MANADO, Cinta-news.com — Kobaran api yang melahap kawasan Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, masih menjadi momok mengerikan bagi warga dan petugas gabungan. Sejak pertama kali menyala pada Minggu (2/8/2026), tim gabungan terus berjibaku memadamkan api yang kian membesar bagaikan ular naga yang tidak kenal lelah.
Berdasarkan pantauan terkini melalui sistem pemetaan satelit Sipongi, luas area yang sudah menjadi korban keganasan api diperkirakan mencapai angka fantastis—713 hektare! Bayangkan, hampir 1.000 lapangan sepak bola hangus terbakar dalam waktu singkat!
Kepala Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Rainier Dondokambey, mengungkapkan data sementara yang cukup mengkhawatirkan. Dari total 713 hektare yang terdakwa, sekitar 700 hektare di antaranya merupakan kawasan hutan lindung yang seharusnya menjadi paru-paru kehidupan, sementara 13 hektare sisanya berada di luar kawasan hutan yang tidak kalah memprihatinkan.
“Perkiraan sementara berdasarkan titik panas dari peta satelit Sipongi mencapai kurang lebih 713 hektare,” jelas Rainier saat ditemui di posko darurat, Kamis (6/8/2026). “Tim kami hari ini juga sedang melakukan pengukuran langsung di lapangan agar datanya lebih akurat dan komprehensif,” tambahnya dengan nada penuh harap.
Namun, angka tersebut masih bersifat dinamis dan bisa saja bertambah karena tim pengukur masih berjuang di medan yang sulit untuk mendapatkan data yang lebih presisi.
Upaya Heroik Membuat Sekat Api di Garis Depan Perkebunan Warga
Meskipun kobaran api belum menjangkau pemukiman penduduk, ancaman tetap membayangi karena titik api diketahui berada sangat dekat dengan lahan perkebunan milik warga. Untuk mencegah bencana yang lebih luas, tim gabungan bahu-membahu membuat sekat-sekat api di berbagai titik strategis.
“Aksi nyata yang langsung kami lakukan bersama TNI dan Polri adalah membangun sekat-sekat api di perbatasan dengan kebun masyarakat,” ujar Rainier dengan tegas. “Langkah ini kami ambil agar api tidak merambat lebih jauh ke area perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga,” lanjutnya.
Bak garis pertahanan terakhir, sekat-sekat api ini menjadi benteng pamungkas yang melindungi ladang dan kebun warga dari amukan si jago merah yang terus mengancam.
Medan Ekstrem: Mobil Pemadam Tak Berdaya, Jet Shooter Jadi Andalan
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi petugas di lapangan adalah kondisi topografi Gunung Soputan yang tergolong ekstrem. Medan berbukit dengan kemiringan curam membuat kendaraan pemadam kebakaran roda empat sama sekali tidak berdaya menjangkau titik-titik api yang berada di ketinggian.
Ketika mobil-mobil pemadam harus berhenti di kaki bukit dan hanya bisa memutar roda tanpa arah, petugas Manggala Agni bersama Dinas Kehutanan Provinsi mengambil alih perjuangan dengan peralatan pemadam portabel bernama jet shooter.
“Topografi di Soputan sangat berat sehingga kendaraan pemadam tidak bisa masuk sampai ke titik api,” jelas Rainier sambil menggeleng. “Karena itu, kami mengandalkan jet shooter yang dibawa langsung oleh petugas menuju kepala api. Mereka harus berjalan kaki menembus semak dan tebing curam,” tambahnya dengan nada haru.
Dengan semangat pantang menyerah, para petugas bahu-membahu menggotong peralatan seberat puluhan kilogram melewati jalan setapak yang licin dan terjal demi memadamkan titik-titik api yang terus bermunculan.
Water Bombing Terganjal Birokrasi, Status Tanggap Darurat Masih Ditunggu
Pertanyaan besar muncul di benak masyarakat: mengapa pesawat water bombing belum diterjunkan? Ternyata, ada mekanisme administratif yang harus dilalui sebelum pesawat pemadam bisa mengudara.
Pemerintah masih menunggu penetapan status tanggap darurat bencana dari pemerintah daerah sebagai syarat mutlak untuk mengoperasikan water bombing. Tanpa status resmi ini, pesawat pemadam hanya bisa diam di hanggar menunggu panggilan.
“Penggunaan water bombing harus melalui mekanisme kebencanaan yang berlaku,” ungkap Rainier dengan hati-hati. “Setelah ada penetapan status tanggap darurat sesuai prosedur, gubernur akan mengusulkan kepada BNPB untuk pemadaman melalui pesawat ataupun modifikasi cuaca,” terangnya.
Sambil menunggu birokrasi berproses, petugas di lapangan terus berjuang dengan peralatan seadanya melawan api yang tak kunjung padam. Doa masyarakat pun menjadi kekuatan tambahan bagi para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Ilalang dan Pinus: Vegetasi yang Terbakar
Dari pengamatan visual di lapangan, vegetasi yang terbakar didominasi oleh padang ilalang yang kering dan mudah menyala seperti sumbu petasan. Di beberapa lokasi, terlihat pula pohon pinus yang merupakan hasil program rehabilitasi kawasan pascaerupsi Gunung Soputan beberapa tahun silam.
“Secara visual, memang ilalang yang paling mendominasi,” tutup Rainier dengan nada prihatin. “Jika ada pohon pinus yang terbakar, itu merupakan bagian dari kegiatan rehabilitasi sebelumnya yang kini harus kita saksikan hangus dimakan api,” pungkasnya dengan berat hati.
Hingga berita ini diturunkan, kobaran api masih terus berasap di beberapa titik dan petugas gabungan tidak henti-hentinya bekerja shift bergantian untuk menjinakkan amukan api yang mengancam kelestarian alam Sulawesi Utara. Masyarakat pun diimbau untuk turut waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran baru di musim kemarau yang kian menyengat ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
