiring melejitnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak otoritas resmi menaikkan statusnya menjadi Level III (Siaga) pada tanggal 2 Juli 2026 lalu.
“Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektar,” tutur Suwarno sembari menggambarkan betapa masifnya tumpukan material erupsi tersebut.
Selanjutnya, beliau kembali menegaskan bahwa tim ahli sejatinya sudah mengendus serta memasukkan pergerakan daratan baru ini ke dalam pemantauan ketat radar pemantau. Malahan, posisinya tercatat masih berada sangat dekat dalam jangkauan intim antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
“Ya, enggak jauh, di sekitar itu aja. Hasil dari situ, lontaran apa… hasil erupsi kemarin itu di situ,” tambah Suwarno sembari memperjelas asal-usul hempasan material tersebut.
Pernyataan gamblang dari ahli tersebut alhasil secara otomatis menepis kepanikan dan anggapan liar publik yang mengira daratan masif ini terbentuk secara gaib atau mendadak dalam sekejap mata. Sebab, Suwarno memastikan bahwa seluruh proses pembentukannya murni terjadi karena penumpukan bertahap material vulkanik yang dimuntahkan selama periode erupsi hebat Gunung Anak Krakatau.
Bukan Berarti Muncul “Cucu” Krakatau
Meskipun demikian, lahirnya daratan baru seluas puluhan hektar ini lantas memicu berbagai macam spekulasi liar di tengah masyarakat luas, termasuk asumsi heboh yang mengira tempat tersebut bakal menjadi cikal bakal gunung api baru alias calon “cucu” Krakatau.
Namun demikian, Suwarno secara tegas meluruskan bahwa pihak pengamat ilmiah sampai detik ini sama sekali belum memiliki pijakan atau bukti dasar untuk menarik kesimpulan yang menghebohkan tersebut.
Bahkan, saat tim melontarkan pertanyaan mendalam mengenai potensi kemunculan sang “cucu Krakatau” di lokasi itu, beliau memberikan jawaban yang sangat singkat dan santai.
“Ya, enggak jugalah, enggak,” tegas Suwarno sembari tertawa tipis menepis spekulasi prematur masyarakat tersebut.
Sebab menurut analisis Suwarno, Gunung Anak Krakatau hingga saat ini memang masih menyimpan dan mengendalikan sistem saluran magma utama yang sangat kompleks di bawah permukaan bumi.
Oleh sebab itu, keberadaan tumpukan daratan material baru di atas permukaan air laut tidak bisa serta-merta mengasumsikan hadirnya pipa magma baru ataupun pergerakan magma segar yang sedang mendorong ke permukaan di titik tersebut.
“Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar,” jelas Suwarno menerangkan sifat alami lelehan magma yang selalu mencari celah batuan paling rapuh.
Di samping itu, beliau menuturkan pula bahwa manusia tidak akan pernah bisa menebak rahasia kelam di perut bumi hanya dengan mengamati perubahan tumpukan material yang terlihat di permukaan saja.
“Enggak tahu juga gitu kan, namanya di dalam, di dalam bumi kita enggak tahu,” sambung Suwarno memperingatkan agar publik tidak gegabah berimajinasi.
Aktivitas GAK Masih Dipantau
Lebih jauh lagi, Suwarno memaparkan bahwa hingga detik ini tim pemantau belum mencatat adanya pergerakan cairan magma yang mengalir secara khusus menuju ke bawah daratan baru tersebut.
Oleh karena itu, beliau mengindikasikan bahwa seluruh bongkahan material yang membentuk pulau baru tersebut pada dasarnya masih tersambung erat dengan saluran utama Gunung Anak Krakatau. Akibatnya, potensi terbentuknya pusat erupsi baru yang terpisah sampai sekarang masih amat jauh dari kepastian.
“Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui,” papar Suwarno menegaskan kembali batasan pengetahuan ilmiah saat ini.
Maka dari itu, masyarakat luas harus menyikapi fenomena lahirnya daratan anyar ini sebagai dinamika pertumbuhan alami Gunung Anak Krakatau semata, bukannya terburu-buru mengklaimnya sebagai kelahiran gunung api baru yang menakutkan.
Sementara itu, otoritas terkait sejatinya telah secara resmi menurunkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Senin (21/9/2026) tepat pukul 18.30 WIB, lantaran hasil evaluasi komprehensif membuktikan adanya penurunan signifikan pada intensitas erupsi, aktivitas kegempaan, serta deformasi tubuh gunung.
Kendati status bahayanya sudah melandai turun, pihak berwenang tetap melarang keras para wisatawan maupun nelayan lokal untuk mendekati area kawah aktif. Pasalnya, zona Level II Waspada ini secara ketat memberlakukan aturan steril yang melarang seluruh aktivitas manusia dalam radius aman 2 kilometer dari pusat kawah aktif.
Pada akhirnya, kemunculan daratan baru nan fantastis di dekat GAK ini terus menjadi bagian dari fenomena vulkanik menakjubkan yang diawasi secara ketat oleh tim ahli selama 24 jam. Namun, terkait apakah daratan ini nantinya bakal berevolusi menjadi wujud baru akibat gejolak magma di masa depan, Suwarno menyimpulkan bahwa misteri alam tersebut memang masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
