Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Korea Selatan Hadapi Suhu Rekor 42,5°C, Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Cinta-news.com – Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, dengan tegas mengimbau seluruh jajaran aparatur negara agar segera meningkatkan bantuan dan dukungan bagi warga yang kini terpanggang oleh gelombang panas ekstrem yang melanda negeri Ginseng tersebut pada Selasa (4/8/2026). Lebih lanjut, pemimpin negeri itu secara resmi menetapkan fenomena suhu menyengat ini sebagai bencana nasional, terlebih setelah cuaca terik ini secara langsung dikaitkan dengan kematian 19 orang di berbagai wilayah Korea Selatan.

Ketika berbicara dalam rapat kabinet yang berlangsung serius, Presiden Lee Jae Myung dengan keras memerintahkan para pejabat terkait untuk segera mengambil langkah-langkah taktis guna melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat dari ancaman panas yang kian membara. Selain itu, ia pun menginstruksikan agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada sistem kelistrikan nasional, mengingat lonjakan permintaan penggunaan pendingin udara (AC) yang kini melonjak drastis di tengah teriknya suhu.

“Kekhawatiran yang bahkan lebih besar adalah kondisi cuaca abnormal ini membuatnya sangat mungkin bahwa cuaca ekstrem akan terus berlanjut untuk jangka waktu yang cukup lama,” ujar Lee Jae Myung dengan nada prihatin. Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menginginkan adanya perombakan besar-besaran pada sistem tanggap bencana agar mampu mengatasi kondisi cuaca ekstrem yang kini semakin membahayakan keselamatan jiwa warga.

Rekor Suhu Terpanas dalam 122 Tahun!

Badan Meteorologi Korea (KMA) dengan mengejutkan melaporkan bahwa Kota Yangsan, sebuah kota pedalaman di bagian tenggara yang terletak di kawasan cekungan, mencatat suhu menyentuh angka 42,5 derajat Celsius pada Minggu (2/8/2026). Angka ini, menurut para ahli, merupakan rekor suhu tertinggi yang pernah terukur sepanjang 122 tahun sejarah pengamatan cuaca di Korea Selatan. Sungguh mencengangkan!

Tidak berhenti di situ, KMA pun dengan cepat mengeluarkan peringatan gelombang panas pertama untuk sebagian wilayah Seoul dan provinsi tetangga, Gyeonggi, pada Senin (3/8/2026). Status peringatan ini kemudian diperluas ke seluruh wilayah ibu kota Seoul pada Selasa (4/8/2026). Melalui peringatan ini, masyarakat diimbau agar menghentikan sementara berbagai aktivitas di luar ruangan, mulai dari kegiatan pertanian, olahraga, hingga pekerjaan di lokasi konstruksi yang berisiko tinggi.

Warga Lansia dan Pemukiman Kumuh Paling Terdampak

Kondisi cuaca panas ekstrem ini benar-benar melumpuhkan kehidupan sehari-hari warga, terutama kaum lanjut usia (lansia) dan penduduk di permukiman padat yang kerap kesulitan mengakses pendingin ruangan. “Saya belum pernah merasakan panas seperti ini selama berada di sini,” keluh Cho Sang-yeon, seorang warga yang telah tinggal hampir 20 tahun di permukiman jjokbang, kawasan perumahan kamar tunggal berbiaya murah di Distrik Yeongdeungpo, Seoul barat. Ucapannya menggambarkan betapa teriknya suhu yang melanda kawasan tersebut.

Pemerintah setempat pun bergerak cepat dengan memindahkan sejumlah warga ke hunian sementara yang dilengkapi dengan pendingin udara. Meskipun demikian, masih banyak tuna wisma yang terlunta-lunta di kawasan tersebut tanpa perlindungan memadai dari sengatan matahari. “Saya merasa kasihan melihat orang-orang tuna wisma yang menderita akibat panas di jalanan,” tutur Son Ki-young, seorang warga setempat dengan mata berkaca-kaca.

Otoritas pemadam kebakaran dan pejabat terkait pun terus berupaya melakukan mitigasi dampak gelombang panas ekstrem di ibu kota. “Petugas pemadam kebakaran dan pejabat lainnya telah menyemprotkan air di jalan-jalan di area tersebut dan secara rutin memeriksa warga yang rentan terhadap penyakit akibat panas,” jelas Jun Hong-cheol, seorang pejabat di Stasiun Pemadam Kebakaran Yeongdeungpo. Upaya ini dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak lagi.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Berdasarkan data resmi dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada Selasa (4/8/2026), jumlah korban jiwa akibat gelombang panas ini telah meningkat menjadi 19 orang. Sungguh memilukan, dari total korban meninggal dunia tersebut, sebanyak 13 orang di antaranya berusia 80 tahun ke atas. Kelompok rentan ini ternyata paling sulit bertahan menghadapi suhu ekstrem yang tak biasa.

Selain korban jiwa, data KMA menunjukkan bahwa sejak 15 Mei 2026, sebanyak 2.025 orang di seluruh penjuru negara mengalami penyakit akibat cuaca panas, mulai dari kelelahan panas hingga heatstroke yang mengancam nyawa. Angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring dengan belum redanya gelombang panas yang melanda.

Gangguan pada Agenda Olahraga Nasional

Dampak gelombang panas ekstrem ini ternyata juga menyebabkan gangguan pada agenda olahraga nasional. Menurut situs resmi Organisasi Bisbol Korea (KBO), dua pertandingan bisbol yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa di Seoul dan Gwangju terpaksa dibatalkan. Keputusan ini diambil karena suhu panas dinilai terlalu membahayakan para atlet dan penonton yang akan hadir. Demi keselamatan bersama, pertandingan pun ditunda hingga kondisi cuaca membaik.

Dengan segala upaya yang dilakukan, pemerintah Korea Selatan berharap masyarakat dapat segera melewati masa sulit ini. Namun, peringatan dari Presiden Lee Jae Myung tentang kemungkinan cuaca ekstrem berlanjut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata yang membutuhkan kesiapsiagaan semua pihak.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version