Cinta-news.com – Dua ledakan dahsyat yang silih berganti mengguncang pangkalan militer Bolivia pada Jumat (4/9/2026) sore, dan hingga detik ini, sebanyak 14 tentara masih dinyatakan hilang tanpa kabar. Peristiwa mengerikan itu tidak hanya merenggut dua nyawa muda, tetapi juga melukai lebih dari 80 orang lainnya yang sebagian besar masih berstatus prajurit magang.
Fasilitas penyimpanan bahan peledak di kota Viacha, yang berpenduduk sekitar 114.000 jiwa dan terletak hanya 30 kilometer di barat daya La Paz, berubah menjadi lautan puing dalam sekejap setelah insiden maut tersebut. Kawasan yang biasanya sepi itu pun langsung berubah drastis menjadi pusat kepanikan, dan warga sekitar berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.
Memasuki hari Sabtu (5/9/2026), suasana di lokasi kejadian masih sangat mencekam karena jalan-jalan di area tersebut dipenuhi oleh puing-puing beton serta pecahan kaca yang berserakan di mana-mana. Jendela-jendela bangunan di sekitar pangkalan hancur berkeping-keping, dan pemandangan itu langsung memperlihatkan betapa dahsyatnya gelombang ledakan yang menerpa pemukiman penduduk. Komandan pangkalan, Kolonel Antonio Amaru, dalam pernyataan resminya yang dikutip dari AFP menyampaikan bahwa pihaknya masih terus melakukan pencarian intensif terhadap 14 personel berseragam yang bertugas di area terdampak. “Kami belum menemukan mereka, dan upaya pencarian terus kami lakukan meski medan reruntuhan sangat menyulitkan,” ujarnya dengan nada prihatin yang mendalam.
Dentuman Maut di Gudang Amunisi, Sebagian Besar Korban Masih Belia
Mayoritas korban ternyata didominasi oleh para peserta wajib militer yang masih sangat belia, dan hal ini tentu menambah duka tersendiri bagi institusi pertahanan Bolivia. Kementerian Pertahanan setempat mengidentifikasi orang-orang hilang sebagai seorang sersan dan 13 orang wajib militer yang rata-rata berusia 18 hingga 19 tahun, sementara dua pemuda yang tewas pun ternyata masih menjalani tahun pertama masa dinas mereka. Kepergian mereka tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga yang ditinggalkan, apalagi usia mereka yang masih sangat muda.
Pihak berwenang memang masih menyelidiki penyebab pasti ledakan yang sempat mengepulkan asap tebal ke langit tersebut, namun proses investigasi di lapangan belum juga membuahkan hasil terang. Di sisi lain, situasi di luar pagar pangkalan justru semakin memanas karena para kerabat yang putus asa berdesakan menghadapi petugas polisi bersenjata lengkap dengan perisai anti huru hara yang tegas menghalangi akses masuk. Tak pelak, gelombang emosi pun meledak di antara mereka yang kalang kabut, dan teriakan histeris pun pecah di depan gerbang utama.
Beberapa warga asli Aymara tampak menangis tersedu-sedu sambil meneriakkan nama-nama orang terkasih mereka kepada para tentara yang berjaga, bahkan tidak sedikit yang nekat berusaha menerobos barikade demi mencari kepastian. Adolfo Copa, salah satu kerabat korban, dengan suara bergetar meluapkan kekesalannya kepada wartawan AFP. “Mereka bahkan belum memindahkan satu batu pun, apalagi semen. Keponakan saya masih terkubur di bawah reruntuhan!” serunya sambil menahan isak tangis yang memilukan.
Irineo Mamani (65) juga turut berbagi keresahan yang sama, dan ia hanya berharap mendapat jawaban jelas tentang nasib putranya yang belum diketahui. “Kami hanya ingin petugas memberi tahu kami apakah anak saya termasuk dalam daftar korban hilang atau tidak. Cuma itu yang kami minta,” ujarnya dengan mata sembab penuh harapan. Permintaan sederhana dari para orang tua ini justru menjadi ujian kesabaran tersendiri di tengah birokrasi evakuasi yang terkesan lamban dan penuh tekanan.
Gelombang Kedua Lebih Dahsyat, Warga Terpental Hingga 5 Meter
Kekuatan ledakan pertama saja sudah cukup untuk merobek atap-atap bangunan, menerbangkan bebatuan besar, hingga mencabut pohon-pohon di sekitar lokasi, apalagi ledakan kedua yang disebut berkekuatan jauh lebih besar. Dampak fisik yang luar biasa ini pun meluas hingga ke puluhan rumah penduduk di sekeliling pangkalan, dan banyak warga kehilangan tempat berlindung dalam sekejap mata tanpa sempat menyelamatkan harta bendanya.
Menteri Pertahanan Ernesto Justiniano memberikan penjelasan awal bahwa ledakan pertama diduga melibatkan bubuk mesiu yang sesuai dengan bahan piroteknik yang biasa tersimpan di fasilitas tersebut. Namun, untuk ledakan kedua yang berkekuatan jauh lebih besar, tim ahli masih menganalisis secara mendalam penyebab pastinya, karena dugaan sementara mengarah pada adanya reaksi kimia tak terduga di dalam gudang amunisi yang memicu ledakan susulan.
Seorang warga sekitar yang mengalami luka cukup parah di wajahnya menceritakan pengalaman mengerikannya kepada surat kabar El Deber. “Ledakan kedua mendorong tubuh saya hingga terpental sejauh lima meter ke belakang!” kenangnya dengan ekspresi masih ketakutan, dan kesaksian itu langsung membuktikan bahwa peristiwa ini benar-benar di luar dugaan siapa pun. Kekuatan ledakan pun disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam satu dekade terakhir di wilayah tersebut.
Presiden Turun Tangan Langsung, Viacha Resmi Berduka Tiga Hari
Presiden Rodrigo Paz pun segera bereaksi cepat terhadap musibah ini, dan ia menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban serta warga terdampak. Melalui unggahan di akun X resminya, presiden menegaskan bahwa dirinya telah memerintahkan penyelidikan yang menyeluruh, teknis, dan transparan untuk mengungkap tragedi ini hingga ke akar-akarnya. “Kita harus menetapkan dengan sangat jelas penyebab kejadian ini, memverifikasi kepatuhan terhadap protokol keselamatan, dan menentukan tanggung jawab apa pun yang mungkin timbul,” tegasnya dengan nada serius dan penuh wewenang.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, pihak berwenang di Viacha resmi menetapkan masa berkabung selama tiga hari, sementara kantor kejaksaan kota setempat sudah bergerak cepat membuka penyelidikan atas kasus pembunuhan dan kejahatan lainnya yang terkait dengan peristiwa ledakan ini. Semua mata kini tertuju pada hasil investigasi, dan publik berharap temuan transparan segera dihasilkan agar kejadian serupa tak terulang lagi di masa mendatang serta para pelaku kelalaian mendapat hukuman setimpal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
