Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kondisi Ebola di RD Kongo Memburuk, WHO Naikkan Level Risiko Jadi Paling Tinggi

Cinta-news.com — Wah, kabar mengejutkan datang dari Afrika! Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menaikkan level risiko wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) ke level paling tinggi. Keputusan drastis ini diambil setelah jumlah kasus dan kematian terus bertambah secara mengkhawatirkan.

Keputusan berani itu diumumkan langsung oleh WHO pada Jumat (22/5/2026). Di saat yang sama, petugas kesehatan di lapangan sedang kewalahan mengejar penyebaran virus yang diduga sudah beredar tanpa terdeteksi selama beberapa minggu terakhir. Sungguh situasi yang mencekam!

Angka Kematian Meningkat, Ratusan Kasus Suspek Masih Diperiksa

Hingga saat ini, RD Kongo mencatatkan 82 kasus terkonfirmasi Ebola dan tujuh kematian terkonfirmasi, seperti yang dilaporkan AFP pada Sabtu (23/5/2026). Namun, yang lebih mengerikan adalah laporan WHO yang menyebutkan hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian suspek yang masih dalam proses penelusuran. Bayangkan, angka sebenarnya bisa jauh lebih besar!

Yang membuat situasi semakin pelik, wabah kali ini disebabkan oleh strain Ebola Bundibugyo. Jenis Ebola ini lebih jarang ditemukan dan sampai sekarang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui. WHO pun kini memprioritaskan sejumlah terapi eksisting untuk diuji efektivitasnya melawan strain mematikan ini.

Wilayah Tidak Aman Jadi Tantangan Berat bagi Petugas

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan dengan gamblang bahwa situasi di DRC sangat menantang. Petugas kesehatan harus melacak penyebaran virus di wilayah yang tidak aman—konflik dan kerusuhan masih mewarnai beberapa zona penyebaran.

Selain itu, tim medis juga harus menemukan dan memantau setiap kontak erat dari orang yang diduga terinfeksi. “Kita tahu epidemi di DRC jauh lebih besar dibandingkan jumlah kasus terkonfirmasi,” tegas Tedros kepada wartawan di markas WHO Jenewa. Pernyataan ini jelas membuat kita semua harus waspada.

Kabar Baik dari Uganda, Warga AS Positif Ebola Dievakuasi

Sementara itu, situasi di Uganda relatif lebih stabil setelah dua kasus terkonfirmasi ditemukan pada pelancong dari DRC. Uganda juga melaporkan satu kematian terkait wabah tersebut. Menurut Tedros, pelacakan kontak yang dilakukan secara intensif tampaknya berhasil mencegah penyebaran lebih lanjut di negara tetangga itu. Ini kabar melegakan di tengah badai wabah.

Namun, kabar lain datang dari warga negara Amerika Serikat yang bekerja di DRC. Ia dinyatakan positif Ebola dan telah dipindahkan ke Jerman untuk menjalani perawatan intensif. Tedros juga menyebutkan bahwa warga negara AS lain yang termasuk kontak berisiko tinggi telah dipindahkan ke Republik Ceko untuk diamankan.

Rwanda Tutup Pintu, Belanda Isolasi Pasien Suspek

Pemerintah Rwanda bergerak cepat! Kementerian Kesehatan Rwanda mengumumkan bahwa warga negara asing yang melakukan perjalanan melalui DRC akan ditolak masuk. Kebijakan tegas ini diambil untuk mencegah masuknya virus. Warga Rwanda dan pemegang izin tinggal tetap masih diizinkan masuk, tetapi mereka harus menjalani karantina wajib sesuai protokol kesehatan.

Di Belanda, Rumah Sakit Universitas Radboud menyatakan telah menerima seorang pasien dengan tingkat kecurigaan rendah terhadap Ebola. Meski risikonya rendah, pasien tersebut langsung diisolasi sambil menunggu hasil pemeriksaan diagnostik. Kewaspadaan maksimal memang diperlukan!

Virus Menyebar Diam-diam, WHO Naikkan Risikonya

Ebola adalah penyakit virus mematikan yang menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang terinfeksi. Virus ini dapat menyebabkan pendarahan hebat hingga kegagalan organ—benar-benar mimpi buruk!

Menyikapi perkembangan ini, WHO menaikkan tingkat risiko untuk DRC dari tinggi menjadi sangat tinggi. Namun, tingkat risiko regional masih dipertahankan pada level tinggi, sementara risiko global tetap rendah. Penilaian risiko ini sangat penting untuk menentukan potensi dampak ancaman serta langkah respons yang diperlukan.

Direktur kesiapsiagaan dan respons darurat WHO, Abdi Rahman Mahamud, memperingatkan, “Potensi penyebaran virus ini dengan cepat sangat tinggi, dan itu mengubah seluruh dinamika.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kita sedang menghadapi ancaman serius yang bisa meledak kapan saja.

Pelacakan Kontak Jadi Kunci, Vaksin Belum Ada

Perwakilan WHO di RD Kongo, Anne Ancia, memperkirakan jumlah kasus kemungkinan masih akan meningkat sampai seluruh operasi respons dapat berjalan penuh. Menurut Ancia, virus tersebut telah menyebar diam-diam selama beberapa pekan terakhir—dan yang lebih menakutkan, penularan belum bisa dikendalikan.

“Kita sedang berlari kencang,” kata Ancia, menggambarkan upaya tim medis untuk mengejar ketertinggalan. Ketiadaan vaksin dan pengobatan membuat pelacakan kontak menjadi langkah paling penting. Setiap kontak berisiko harus ditemukan dan diisolasi selama 21 hari. Ini pekerjaan raksasa di medan yang sulit!

Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Yakub Janabi, menjelaskan bahwa Ebola memiliki fase awal yang tenang karena gejalanya dapat menyerupai malaria atau tifus. Kondisi ini membuat penularan dapat berlangsung tanpa terdeteksi—seperti “silent killer” yang tidak terlihat.

Menariknya, Ancia menilai peningkatan jumlah kasus pada tahap ini justru bisa menjadi pertanda bahwa pengawasan dan pencarian kasus mulai berjalan aktif. Artinya, sistem deteksi mulai bekerja meskipun masih tertinggal dari penyebaran virus.

Uji Coba Pengobatan Dimprioritaskan WHO

Strain Ebola Bundibugyo sebelumnya hanya pernah menyebabkan dua wabah besar: di Uganda pada 2007 dan di DRC pada 2012. Kini, ancaman serupa muncul kembali dengan potensi lebih luas.

Kepala ilmuwan WHO, Sylvie Briand, menjelaskan bahwa WHO kini memprioritaskan seluruh alat medis yang berpotensi membantu respons wabah. Karena belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk Bundibugyo, tim ahli bergerak cepat.

Kelompok penasihat teknis WHO telah memprioritaskan dua antibodi monoklonal untuk uji klinis: Regeneron 3479 dan MBP134 dari Mapp Biopharmaceutical. Kelompok tersebut juga merekomendasikan evaluasi obat antivirus oral obeldesivir dalam uji klinis sebagai profilaksis pascapajanan bagi kontak berisiko tinggi.

Briand mengatakan obat itu tampak menjanjikan karena berpotensi mencegah orang yang sudah terpapar virus berkembang menjadi sakit. Bayangkan, jika berhasil, ini bisa menjadi “perisai” bagi para petugas kesehatan dan kontak erat!

Vaksin Ervebo Tak Mempan, Vaksin Baru Butuh Waktu 9 Bulan

Sayangnya, vaksin Ervebo yang dikenal efektif terhadap strain Ebola Zaire tidak bisa diandalkan untuk Bundibugyo. Briand menyebut bukti perlindungan silang vaksun tersebut terhadap Bundibugyo masih sangat terbatas.

Sebenarnya, vaksin khusus untuk Bundibugyo telah dikembangkan. Namun, Briand memperingatkan bahwa proses pengembangannya tetap dapat memakan waktu enam hingga sembilan bulan meskipun telah diprioritaskan. Itu berarti kita masih harus menunggu cukup lama sebelum vaksin siap digunakan.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version