Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Kapal Tanker Meledak Usai Terjang Ranjau

TEHERAN, Cinta-news.com — Sebuah kapal tanker pengangkut minyak nekat menerobos perairan terlarang hingga akhirnya langsung meledak hebat dan terbakar membara tepat di kawasan Selat Hormuz usai menyenggol ranjau bawah laut pada Senin (19/10/2026).

Selanjutnya, pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) mendadak mengumumkan petaka membara ini sebagai episode kekacauan paling gres, terutama semenjak rezim Teheran makin memperketat cengkeraman kekuasaan mereka di jalur laut paling strategis sejagat tersebut.

Oleh sebab itu, perwakilan IRGC menegaskan kepada media resmi Pemerintah Iran bahwa ada satu kapal tanker nakal yang dengan sengaja melanggar batas aturan perairan, lalu kapal itu menabrak ranjau laut misterius di sisi selatan Selat Hormuz yang seketika menghancurkan sekaligus membakar habis area kamar mesinnya.

Bahkan, dalam rilis pers yang sama, pihak Garda Revolusi membongkar fakta bahwa armada tanker raksasa itu memang sengaja memilih rute gelap nan ilegal di wilayah selatan sembari dengan licik mematikan seluruh perangkat navigasi beserta pemosisian otomatisnya.

Memang, keputusan super tegas dari militer Iran ini meluncur persis setelah adanya peringatan berapi-api yang dilontarkan oleh Panglima Angkatan Laut IRGC, Laksamana Ali Ozmaei, pada pekan sebelumnya.

Pasalnya, sang panglima kala itu telah menegaskan ancaman fatal bahwa pihak militer Iran bakal langsung menganggap armada kapal mana pun yang berani mematikan radar navigasinya sebagai kubu musuh yang siap dihancurkan.

Rentetan Bencana Serupa yang Membakar Perairan

Namun ternyata, petaka ledakan kapal yang menggemparkan ini cuma berselang beberapa hari saja setelah militer Garda Revolusi mengabarkan insiden mengerikan serupa, di mana dua kapal tanker raksasa lainnya juga ikut hangus terbakar di Selat Hormuz akibat menerjang ranjau yang mematikan.

Tak main-main, salah satu armada yang ludes terhantam ledakan tersebut ternyata sedang membawa muatan jumbo berupa minyak mentah yang jumlahnya menembus lebih dari dua juta barel pada Sabtu (17/10/2026).

Malahan, Garda Revolusi Iran kembali menegaskan lewat pernyataan pedasnya bahwa supertanker membandel yang nekat mengangkut muatan raksasa dua juta barel minyak mentah itu berupaya menyusup secara ilegal melalui Selat Hormuz sebelum akhirnya menyenggol ranjau hingga memicu ledakan dahsyat yang menyemburkan api membumbung tinggi.

Meski begitu, pihak militer IRGC sampai detik ini masih memilih bungkam dan menolak membeberkan koordinat lokasi yang persis mengenai titik di mana supertanker tersebut terhempas ledakan ranjau.

Akan tetapi, mereka malah secara terbuka melemparkan tuduhan panas bahwa armada tanker penjahat itu sebenarnya nekat melintas karena mendapatkan kawalan alias sokongan penuh dari militer Amerika Serikat (AS).

Oleh karena itu, Garda Revolusi Iran yang dikutip oleh kantor berita AFP menambahkan penjelasan bahwa kapal tanker tersebut sengaja bertindak nekad menyeberangi celah laut sempit dengan bantuan sekutu AS sembari memadamkan seluruh sistem pemantau posisi agar tak terdeteksi.

Guna memperkuat klaim heboh tersebut, pihak IRGC secara bersamaan langsung menyebarkan rekaman video dramatis yang memperlihatkan detik-detik sebuah kapal raksasa sedang diselimuti kobaran api membara di tengah kegelapan malam.

Bara Panas di Selat Hormuz Makin Tak Terkendali

Memang, situasi keamanan di koridor laut Selat Hormuz kian mendidih membara sejak militer Iran mengambil alih kekuasaan penuh atas jalur air tersebut pasca pecahnya konfrontasi bersenjata melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel pada penghujung Februari 2026.

Sebab, kecamuk perang terbuka ini sukses melumpuhkan rute pelayaran internasional yang sejatinya menjadi urat nadi utama bagi lalu lintas satu perlima total pasokan minyak di seluruh penjuru dunia.

Maka dari itu, semenjak menggenggam kendali penuh di perairan tersebut, pemerintah Iran langsung memberlakukan aturan main yang sangat ketat dengan mewajibkan setiap kapal asing untuk meminta izin resmi terlebih dahulu sebelum berani melintas.

Sebagai balasannya, pihak pemerintah Amerika Serikat yang geram melihat tindakan Teheran menutup akses Selat Hormuz langsung menggelar aksi blokade tandingan menggunakan kekuatan Angkatan Laut mereka demi menghentikan seluruh aktivitas ekspor minyak milik Iran.

Bahkan, kalau menilik hasil analisis mendalam dari BBC Verify terhadap laporan lembaga pengawas maritim Inggris yaitu UK Maritime Trade Operations (UKMTO), ada sekitar 12 kapal komersial yang dilaporkan menjadi korban serangan brutal sepanjang rentang tanggal 5 sampai 11 Oktober 2026.

Jelas saja, angka insiden ini langsung melonjak jadi rekor pertempuran mingguan paling kelam sejak awal mula perang meletus, sekaligus sukses melampaui catatan 10 kasus serangan yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Bahkan lebih mengejutkan lagi, koran BBC pada Jumat (16/10/2026) melaporkan bahwa ada enam kapal komersial yang sekaligus dihantam serangan cuma dalam kurun waktu satu hari saja pada Minggu (11/10/2026), yang mana angka ini tercatat sebagai rekor harian paling mengerikan dalam sejarah pengawasan UKMTO.

Di sisi lain, tim pengawas maritim juga terus mencatat adanya empat laporan insiden serangan susulan yang terjadi sepanjang jalannya pekan lalu.

Pada akhirnya, para pengamat geopolitik menyimpulkan bahwa lonjakan aksi saling tembak ini berkaitan erat dengan ambisi Iran yang ingin mempertahankan hegemoninya di Selat Hormuz, sementara di saat yang bersamaan militer AS juga makin gencar mengawal ketat kapal-kapal dagang yang berusaha menembus koridor bahaya tersebut.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version