Cinta-news.com – Konflik panas antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran ternyata tidak hanya bikin harga minyak naik, tapi juga mengerek harga aluminium hingga terbang tinggi. Ya, logam yang satu ini mendadak jadi primadona di pasar global!
Tim Cinta-news mengutip laporan CNBC, Kamis (19/3/2026), harga aluminium bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada pekan lalu. Kok bisa? Ternyata, rantai pasok di kawasan Timur Tengah lagi kacau balau akibat perang.
Padahal, aluminium sebenarnya logam yang paling melimpah di bumi. Tapi jangan salah, perannya super krusial dalam perekonomian global. Mulai dari industri elektronik, transportasi, konstruksi, panel surya, sampai kemasan, semuanya butuh aluminium.
Selat Hormuz Ditutup, Pasokan Langsung Tersendat
Sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari 2026, kontrak berjangka aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) langsung melonjak hingga 10 persen pada 12 Maret. Memang, kenaikannya kemudian sedikit menyusut jadi sekitar 8 persen. Tapi tetap saja, ini kabar gembira buat pemilik saham aluminium!
Apa penyebab utama gangguan pasokan? Ternyata, penutupan Selat Hormuz jadi biang keroknya. Jalur vital perdagangan energi dan komoditas dunia ini benar-benar berdampak langsung terhadap distribusi aluminium. Akibatnya, pasokan tersendat dan harga pun meroket.
Dalam dua pekan terakhir, aluminium mencatatkan diri sebagai logam industri dengan kinerja terbaik. Hingga Rabu (18/3/2026) sore waktu London, harganya bertengger di kisaran 3.370 dollar AS per ton. Angka ini mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Wah, makin panas aja nih!
Smelter Raksasa Bahrain Pangkas Produksi, Ancaman Kelangkaan Makin Nyata
Tekanan pasokan juga datang dari sisi produksi. Perusahaan aluminium Bahrain, Aluminium Bahrain (Alba), yang mengoperasikan smelter terbesar di dunia, terpaksa memangkas produksi sekitar 19 persen dari total kapasitas tahunan 1,6 juta ton. Keputusan ini jelas memperkuat kekhawatiran akan potensi kelangkaan aluminium di pasar global.
Lembaga riset CRU Group bahkan mengeluarkan prediksi mengejutkan. Jika gangguan pasokan berlanjut dan stok tetap rendah, harga aluminium berpotensi menembus 4.000 dollar AS per ton. Angka ini jelas bikin para pelaku pasar semakin waspada.
Guillaume Osouf, analis utama CRU, mengungkapkan bahwa harga aluminium sebenarnya bisa lebih tinggi saat ini kalau tidak tertahan oleh lemahnya permintaan global. Ia menambahkan, konflik berkepanjangan berpotensi mengubah proyeksi pasar sepanjang tahun. Baik dari sisi pasokan maupun permintaan, semuanya bisa berubah drastis.
China Pegang Kunci, Bisa Banjiri Pasar Kapan Saja
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru berpesta! Arah harga aluminium ke depan ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan China. Negara ini merupakan produsen aluminium terbesar di dunia. Produksinya biasanya dibatasi sekitar 45,5 juta ton per tahun untuk mengendalikan emisi dan mencegah kelebihan kapasitas.
Artem Volynets, CEO ACG Metals, menyatakan bahwa pemerintah China sebenarnya punya ruang untuk menambah pasokan. Mereka bisa mengaktifkan kembali smelter yang tidak beroperasi jika harga dinilai terlalu tinggi. “Jika China membuka kembali kapasitas yang menganggur, pasokan aluminium global bisa melimpah,” ujarnya dengan tegas.
Skenario ini jelas bisa mengubah permainan. Jika China benar-benar menambah pasokan, harga aluminium bisa kembali terkoreksi. Jadi, para investor harus jeli membaca situasi.
Investor Mulai Rajin, Tapi Raksasa Keuangan Masih Santai
Meski harga aluminium melonjak, para analis menilai logam ini belum menarik bagi investor ritel seperti halnya perak atau tembaga. Mengapa demikian? Volynets bahkan mengaku akan terkejut jika investor ritel mulai masuk ke pasar aluminium. Sifatnya yang sangat industrial membuat logam ini kurang diminati kalangan ritel.
Sementara itu, Osouf menilai partisipasi dana investasi masih terbatas sejak konflik dimulai. Posisi beli (long) hanya sedikit lebih rendah dibandingkan akhir Januari. Menariknya, posisi jual (short) justru meningkat sekitar 15.000 lot. Artinya, sebagian investor mulai bertaruh harga aluminium akan turun ke depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meski harga sedang melambung, sentimen pasar justru mulai terbelah. Sebagian optimis harga akan terus naik, sebagian lagi pesimis dan memilih bertaruh pada penurunan.
Jadi, apa kesimpulannya? Perang Iran benar-benar mengacak-acak pasar aluminium global. Harga melonjak, pasokan terganggu, dan masa depan masih penuh ketidakpastian. Para pelaku pasar harus siap-siap menghadapi volatilitas yang tinggi.
Yang jelas, situasi ini mengajarkan kita bahwa konflik geopolitik bisa berdampak luas, tidak hanya pada minyak tapi juga komoditas lain seperti aluminium. Bagi yang bermain di pasar komoditas, ini saatnya untuk lebih cermat membaca situasi.
Apakah harga akan terus naik atau justru turun? Semuanya tergantung pada perkembangan konflik dan kebijakan China. Satu hal yang pasti, pasar aluminium sedang tidak membosankan saat ini. Jadi, pantau terus perkembangannya ya!
Buat kamu yang penasaran dengan pergerakan harga aluminium, jangan lupa untuk selalu update informasi. Siapa tahu kamu bisa cuan dari situasi ini. Tapi ingat, investasi selalu punya risiko, jadi tetap waspada dan jangan serakah ya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
