PANDEGLANG, Cinta-news.com — Kabar memilukan kembali datang dari perairan Selat Sunda yang terkenal ganas. Namun, Gubernur Banten Andra Soni secara tegas langsung menjamin bahwa Pemerintah Provinsi Banten bakal terus berdiri mendampingi seluruh keluarga dari delapan jiwa yang hilang misterius bersama speedboat Arupadhatu 1. Langkah mantap dan penuh kepedulian tersebut dilontarkan oleh sang Gubernur usai tim SAR gabungan secara resmi mengetok palu penghentian masa pencarian pada Kamis (17/9/2026), tepat setelah armada penyelamat melakoni pertarungan berat menyisir lautan selama sepuluh hari penuh tanpa henti.
Selain itu, Andra juga menegaskan bahwa jajarannya akan terus mengawal serta merawat saluran komunikasi aktif bersama pihak keluarga korban. Pasalnya, pemerintah provinsi ingin selalu menyalurkan suntikan moral yang kuat, sekaligus menyodorkan setiap informasi perkembangan paling mutakhir demi memuaskan dahaga kepastian para kerabat yang sedang berduka.
“Oleh karena itu, kami tentu bakal terus merapatkan barisan dan berkoordinasi secara intim dengan pihak keluarga. Sebab, kami menyadari betul bahwa hal utama yang paling mereka buru dan butuhkan detik ini adalah limpahan dukungan moral serta transparansi kabar berita,” ungkap Andra saat berbicara lantang di Posko Utama SAR Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Kamis sore (17/9/2026).
Pemprov Banten Terus Jaga Komunikasi
Lebih lanjut, Andra menjelaskan sebuah pandangan yang sangat menyentuh hati. Menurutnya, keputusan penghentian penyisiran kapal SAR secara aktif sama sekali tidak memadamkan berkas nyala harapan di dada pemerintah maupun keluarga korban untuk memeluk kembali delapan insan yang hingga kini masih raib ditelan ombak.
“Meskipun begitu, sanak keluarga beserta kita semua di sini sebenarnya masih konsisten memelihara kobaran asa yang tinggi. Kami masih meyakini dalam hati bahwa kawan-kawan serta saudara-saudara tercinta kita ini suatu saat nanti bisa ditemukan,” tutur Andra dengan nada yang begitu bergetar emosional.
Di samping itu, Andra membeberkan fakta penting terkait identitas para korban. Pasalnya, hasil penelusuran data kependudukan mengonfirmasi bahwa enam dari total delapan penumpang yang berada di lambung kapal Arupadhatu 1 resmi tercatat sebagai warga sah Provinsi Banten berdasarkan dokumen Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka.
Maka dari itu, pihak Pemprov Banten merasa memikul tanggung jawab moral yang sangat besar. Alhasil, seluruh jajaran dinas terkait dipastikan akan terus merajut komunikasi intensif bersama pihak keluarga korban, biarpun garis pencarian fisik oleh tim gabungan di lapangan kini telah resmi berganti status.
Pencarian Berlangsung 10 Hari
Sementara itu, perjalanan perjuangan tim pencari telah menguras tenaga luar biasa selama 10 hari berturut-turut. Padahal, durasi penyisiran tersebut sudah mencakup masa perpanjangan ekstra selama tiga hari penuh, setelah opsi standar operasi awal yang berdurasi tujuh hari sebelumnya dinilai masih belum membuahkan hasil memuaskan.
Akan tetapi, sepanjang kerja keras menyapu gelombang tinggi perairan, tim penyelamat gabungan nyatanya belum juga memegang petunjuk terang. Tim SAR memang belum berhasil mendeteksi jejak sedikit pun, baik berupa bangkai speedboat Arupadhatu 1 maupun keberadaan delapan jiwa manusia yang ada di dalamnya.
Memang, petugas lapangan sempat memetik sedikit secercah harapan usai berhasil mengangkat 13 objek terapung misterius selama rentang operasi. Namun, seusai tim Ditpolairud Polda Banten melakukan pemeriksaan laboratorium dan analisis mendalam, seluruh benda tersebut sayangnya dinyatakan sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan keberadaan Arupadhatu 1.
Kendati operasi penyisiran kapal aktif telah resmi ditutup, sistem pertahanan radar dan pemantauan maritim sebenarnya tidak lantas mengendurkan pandangan. Sebaliknya, otoritas terkait justru melipatgandakan pengawasan pasif melalui pemanfaatan teknologi Vessel Traffic Service (VTS), armada Pangkalan TNI AL (Lanal), Satpolairud, hingga meminta bantuan seluruh Nahkoda kapal niaga yang sedang melintasi jalur sibuk Selat Sunda.
Bahkan, para pejabat berwenang menjamin sebuah janji penting bagi publik. Apabila masyarakat atau lalu lintas pelayaran menemukan bukti atau petunjuk baru yang valid mengenai posisi para korban maupun keberadaan Arupadhatu 1, lantas operasi SAR berskala besar dipastikan akan mendadak dibuka kembali detik itu juga.
Lima Jurnalis dan Tiga Kru Masih Hilang
Lantas, siapakah sebenarnya kedelapan korban yang hingga kini masih menjadi teka-teki besar ini? Rombongan malang tersebut ternyata berisi lima orang jurnalis berdedikasi tinggi serta tiga kru kapal berpengalaman, yang secara tiba-tiba kehilangan kontak usai memacu kapal membelah ombak dari Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin kelam (7/9/2026).
Secara rinci, deretan lima jurnalis pemberani yang tercatat hilang tersebut meliput figur M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari media Merdeka, Yudhis dari stasiun iNews, Daus yang mewakili Anadolu Agency, serta Donal yang mengabarkan berita sebagai seorang jurnalis lepas (freelance).
Sementara itu, tiga kru kapal yang ikut terseret dalam tragedi misterius ini memuat nama Warta (55 tahun) yang bertindak selaku kapten nahkoda tangguh, Surakman (60 tahun) sebagai Anak Buah Kapal (ABK) senior, serta Heriyanto (49 tahun) yang memegang peran vital sebagai pemandu arah pelayaran.
Oleh sebab itu, Gubernur Andra Soni menyempatkan diri untuk menghaturkan rasa hormat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang telah berjuang tanpa kenal lelah. Beliau secara khusus memuji ketangguhan setiap individu yang sudah mengorbankan waktu serta tenaga demi misi kemanusiaan maraton selama sepuluh hari penuh tersebut.
“Kami atas nama seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Banten mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh insan pencari yang selama 10 hari ini sudah mengemban tugas kemanusiaan luar biasa ini dengan penuh kesungguhan. Tak lupa, kami juga menghaturkan apresiasi mendalam kepada semua pihak pembantu serta sinergi erat dari jajaran keluarga korban,” ucap Andra dengan ketulusan yang mendalam.
Selanjutnya, dalam nada suara yang semakin bergetar, sang Gubernur pun tak mampu menyembunyikan rasa duka nestapa yang mendalam atas fakta pahit di lapangan. Pasalnya, hingga detik kran operasi ditutup, takdir masih belum mempertemukan tim penyelamat dengan keberadaan delapan korban tersebut.
“Alhasil, pada kesempatan bernilai ini, kami terdorong untuk kembali menyuarakan rasa keprihatinan yang teramat dalam lantaran sahabat-sahabat terbaik kita, keluarga-keluarga tercinta kita yang menumpangi kapal Arupadhatu 1 hingga kini masih belum berhasil kita temukan,” pungkas Andra menutup kalimatnya dengan tatapan penuh rasa simpati.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











