Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Lompatan Harga Ayam Kampung di Pamekasan Tembus Rp 100 Ribu, Tertinggi di Jawa Timur

Cinta-news.com – Kabar mengejutkan mendadak mengguncang kawasan Madura ketika lonjakan harga bahan pangan meledak secara dramatis di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Tepat pada Kamis (5/11/2026), masyarakat setempat harus menelan kenyataan pahit lantaran harga ayam kampung mendadak melonjak drastis hingga menyentuh angka fantastis Rp 100.000 untuk setiap ekornya. Bahkan, lonjakan ekstrem sebesar Rp 20.000 ini secara mengejutkan langsung memukul daya beli warga, sebab dalam situasi normal pedagang biasanya hanya mematok harga di kisaran Rp 80.000 saja.

Selanjutnya, berdasarkan pemantauan data resmi dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, fenomena lonjakan ini ternyata mencatatkan rekor yang sangat mencengangkan. Sebab, catatan pasar tersebut mengonfirmasi bahwa harga jual komoditas unggas lokal di Pamekasan secara sah resmi menduduki posisi puncak paling mahal di seluruh penjuru wilayah Provinsi Jawa Timur.

Biang Kerok Kenaikan Harga: Setoran Pemasok Naik, Pedagang Terpaksa Ikut Nyerah

Sementara itu, saat ditemui secara langsung di area lapaknya, Juhairiyah selaku pedagang daging senior yang mengadu nasib di Pasar 17 Agustus membeberkan dinamika sebenarnya di lapangan. Ia mengungkapkan fakta bahwa badai kenaikan harga ayam ternak ini sebenarnya sudah merangkak naik secara bertahap semenjak awal pekan. Namun demikian, lonjakan tajam yang meroket pada pekan ini memang terbukti jauh lebih menghentak bila kita bandingkan dengan pergerakan harga pada pekan-pekan sebelumnya.

Lebih lanjut, wanita pedagang itu memaparkan pengakuan jujurnya dengan nada helaan napas yang amat berat saat memberikan keterangan resmi pada Kamis (5/11/2026). Ia menegaskan secara gamblang bahwa situasi pasar saat ini benar-benar di luar kebiasaan, mengingat masyarakat biasanya cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 80.000 untuk mendapatkan satu ekor ayam segar, akan tetapi kini angka tersebut terpaksa membengkak tajam hingga menembus seratus ribu rupiah.

Di samping itu, Juhairiyah menerangkan bahwa pemicu utama di balik gejolak pasar ini sejatinya berakar dari tingginya patokan harga yang dipaksakan oleh para distributor serta pemasok besar. Oleh sebab itu, kondisi yang serba sulit ini pada akhirnya memaksa para pedagang eceran di tingkat bawah untuk ikut serta menaikkan tarif jual mereka demi membentengi usaha agar tidak terperosok ke dalam jurang kerugian yang fatal.

Apalagi, jika kita mencermati histori transaksinya, pergerakan harga unggas ini sempat tertahan sejenak di kisaran Rp 85.000 per ekor sebelum akhirnya secara membabi buta melonjak tinggi mencapai Rp 100.000 dalam kurun waktu dua hari terakhir. Kendati demikian, antusiasme para pelanggan untuk menyambangi lapak pasar sejatinya belum benar-benar padam, walaupun mayoritas konsumen kini memilih untuk memangkas kuantitas belanjaan mereka secara signifikan.

Bahkan, pedagang itu menuturkan kembali realita pahit mengenai perilaku para langganannya di tengah kondisi ekonomi yang kian tertekan. Ia menyampaikan bahwa meskipun deretan pembeli masih terlihat memadati kawasan pasar, mereka secara kompak mengimbangi kenaikan harga ini dengan cara mengurangi porsi pembelian harian agar dapur rumah tangga mereka tetap bisa mengepul.

Lampaui Momen Idul Fitri: Ayam Kampung Pamekasan Jadi yang Termahal Se-Jatim

Selain itu, ia juga menekankan bahwa lonjakan nilai jual ayam lokal kali ini merupakan catatan sejarah paling ekstrem dan tidak pernah terjadi dalam periode-periode sebelumnya. Menariknya lagi, tren lonjakan teranyar ini bahkan secara mengejutkan sanggup mengangkangi rekor puncak harga yang biasanya kerap terjadi pada momentum perayaan hari besar keagamaan nasional, semisal perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha.

Tidak berhenti di situ saja, fenomena pergeseran harga ini ternyata ikut menjalar dan menyeret komoditas ayam ras atau broiler. Berdasarkan pengamatan seksama Juhairiyah, harga daging ayam ras di tingkat pengecer turut mengalami pengkerekatan angka dari yang mulanya dibanderol Rp 40.000 kini merangkak naik hingga menyentuh Rp 42.500 untuk setiap kilogramnya.

Oleh karena itu, pedagang tersebut memberikan rincian tambahan untuk menenangkan keresahan para pelanggan setianya. Ia kembali menegaskan dalam tuturnya bahwa jenis ayam broiler ini memang ikut terimbas kenaikan, akan tetapi eskalasi harganya tidaklah separah ayam lokal sehingga angkanya kini tertahan manis pada posisi Rp 42.500 per kilogram.

Akhirnya, Juhairiyah melayangkan harapan besarnya agar instansi pemerintah segera turun tangan menstabilkan kembali pasokan dan memulihkan harga ayam ke titik normal. Hal ini lantaran lonjakan gila-gilaan tersebut terbukti telah menggerus omzet serta menekan perputaran roda transaksi perhariannya secara lumayan hebat.

Jika kita meninjau lebih dalam sajian data terkini Siskaperbapo Jawa Timur, kepastian posisi Pamekasan sebagai daerah termahal semakin tak terbantahkan lantaran patokan harga ayam kampung di sana secara konsisten menembus seratus ribu rupiah per ekornya.

Ternyata, capaian nominal fantastis tersebut secara meyakinkan langsung mengasapi Kabupaten Banyuwangi yang terpaksa mengekor rapat di urutan kedua dengan catatan harga Rp 88.000 per ekor, serta melampaui Kabupaten Sumenep yang bertahan cukup jauh di kisaran Rp 80.000 per ekornya.

Serupa tapi tak sama, torehan dominasi mahal ini pun terulang pada komoditas ayam ras di mana Pamekasan memimpin takhta teratas se-Jawa Timur lewat angka Rp 42.500 per kilogram. Sementara itu, wilayah tetangganya yakni Kabupaten Sumenep serta Kabupaten Sampang harus puas membayangi di urutan berikutnya dengan harga yang masih relatif stabil di angka Rp 40.000 per kilogram.

Pelaku Usaha Kuliner Merana, Pihak Disperindag Masih Bungkam

Di sisi lain, salah seorang pengunjung setia Pasar 17 Agustus bernama Dina Agustina secara terbuka meluapkan kekagetannya atas lonjakan harga komoditas utama yang dinilainya amat tidak wajar ini. Lebih mengejutkan lagi, ia membocorkan kenyataan bahwa beberapa penjual di area luar pasar bahkan berani melepas harga ayam kampung hingga menembus batas lebih dari Rp 100.000 per ekornya.

Selain itu, wanita konsumen tersebut meyakinkan publik bahwa membeli persediaan di dalam area pasar tradisional sebetulnya masih menawarkan selisih harga yang sedikit lebih miring. Sebab, ia menyaksikan sendiri beberapa pedagang kaki lima di luar kompleks pasar mematok harga yang jauh lebih mencekik hingga menyentuh Rp 105.000 per ekor.

Meskipun Dina menilai penyesuaian tarif ayam ras masih berada dalam garis wajar serta terjangkau kantong masyarakat, ia tak menampik bahwa lonjakan liar ayam kampung telah menghantam keras para pelaku usaha UMKM. Khususnya, para pengusaha kuliner yang bergantung penuh pada daging unggas lokal tersebut kini harus memutar otak menghadapi membengkaknya pengeluaran modal produksi.

Maka dari itu, Dina mengeluhkan realita berat yang kini mencekik para penggiat usaha pengolahan makanan dalam wawancaranya. Ia menegaskan bahwa para pelaku bisnis kuliner lokal mau tidak mau terpaksa merogoh kocek jauh lebih dalam untuk menebus bahan baku utama demi menjaga kelangsungan jualan mereka sehari-hari.

Namun sayangnya, di tengah gelombang keluhan warga yang kian memuncak, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Muharram, justru masih memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan ataupun klarifikasi resmi saat awak media mencoba mengonfirmasinya pada Kamis (5/11/2026).

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *