BANDUNG, Cinta-news.com – Warga Bandung kembali dibuat bertanya-tanya setelah dentuman keras menggema di sejumlah titik kota. Suara misterius itu sontak jadi perbincangan hangat, apalagi setelah banyak yang mengaitkannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sedang naik daun di Selat Sunda.
Tenang, menurut para ahli, suara menggelegar itu sama sekali bukan berasal dari aktivitas lokal di daratan Jawa Barat. Lantas, dari mana asalnya? Jawabannya bikin melongo: dentuman itu adalah hasil rambatan gelombang atmosferik berfrekuensi rendah yang dipicu langsung oleh ledakan dahsyat Gunung Anak Krakatau. Ya, energi erupsi yang luar biasa besar itu merambat hingga ratusan kilometer dan nyasar ke langit Bandung!
Apa Kata Ahli? Ini Penjelasan Ilmiah
Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), dengan santai namun tegas memaparkan bahwa fenomena dentuman ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurutnya, suara yang mengguncang Bandung itu murni hasil dari mekanisme infrasound yang tercipta saat Gunung Anak Krakatau meletus.
Prosesnya sungguh mencengangkan! Saat erupsi terjadi, energi termal dan mekanis yang meledak-ledak itu secara mendadak berubah menjadi gelombang kompresi akustik dengan frekuensi super rendah—yang oleh para ilmuwan disebut infrasound. Gelombang ini tidak terdengar oleh telinga manusia biasa, tapi dampaknya terasa nyata.
“Gelombang tekanan ini kemudian terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik atau yang biasa disebut atmospheric waveguide,” jelas Daryono saat dihubungi pada Sabtu (5/9/2026). Efeknya, gelombang suara tidak serta-merta lenyap ditelan angkasa, melainkan ‘terjebak’ di jalur atmosfer tertentu. Akibatnya, energi suara bisa melompat jauh melampaui perkiraan, bahkan sampai ke Bandung yang berjarak ratusan kilometer dari sumber erupsi.
Lalu, bagaimana caranya gelombang infrasound bisa menempuh perjalanan sejauh itu? Daryono menekankan bahwa perjalanan gelombang ini sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang kompleks. Perbedaan suhu dan kecepatan angin di lapisan atas atmosfer memainkan peran vital dalam menentukan arah dan jangkauan gelombang.
Yang menarik, gelombang infrasound tidak menyebar secara sembarangan. Mereka mengikuti jalur bernama atmospheric waveguide yang berfungsi seperti terowongan raksasa di langit. Lewat jalur ini, gelombang merambat dengan redaman yang sangat minim. Bayangkan seperti peluru suara yang melesat tanpa hambatan berarti!
“Dengan redaman atenuasi yang sangat kecil, gelombang ini mampu menabrak permukaan ruang jauh di Bandung dan memicu resonansi mekanis pada struktur ringan seperti kaca jendela,” tambah Daryono. Nah, ini penting dicatat: dentuman yang bikin warga bergidik itu sama sekali tidak berkaitan dengan getaran tanah seperti gempa bumi. Itu murni getaran udara yang cukup kuat untuk menggetarkan benda-benda ringan di permukaan. Jadi, bukan tanah yang bergoyang, tapi udara yang bergetar!
Kenapa Cuma Bandung yang Kebagian ‘Suara’? Ini Rahasianya!
Fenomena ini tentu membuat banyak orang penasaran: mengapa dentuman hanya terdengar di Bandung dan tidak merata di seluruh wilayah? Daryono menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang unik membuat gelombang suara ‘terfokus’ ke wilayah tertentu.
“Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradien temperatur dan wind shear stratosfer,” paparnya. Efeknya, gelombang suara seperti dibelokkan dan melompati daerah-daerah terdekat yang justru menjadi zona sunyi (acoustic shadow zone). Akhirnya, gelombang itu jatuh tepat di jarak fokal Cekungan Bandung. Seolah-olah alam sedang bermain sorotan suara!
Kondisi ini membuat beberapa wilayah tidak menerima gelombang suara sama sekali, sementara Bandung justru mendapat intensitas yang lebih kuat. Bisa dibilang, Bandung lagi jadi ‘panggung’ akustik dadakan dari erupsi Krakatau.
Cekungan Bandung: Panggung Alami Penguat Suara!
Tak hanya faktor atmosfer, bentuk geografis Bandung yang unik juga ikut memperkuat fenomena ini. Daryono menegaskan bahwa topografi cekungan berperan layaknya rongga akustik alami atau acoustic cavity. Cekungan ini memantulkan kembali dan mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik secara lokal.
Artinya, ketika gelombang suara itu masuk ke Cekungan Bandung, dia seperti terperangkap dalam mangkuk raksasa lalu dipantulkan bolak-balik, sehingga efek dentumannya terasa lebih keras dan jelas. Keren, kan, bagaimana alam punya cara sendiri untuk mengatur ‘sound system’-nya?
Waspada! Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga!
Perlu diketahui, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB keesokan harinya. Aktivitas vulkanik ini tergolong intens, dan statusnya masih berada di Level III atau Siaga—status yang sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bahaya vulkanik yang menyertai. Beberapa ancaman yang mengintai antara lain aliran lava yang bisa menyapu area sekitar, lontaran batu pijar yang berbahaya bagi keselamatan, awan panas yang mematikan, serta hujan abu vulkanik yang bisa mengganggu pernapasan dan aktivitas sehari-hari.
Meski dentuman di Bandung terdengar dahsyat, Daryono mengingatkan bahwa ini bukanlah ancaman langsung bagi warga di Jawa Barat. Namun, tetap penting untuk tidak panik dan selalu mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.
Jadi, sudah terjawab sudah misteri dentuman Bandung. Bukan gempa, bukan ledakan lokal, melainkan infrasound dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat melalui atmosfer, terbantu oleh kondisi cuaca dan topografi cekungan yang menguatkan.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa alam masih menyimpan banyak kejutan yang bisa dipelajari secara ilmiah. Dan bagi warga Bandung, mungkin kini mereka bisa sedikit bernapas lega, karena dentuman itu bukan pertanda buruk, melainkan sekadar ‘sapaan suara’ dari abang Krakatau yang sedang bergelora. Tetap tenang, tetap waspada, dan jangan lupa cek info resmi!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
