JAKARTA, Cinta-news.com – Peringatan keras baru saja dilontarkan langsung oleh Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri. Menurutnya, jangan pernah berpikir Indonesia aman-aman saja dari gempuran dampak perang yang kini melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Kembali oleh Iran Imbas Eskalasi Konflik Israel-Lebanon
“Jujur, saya perlu menegaskan bahwa Indonesia sama sekali tidak kebal terhadap kondisi mengerikan ini,” ujar Abdulla dengan tegas saat menggelar konferensi pers di kediaman Dubes UEA, kawasan Jakarta, pada Rabu (8/4/2026).
Selat Hormuz Diguncang, Harga BBM RI Bisa Meroket!

Lebih lanjut, Abdulla menjelaskan bahwa apa yang saat ini membara di kawasan Timur Tengah sama sekali bukan sekadar masalah lokal atau regional semata. Ia menekankan, seluruh dunia pasti bakal merasakan getaran kerasnya.
Baca Juga: Perang AS vs Iran Pengaruhi Distribusi Kedelai, Perajin Tahu Pati Merasakan Tekanan
Coba bayangkan, sekitar 20 persen dari total suplai minyak dunia serta 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global setiap hari melewati Selat Hormuz. Kemudian, sebanyak 80 hingga 90 persen dari ekspor energi krusial ini langsung meluncur menuju negara-negara Asia. Artinya, begitu terjadi gangguan sedikit saja di kawasan mereka, pasar global pasti langsung bergetar hebat.
Abdulla juga membeberkan fakta mengejutkan lainnya. Negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) saat ini sudah merasakan lonjakan harga di berbagai sektor. Mulai dari sektor energi, biaya pengiriman kapal, hingga biaya transportasi ikut meroket. Tak berhenti di situ, tekanan pada rantai pasok global pun ikut menguat secara signifikan.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Siapkan Strategi Utama Hadapi Lonjakan Harga Plastik 60 Persen
Dengan nada penuh peringatan, dia menegaskan bahwa banyak negara Asia, termasuk Indonesia, akan terkena imbas langsung dari konflik panas antara AS-Israel melawan Iran. “Sama seperti kebanyakan ekonomi negara Asia lainnya, Indonesia juga terkena dampak langsung. Harga bahan bakar melonjak, harga barang-barang kebutuhan ikut naik, dan rantai pasok jadi kacau balau,” terang Abdulla.
Namun, di tengah situasi mencekam ini, Abdulla menegaskan komitmen negaranya. Negara-negara di teluk Arab, katanya, terus mendorong mati-matian upaya perdamaian melalui jalur diplomasi. Mereka juga menentang keras perang yang sedang berlangsung karena dinilai melanggar banyak aturan internasional, termasuk berbagai perjanjian yang sudah disepakati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Avtur Tembus Rp23 Ribu per Liter, Maskapai Pilih Ubah Rute dan Rasionalisasi Kapasitas
“Kami tidak akan berhenti bekerja sama dengan mitra internasional kami, termasuk Indonesia. Tujuannya jelas: mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama,” imbuh Abdulla dengan penuh harap.
Gencatan Senjata 2 Pekan? Tangan Iran Tetap Di Pelatuk!
Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari Teheran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara resmi mengumumkan bahwa mereka menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dalam perang melawan Amerika Serikat. Namun, jangan salah sangka dulu!
Berdasarkan laporan Al Jazeera pada Rabu (8/4/2026), dewan tersebut menegaskan bahwa jeda pertempuran ini sama sekali bukan berarti perang sudah berakhir. Mereka tetap berada dalam siaga tertinggi.
Dengan nada mengancam, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan, “Tangan kami tetap berada di pelatuk. Apabila kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan kami tanggapi dengan kekuatan penuh tanpa kompromi.”
Sebelumnya, keputusan gencatan senjata sementara selama dua pekan diumumkan secara mengejutkan oleh Presiden AS Donald Trump. Keputusan dramatis ini diambil setelah serangkaian diskusi intensif bersama kepemimpinan Pakistan yang bertindak sebagai mediator dalam konflik panas AS-Israel dengan Iran.
Ingat, sebelumnya Trump dengan lantang mengancam akan meratakan Iran apabila Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz. Ia bahkan sempat memasang tenggat waktu yang sangat ketat: Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 zona waktu Eastern Time (ET) pesisir timur AS. Waktu itu bertepatan dengan Rabu (8/4/2026) pukul 03.30 waktu Teheran, atau Rabu pagi pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Jadi, meskipun ada jeda, kewaspadaan tetap harus dipasang seratus persen!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











